Bangjo: abang (merah), ijo (hijau), atau lampu lalu lintas, tak memperlihatkan gemerlap. Ia adalah pusat keramaian, setidaknya bagi orang-orang yang lalu lalang.
Bangjo memaksa kita berhenti sejenak. Memastikan kita tepat pada arah tujuan tanpa tabrakan.
Bangjo menjadi penanda di antara deru mesin dan klakson yang tak sabar. Di titik itulah orang diketuk untuk merapikan pikiran. Di Bangjo Kartosuro, titik mula ditentukan.
Jika ke arah barat, tugu menunggu, sebuah awal mulanya percabangan perjalanan. Jika ke utara, kita menemui jalan lebar yang mudah berlubang. Jika ke timur, jalan dua arah yang tak mau sepi. Kalau ke arah selatan, keramaian menyeruak berdempetan.
Empat jalan itu tak ada yang buntu; selalu ramai. Tapi gema ramai itu menyisakan tanda tanya.
Ada satu tangan halus tampak di sana. Tangan yang memantulkan suara-suara permohonan. Tangan ini tak bersuara, tak seperti deru knalpot, pengeras suara masjid, lonceng gereja, atau angin yang mengalun bergerak ke angkasa namun tak sampai ke telinga.
Tangan itu tanpa gerak, tetap. Tak ada goyangan sedikit pun. Pergelangannya lurus. Uratnya menyembul bagaikan akar serabut. Kulitnya cokelat langsat, dan jemarinya mencorong bagaikan perahu Nabi Nuh.
Pada 2016, saya melihat, tangan ini tak secokelat itu. Langit mungkin telah mengubahnya, warnanya menjadi agak legam, tapi bobot penderitaan dan harapannya tetap sama.
Barangkali tangan ini sudah letih, seletih kedipan lampu bangjo yang bekerja tanpa henti 24 jam.
Bangjo dan satu tangan ini bukanlah suatu keganjilan. Justru sesungguhnya ia adalah cermin sosial. Bangjo bisa jadi alat pengatur lalu lintas, bisa jadi pula gambaran suatu kehidupan yang menimbulkan ribuan pertanyaan.
Lalu, apakah lampu hijau tanda kehidupan melaju? Jika satu tangan masih tetap ada di tempat yang sama dan menunggu berhentinya lalu lintas berikutnya, maka pertanyaan-pertanyaan lain akan muncul.
Di bangjo, kita mungkin pernah gelisah dan terburu-buru mengejar tujuan-tujuan. Tapi pada tangan yang tak ikut melaju itu, akhirnya terabstraksi di pikiran kita sebuah perasaan yang sering kali tiba-tiba membuat dua kelopak mata menghangat.
Ya, di persimpangan itu, orang menyebut kemajuan dan kemelaratan berdiri bersama. Ada yang benar-benar saling menyapa, ada pula yang membuang muka. Kita kadang pura-pura sibuk dengan benda-benda di sekitar kita, menyesuaikan spion, mengelap baju atau melakukan apa saja asal tidak perlu beradu tatap.
Tapi itu bukan masalah. Tergantung apakah mata kita menganggap hal itu merusak wajah kota atau justru menjadi landasan untuk menumbuhkan roso (rasa).
Di bangjo, kita sering melihat tangan mengetuk bilik kaca mobil yang tertutup rapat. Barangkali, itu jugalah yang mengetuk pintu hati kita yang sering kali terkunci keras.
Ketukan tangan bergaris pecah-pecah pada kaca jendela kita itu adalah melodi paling sedih. Setidaknya, bagi kita sebagai manusia.

