Demak — Nahdlatul Ulama (NU) dinilai memiliki peran strategis dalam merawat dan menguatkan masyarakat sipil di Indonesia. Selama ini, warga NU di tingkat akar rumput kerap mengisi ruang-ruang sosial yang belum sepenuhnya dijangkau negara, mulai dari pendidikan keagamaan, layanan sosial, hingga pengelolaan rumah ibadah di wilayah pedesaan dan daerah pinggiran.

Peran tersebut mengemuka dalam Forum Kader Nahdlatul Ulama Jawa Tengah ke-5 yang digelar di Pendopo Rumah Dinas Ketua DPRD Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Kamis (8/1/2026). Forum ini diselenggarakan oleh Lakpesdam PWNU Jawa Tengah sebagai bagian dari persiapan Muktamar Ilmu Pengetahuan ke-4 Tahun 2026.

Kegiatan tersebut difasilitasi Tim Peneliti FISIP Universitas Diponegoro yang dipimpin Dr. Laila Kholid Alfirdaus, M.PP., bersama Dr. Mayadina Rohmi Musfiroh dari UNISNU Jepara. Keduanya mendampingi peserta dalam diskusi isu-isu strategis masyarakat sipil berbasis Islam serta memfasilitasi diskusi kelompok.

Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Tengah, M. Zainal Anwar, mengatakan forum ini menjadi ruang untuk menghimpun pengalaman nyata warga dan kader NU dalam merawat civic culture di berbagai sektor kehidupan.

“Forum ini mempertemukan kader lintas cabang di wilayah Pantura Jawa Tengah sekaligus menjadi ruang belajar bersama dari praktik-praktik yang selama ini dijalankan warga NU, baik yang berhasil maupun yang menemui kegagalan,” ujarnya.

Menurut Zainal, pengalaman tersebut akan didokumentasikan sebagai bahan penyusunan buku tentang redefinisi NU sebagai aktor masyarakat sipil.

Ketua DPRD Kabupaten Demak, H. Zayinul Fata, S.E., menyambut baik pelaksanaan forum tersebut. Ia menilai forum ini penting sebagai ruang refleksi dan pertukaran pengalaman sosial warga NU.

“Diskusi dan penggalian cerita lokal seperti ini penting untuk menunjukkan bagaimana NU berperan sebagai organisasi masyarakat sipil yang mendorong pemberdayaan sekaligus pelayanan kepada masyarakat,” kata Zayinul.

Forum ini diikuti 35 peserta dari Lakpesdam PCNU Demak, Blora, Batang, Kabupaten Pekalongan, Kota Semarang, Kota Salatiga, Jepara, dan Pati. Para peserta berbagi pengalaman praktik NU dalam isu sosial, ekonomi, lingkungan, hingga advokasi kebijakan publik.

Perwakilan Lakpesdam Blora, Nur Yakin, memaparkan praktik pertanian organik warga NU dengan pendampingan LPPNU yang didukung Pemerintah Kabupaten Blora. “Ada sinergi antara inisiatif warga dan kebijakan pemerintah daerah,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya mendokumentasikan praktik-praktik lokal agar NU dipahami sebagai aktor masyarakat sipil yang bekerja secara konkret.

Sementara itu, Marwi dari Lakpesdam Kota Semarang menyoroti pentingnya dialog dengan kiai kampung sebagai otoritas keagamaan lokal, dengan teologi Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai landasan tindakan sosial. Ia mencontohkan kerja kemanusiaan NU saat pandemi Covid-19 melalui layanan kematian bersama Fatayat NU.

Ketua Lakpesdam Batang, Aminuddin, menekankan relevansi konsep mabadi khoiro ummah dan maqashid asy-syariah dalam praktik masyarakat sipil NU. Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi pegangan etis dalam advokasi sosial dan kebijakan. Ia juga menilai identitas NU memiliki daya pengaruh kuat di ruang publik dan media, sehingga perlu ditopang dengan penguatan jejaring lokal sebagai modal sosial organisasi.

Dari Kota Salatiga, Syukron Makmun memaparkan pengalaman advokasi kebijakan, seperti Perda minuman keras dan kebijakan lima hari sekolah. Sementara itu, Habib dari Lakpesdam Pati mengingatkan tradisi pemberdayaan NU yang telah mengakar sejak kiprah KH Sahal Mahfudh melalui BPPM pada 1980-an.

Isu lain yang mengemuka antara lain advokasi penanganan rob di Sayung, kajian dampak industri di Jepara, literasi digital, serta pendidikan politik. Peserta juga mencatat tantangan masyarakat sipil, seperti lemahnya daya tawar dalam negosiasi kebijakan dan kuatnya praktik politik uang.

Forum menyimpulkan bahwa karakter NU sebagai masyarakat sipil tercermin dalam kemandirian, partisipasi aktif warga, serta kesadaran atas hak dan kewajiban. Peran Lakpesdam dinilai penting sebagai penghubung suara lokal ke tingkat nasional melalui jejaring riset dan pengabdian bersama akademisi.

Menutup forum, Sekretaris Lakpesdam PWNU Jawa Tengah, Dr. Khasan Ubaidillah, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi upaya mendengar langsung narasi akar rumput.

“Ke depan, cerita-cerita ini akan dikompilasi menjadi buku yang diharapkan dapat meredefinisi posisi NU sebagai civil society yang aktif dan relevan dalam mengisi ruang-ruang sosial yang belum sepenuhnya dijangkau negara,” ujarnya (AW).

Komentar