Sejarah, sebagai ilmu, merupakan penjelasan perkembangan secara historis. Sejarah tidak bisa menafsirkan kemunculan agama Yahudi dengan mengatakan Tuhanlah yang mengutus Musa untuk menyebarkannya, meskipun penulisnya adalah seorang Yahudi. Sejarah juga tidak bisa mengatakan Taurat adalah firman Tuhan, meskipun penulisnya mengimani hal itu.

Tugas sejarah adalah menjelaskan sesuatu sesuai realitas seperti memberitahu bahwa orang-orang Yahudi meyakini Tuhan lah yang mengutus Musa, atau mereka meyakini Taurat adalah firman Tuhan. Sejarah tidak berurusan dengan pengalaman seseorang. Sejarah tidak peduli apakah orang Yahudi, atau penganut agama apa pun, benar-benar yakin dengan imannya atau tidak.

Basis ilmu sejarah adalah ia terbebas dari nilai. Ia objektif. Motifnya adalah menemukan kebenaran. Bukan klaim kebenaran. Misalnya seorang sejarawan yang mempelajari Muhammad, maka ia harus memahaminya sebagai sosok masa lalu yang hidup dalam komunitas sosial-budaya waktu itu. Namun jika ingin menyajikan Muhammad sebagai sosok azali yang melampaui zaman dan realitas maka itu bukan sejarah melainkan tabsyir diniy, pengabaran agamis, religious evangelist.

Sejarah adalah upaya untuk merekonstruksi dunia yang hilang dan menafsirkan proses perkembangan masa lalu, namun bukan untuk melegitimasi dan mengatur masa kini.

Seringkali orang mengatakan studi sejarah Islam tidak benar-benar objektif. Mustahil seorang peneliti sejarah Islam sekarang menghilangkan biasnya dalam menulis sejarah. Pernyataan tersebut mungkin memang benar. Objektivitas sejarah adalah idealitas yang tidak mungkin dicapai dengan sempurna. Namun tetap saja hal tersebut harus diupayakan dengan maksimal. Salah satu caranya adalah kritik sumber.

Semua narasi masa lalu yang sampai pada kita memiliki sejarah panjang yang menjelaskan bentuknya. Sehingga hubungan antara kebenaran dengan klaim tentang kebeneran begitu rumit. Akan semakin rumit jika yang tersedia hanya sumber-sumber belakangan, dan kita tidak bisa merekonstruksi realitas masa lalu dengan mengumpulkan materi-materi dari sumber-sumber tersebut.

Banyak peneliti sejarah Muslim, dari dulu sampai sekarang, yang tidak membedakan antara apa yang disebut watsiqah diniyyah (dokumen keagamaan) alias mitologi, dengan watsiqah tarikhiyyah (dokumen kesejarahan). Yang dimaksud watsiqah diniyyah adalah dokumen masa lalu (narasi, riwayat, dll. tentang keagamaan) yang sampai pada kita dan berisi kejadian-kejadian ajaib. Selain keduanya, ada juga watsiqah tarikhiyyah-diniyyah seperti peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah. Peristiwa tersebut, meski bercampur dengan unsur metafisis, para sejarawan masih dapat memastikannya sebagai peristiwa sejarah — setelah menghilangkan unsur-unsur metafisisnya.

Kurang lebih demikian disclaimer Nabil Fayyadh dalam pembuka Hakaya al-Su’ud: Mitolojiya al-Qasas al-Diniy (2020), agar kita — pembaca — memiliki kesepahaman dalam membaca karya tersebut dan menempatkannya secara proporsional. Dan, saya akan mengurai Isra` Mi’raj — topik utama karya tersebut — dengan ringkas.

Langit, meski kini dipahami sebagai bentangan atmosfer berisi gugusan bintang dan galaksi, masih menyisakan pemahaman kuno di alam bawah sadar kita. Langit, atau surga, adalah tempat asal Adam. Adanya manusia di bumi karena Adam diusir dari surga dan diturunkan ke dunia. Kisah tersebut mula-mula berasal dari ajaran Yahudi.

Lalu dalam sastra apokrif narasi tentang langit berkembang. Dalam literatur kuno tersebut, dikisahkan Elia naik ke surga dengan angin puting beliung (2 Raja-raja 2:11).

Dalam agama Kristen yang dianggap sebagai puncak pemikiran Mesianik Yahudi, Yesus naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah, Tuhan Bapa, menurut hukum iman Kristen Ortodoks.

Selain itu, dalam Kitab Kejadian disebutkan “dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” Konon, Henokh adalah Idris yang disitir dalam surah Maryam: 56–57 dan Ibrahim: 85. Dalam tafsirnya, Tabari mengatakan: Idris diangkat ke langit dan belum mati. Seperti halnya Isa. Ada banyak riwayat tentang Idris dalam tradisi Islam, begitu pula dengan Henokh dalam tradisi Yahudi.

Dua ayat tersebut penting karena ia menunjukkan dari mana mitos tentang kenaikan ke langit berasal. Menurut Fayyadh sangat sulit untuk memahami puzzle besar Isra dan Mi’raj dalam Islam tanpa mempertimbangkan warisan Zoroaster dan Yahudi, serta bantuan dari etimologi Persia, Aram, dan Etiopia kuno. Sayangnya, hal ini belum ada secara ilmiah maupun non-ilmiah di Timur Tengah. Kebanyakan adalah apologi dan tabsyir demagog.

Oleh karena itu, untuk memahami Isra` Mi’raj dengan baik, kita mesti membandingkan dengan teks serupa dalam agama-agama sekitar Arab waktu itu, menelusuri etimologi mi’raj dan buraq dengan laik serta menentukan topografi Masjid al-Aqsa dengan detail. Namun tulisan ini hanya membicarakan setidaknya tiga surah kunci dalam narasi Isra` Mi’raj, yaitu al-Takwir [58]: 19–25, al-Najm [53]: 1–21, dan al-Isra`: 1. Terdapat tiga penafsiran seputar ayat-ayat tersebut.

Pertama, dalam tafsir klasik, Muhammad dipercayai naik ke langit, dan masjid al-aqsa pada surah al-Isra` ditafsirkan sebagai langit. Istilah isra`, dalam tradisi klasik, digunakan sebagai sinonim kata mi’raj.

Kedua, dalam tafsir generasi berikutnya, masjid al-aqsa ditafsirkan sebagai al-Quds tanpa sebab yang jelas. Tampaknya penafsiran tersebut merupakan upaya kekhalifahan Umayyah untuk mengangkat kesucian al-Quds menandingi kesucian Kakbah di Makkah— yang waktu itu di bawah kekuasaan Abdullah ibn Zubair sebagai oposan. Tabari menolak penafsiran ini dan berpegang pada penafsiran pertama.

Tafsir pertama dan kedua sepakat bahwa ungkapan ‘abd dalam al-Isra` adalah Muhammad. Lalu ketika di era Umayyah, isra’ dimaknai secara khsusus sebagai perjalanan malam ke al-Quds. Sementara mi’raj yang telah kehilangan makna aslinya, telah berubah waktunya sehingga ditempatkan pada masa yang lebih belakangan daripada yang disampaikan oleh Ibn Ishaq.

Penafsiran ketiga atas al-Isra`[17]: 1 berpegang pada al-Isra`[17]: 60 yang menafisrkan kata ru’ya sebagai isra`. Sehingga perjalanan malam yang dilakukan oleh Nabi bukanlah peristiwa faktual melainkan mimpi. Hichem Djait, dalam Trilogi Sirah Nabawi (vol. I), juga sampai pada kesimpulan yang sama. Penafsiran demikian banyak diikuti oleh para filsuf dan sufi.

Mi’raj

Beberapa ayat Qur’an menarasikan kemungkinan naik ke langit seperti dalam Ghafir [40]: 36–37, Fir’aun minta dibuatkan bangunan menjulang agar dapat menemui tuhan Musa, lalu dalam al-Tur[52]: 38, orang-orang congkak ditanya, jika mereka punya tangga ke langit, apa mereka dapat mendengar suara langit (kabar gaib)?, dan dalam al-An’am[6]: 35 ketika Allah menenangkan Muhammad, “sekiranya engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, maka buatlah dengan izin Allah”.

Sementara dalam hadis ada banyak riwayat dengan narasi dan detail beragam. Sebagian besar riwayat menceritakan Muhammad naik ke langit setelah melakukan perjalanan malam ke al-Quds. Namun ada riwayat lain yang menceritakan Muhammad naik ke langit langsung dari Makkah, tanpa perjalanan ke al-Quds. Dalam riwayat tersebut, Muhammad mi’raj setelah hatinya dibasuh-sucikan. Cara naiknya Muhammad ke langit tidak diceritakan dengan jelas. Sekadar; Jibril membawanya naik ke langit. Riwayat lain menyebutkan menggunakan tangga. Tangga yang juga digunakan oleh ruh-ruh orang meninggal untuk naik ke langit. Tangga ini mirip dengan yang digunakan Ya’qub kabur dari Esau menuju Haran dalam Kitab Kejadian (28: 12). Sedangkan dalam kitab apokrif Jubilees, tangga disebut ma’arij.

Dalam Qur’an sendiri, kata ma’arij beserta derivasinya disebutkan di beberapa ayat seperti al-Ma’arij [70]: 3–4, Allah memiliki tempat naik, yang digunakan para malaikat dan Jibril menghadap kepadaNya, sehari setara lima puluh ribu tahun. Lalu al-Sajdah[32]: 5, al-Hadid[57]: 4, Saba`[34]: 2, dan al-Zukhruf[43]:33. Fayyadh menakar istilah tersebut diambil dari Etiopia. Ia juga menyebut bahwa penulis Muslim banyak mengambil dari literatur apokaliptik Yahudi dan Kristen untuk mengembangkan kisah naiknya Muhammad. Beberapa narasi juga berasal dari Arta viraf, teks klasik Zoroaster.

Isra`

Kembali ke penafsiran kedua seperti disebut di atas; masjidil aqsa ditafsirkan sebagai al-Quds.

Nabi Muhammad wafat pada 632 M, dan pada saat itu tidak ada masjid al-aqsa, baik di Quds maupun di tempat lain. Elia, nama lain Quds, adalah kota yang ditinggali orang-orang Kristen. Qur’an juga tidak menyebut Quds, dan semua penafsiran yang menyebut kota tersebut muncul jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Dipercayai itu adalah tambahan Yahudi untuk menghidupkan kembali kota suci mereka.

Lalu mengapa baiat kepada Muawiyyah — pendiri daulah Umayyah — dilakukan di Quds dan bukan di Damaskus atau di wilayah lain di Hijaz(?) Siapa yang membaiatnya sementara waktu itu sangat tidak mungkin ada orang Yahudi di kota tersebut(?)

Namun kenyataannya, pada masa yang diklaim sebagai masa mi’raj-nya Muhammad, di tempat yang mereka pastikan tempat mi’raj itu, berdiri sebuah gereja Bizantium besar, yang dinamai dengan nama Santa Maria dan dikaitkan dengan Justinianus. Tempat suci Kristen ini sebenarnya membentang dari utara kota hingga selatannya, dan di tengahnya terdapat sebuah lorong yang berakhir di Gerbang Damaskus. Gereja ini didirikan pada tanggal 21 November 543.

Dalam Simt al-Nujum al-’Awali fi Anba` al-`Awa`ili wa al-Tawali, al-Asami menukil dari Tarikh Ibn Khalikan, bahwa ketika Ibn Zubair memimpin kekhalifahan di Makkah, ia menjadikan saudaranya, Ubaidillah ibn Zubair sebagai pemimpin di Madinah. Dan dia terus mengadakan haji untuk orang-orang dari tahun 64 hingga tahun 72.

Lalu ketika Abd al-Malik ibn Marwan berkuasa, ia melarang penduduk Syam untuk haji ke Makkah. Pasalnya, Ibn Zubair mengambil baiat orang-orang yang datang berhaji. Pelarangan haji tersebut melahirkan gejolak penentangan. Alhasil Abd al-Malik membangun kubah sakhrah atau Dome of the Rock untuk menyibukkan dan mengalihkan mereka dari haji di Makkah. Mereka berdiri di sisinya dan mengelilinginya seperti halnya mereka mengelilingi Kakbah. Mereka juga berkurban pada hari raya dan menyukur rambut-rambut mereka. Persis seperti ritual haji. Lalu ketika Abd al-Malik ingin memakmurkan baitul maqdis, ia menggelontorkan dana dan mempekerjakan para kuli dari berbagai wilayah untuk membangun baitul maqdis. Riwayat tersebut terekam oleh Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah dan al-Ya’qubi dalam tarikhnya.

Semua gebrakan tersebut dipimpin oleh al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi. Ia terkenal dengan kezaliman dan kesewenang-wenangannya. Selain merendahkan tempat tidur Nabi, mimbar Nabi dan Madinah, ia juga kerap sengaja mengakhirkan salat. Ia juga mengatakan bahwa para khalifah Umayyah lebih tinggi derajatnya daripada malaikat, para rasul, dan Nabi Muhammad sendiri. Menurutnya, taat kepada khalifah Umayyah lebih utama daripada taat kepada Allah.

Dalam al-Basair wa al-Dzakhair, Abu Hayyan al-Tauhidi menceritakan bahwa al-Hajjaj menyurati Abd al-Malik. Dalam suratnya, ia berkeinginan untuk menambah kata al-khulafa’ dalam surah al-Nisa’: 69. Sementara dalam al-Furqan, Ibn al-Khatib menulis bab khusus tentang perubahan yang dilakukan al-Hajjaj pada mushaf Qur’an. Ia menyebut ada 12 tempat yang diubah oleh al-Hajjaj, di antaranya pada al-Baqarah: 259, al-Maidah: 48, Yunus: 22, Yusuf: 45, dan al-Mu`minun pada ayat 87 dan 89.

Konon, al-Hajjaj melakukan perubahan pada mushaf setelah berunding dengan para ahli Qur’an dan fukaha yang menghasilkan kesimpulan bahwa pada ayat-ayat tersebut terdapat tahrif oleh para penulis dan penyalin Qur’an.

Hal demikian juga disampaikan oleh Izzat Darwazah dalam al-Qur’an al-Majid. Ia menyebut mushaf yang beredar adalah mushaf yang dikumpulkan dan disusun oleh al-Hajjaj — ia mengumpulkan ragam mushaf yang beredar waktu itu termasuk mushaf-mushah Utsman dan menghancurkannya. Darwazah berspekulasi bahwa saat ini tidak ada mushaf Utsman yang asli.

Di antara keisykalan Fayyadh adalah ayat isra` yang menjadi nama surah tersebut, al-Isra`: 1. Nama ayat ini tidak dikenali pada zaman Nabi sampai tabiin. Dalam Sahih Bukhari, dari Ibn Mas’ud, surah al-Isra` disebut dengan surah Bani Isra`il. Begitu juga dalam al-Tirmizi riwayat Aisyah yang dinilai hasan oleh Ibn Hajar dalam Nataij al-Afkar.

Surah tersebut dinamai Bani Isra`il karena berbicara bagian penting kisah Bani Isra`il tentang perusakan yang mereka lakukan di bumi, yang tidak diceritakan dalam surah lain. Tema ini menjadi tema sentral surah tersebut. Sementara tentang isra’ Muhammad, hanya disitir dalam satu ayat pertama, dan kemudian menjadi nama surah tersebut. Di sini Fayyadh menemukan keterkaitannya.

Tidak banyak yang memperhatikan upaya Abd al-Malik ibn Marwan, yang terkenal skeptis terhadap agama seperti para khalifah Umayyah yang lain, dalam membuat haji tandingan karena alasan politis. Dan upaya tersebut bersamaan dengan upaya al-Hajjaj merevisi Qur’an.

Maka sangat mungkin bila al-Hajjaj menambahkan ayat pertama surah Bani Isra`il lalu menamainya dengan surah al-Isra` untuk memberi legitimasi teologis pada kekhalifahan tersebut, melengkapi pernyataan Umar, Ka’b al-Ahbar dan Abu Hurairah terhadap kota tersebut. Dua nama terakhir adalah sosok yang memasukkan banyak riwayat Yahudi dalam Islam.

Komentar