OPINI – Kita sudah tak asing lagi dengan kehidupan tradisional khas pedesaan yang cenderung patriarkal. Kendati itu benar adanya, ada hal lain yang perlu kita ketahui bersama mengenai keseimbangan pangan dari peran perempuan di pedesaan. Kiprahnya di sawah dan kebun sebagai lahan merawat bumi dan kehidupan patut kita apresiasi sebagai wujud nyata dari menjaga kehidupan. Perempuan menjadi pemenuh, pemerhati, hingga penyedia pangan.
Di ruang yang lain, ia berperan aktif menjadi madrasatul ula, menjadi pengurus segala kebutuhan rumah, dan mencintai pasangan serta keluarga dengan sangat tulus. Teringat cerita salah satu kawan ketika ibu mertuanya meninggal dunia. Di sela-sela kesedihannya, ia mengucapkan sebuah kelegaan karena sang ibu sudah tidak lelah lagi memikul beban ganda sebagai pengurus rumah tangga sekaligus pengurus sawah.
Perempuan desa kerap memikul beban ganda tentang keselarasan yang ditanggung, mengenai mobilitas rumah tangga, hingga menjaga bumi dalam lahan yang terbentang. Ia bahkan menyiapkan sarapan hingga makan malam. Ia menyaksikan makanan mulai dari bibit hingga sampai di meja makan.
Saat saya pulang ke kampung, saya menyorot fenomena kesenjangan, bukan karena perempuan tidak memiliki panggung, melainkan karena beban ketimpangan berbentuk beban ganda yang diterima. Keadilan gender mengenai pendidikan sudah saya lihat sebagai hak yang diterima perempuan, akan tetapi pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan domestik masih dianggap tabu jika dikerjakan laki-laki. Hal ini kerap menjadi fenomena yang akhirnya menjadikan perempuan memikul beban ganda yang seharusnya bisa dikerjakan bersama.
Pernyataan yang masih kerap terdengar yakni bahwa pekerjaan mengurus rumah adalah pekerjaan perempuan, sampai melayani laki-laki secara penuh. Bagi kalangan agamis, ini menjadi ladang ibadah. Berbeda dengan kalangan tradisionalis yang menganggap ini sebagai tugas mutlak perempuan. Sayangnya, pekerjaan domestik bukan didasarkan pada pilihan dan kesepakatan, melainkan pada penafsiran dan peninggalan sejarah.
Di samping itu, saya merasa bangga dengan perempuan desa yang bisa melakukan kedua pekerjaan itu secara berkesinambungan. Kendati terlihat berat, mengurus anak, mengurus rumah, dan pergi ke sawah harus dilakukan pada waktu yang tepat. Namun, mereka bisa melakukannya dengan sangat dinamis. Saya juga mengingat perjuangan almarhumah bude yang selain harus mengurus rumah, anak, dan suami, juga harus pergi ke kebun serta ke pasar untuk menjual hasil bumi.
Sebagai Generasi Z yang memiliki privilese mengenyam pendidikan tinggi di kota yang memiliki julukan Kota Pelajar, saya cukup terkesima dengan pola hidup perempuan desa ini. Kami sebagai akademisi biasanya mengkaji pola mereka dari sudut pandang yang sangat terbatas. Kadang kami hanya melihat fenomena berdasarkan riset atau kajian-kajian akademik.
Sementara itu, yang jarang tertulis dalam kajian akademik adalah bahwa sebenarnya mereka adalah penggerak kehidupan. Perempuan desa hidup dengan penuh harap dan memberi banyak harapan. Bumi menanti kehadirannya untuk diberi banyak nutrisi, tumbuhan dirawatnya dengan sangat tulus sembari merapalkan doa-doa. Sesampainya di rumah, mereka menjadi harapan bagi anak, suami, dan seluruh isi rumah. Padi yang sudah ditanam kemudian dipanen, dijual, lalu dimasak. Mereka adalah salah satu bagian dari wujud perjuangan.
Dalam hal ini, saya sedang tidak menyudutkan posisi laki-laki. Saya menyadari bahwa budaya pengotak-ngotakan gender masih sangat melekat. Produk sejarah ini akhirnya melahirkan pernyataan bahwa mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu, memasak, dan pekerjaan domestik lainnya adalah pekerjaan perempuan semata, sementara laki-laki adalah seseorang yang wajib dilayani sepenuhnya. Pekerjaan domestik seolah sudah menjadi proporsi yang hanya bisa dilakukan oleh perempuan.
Kadang, saya juga menyetujui berbagai mitologi desa yang bertujuan sebagai bentuk pendisiplinan, tetapi kadang kurang sreg dengan ancamannya yang seolah berhenti pada masa pernikahan, seakan hidup akan berakhir ketika perempuan sudah menikah.
Terlepas dari itu, saya tetap bangga pada keseimbangan yang sudah perempuan desa ciptakan, tentang keselarasan antara hubungannya dengan manusia, alam, dan Tuhan. Sebuah pengetahuan yang diimplementasikan dengan bukti nyata. Kadang saya juga berpikir, bagaimana jika perempuan desa teredukasi secara maksimal, mungkin keajaibannya bisa lebih dari ini.*
