OPINI – Kemenangan Spanyol pada Piala Dunia 2026 kembali menempatkan negara itu di puncak perhatian dunia. Media internasional memuji permainan kolektif mereka. Para pemain menjadi idola baru. Ribuan suporter turun ke jalan merayakan keberhasilan yang mungkin akan dikenang selama bertahun-tahun.
Namun, bagi jutaan santri di Indonesia, Spanyol sesungguhnya bukanlah nama yang baru dikenal.
Jauh sebelum dunia terpukau oleh sepak bolanya, bahkan jauh sebelum televisi dan internet hadir, Spanyol telah lebih dahulu “datang” ke Nusantara. Kehadirannya bukan melalui kapal perang, bukan pula melalui hubungan diplomatik, perdagangan, atau pariwisata. Spanyol hadir melalui ilmu pengetahuan. Tidak banyak orang yang menyadari hal itu.
Jika kita bertanya kepada para santri, kitab apa yang paling berpengaruh dalam perjalanan mereka mempelajari tata bahasa Arab, salah satu jawaban yang hampir pasti muncul adalah Alfiyah Ibnu Malik. Kitab yang berisi seribu—lebih tepatnya seribu dua—bait syair itu telah menjadi teman belajar para santri selama ratusan tahun. Dari generasi ke generasi, bait-baitnya dihafalkan, dijelaskan, dan didiskusikan di ribuan pesantren di seluruh Indonesia.
Menariknya, banyak santri mengenal nama Ibnu Malik tanpa pernah bertanya dari mana asal ulama tersebut.
Padahal, Muhammad bin Abdullah bin Malik lahir di Jaén, sebuah kota di Andalusia yang kini termasuk wilayah Spanyol. Dengan kata lain, setiap kali seorang santri membaca Alfiyah, sesungguhnya ia sedang berinteraksi dengan salah satu warisan intelektual terbesar yang pernah lahir dari tanah Spanyol.
Fakta sederhana ini mengandung pelajaran yang menarik. Selama ini kita lebih sering mengenal hubungan antarnegara melalui politik, perdagangan, olahraga, atau kerja sama ekonomi. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa ada hubungan yang jauh lebih panjang usianya, yakni hubungan yang dibangun oleh ilmu pengetahuan.
Coba kita bayangkan.
Tidak ada kantor kebudayaan Spanyol di setiap pesantren. Tidak ada guru yang membuka pelajaran dengan mengatakan, “Hari ini kita akan belajar tentang sejarah Spanyol.” Tidak ada pula brosur wisata yang dibagikan kepada para santri.
Namun, nama Ibnu Malik terus disebut setiap tahun. Karyanya terus dipelajari. Pemikirannya terus diwariskan. Bukankah ini juga merupakan salah satu cara sebuah bangsa hadir di negeri lain?
Di sinilah saya mulai melihat sebuah fenomena yang jarang dibicarakan.
Selama ini kita memahami diplomasi sebagai pekerjaan para duta besar. Mereka datang mewakili negaranya, membangun hubungan, memperkenalkan budaya, lalu kembali ketika masa tugasnya selesai.
Namun, sebuah kitab bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak mempunyai paspor. Ia tidak berkantor di kedutaan. Ia tidak pernah berpidato di forum internasional.
Akan tetapi, selama masih dibaca, kitab itu terus menjalankan tugasnya memperkenalkan tradisi keilmuan tempat ia dilahirkan.
Fenomena inilah yang saya sebut sebagai Diplomasi Teks. Diplomasi teks adalah cara sebuah peradaban memperkenalkan dirinya kepada dunia melalui karya-karya ilmu pengetahuan. Yang berpindah bukan tentaranya, bukan pejabatnya, melainkan gagasan-gagasannya. Yang melintasi batas negara bukan benderanya, melainkan kitab-kitabnya.
Mungkin istilah ini terdengar baru, tetapi praktiknya telah berlangsung selama berabad-abad dalam sejarah Islam.
Spanyol memiliki Ibnu Malik melalui Alfiyah-nya. Maroko memiliki Ibnu Ajurrum melalui Al-Ajurrumiyyah. Nusantara memiliki Syekh Nawawi al-Bantani dengan puluhan kitab yang hingga kini masih dipelajari di berbagai negara.
Tanpa kita sadari, dunia Islam telah lama membangun jembatan antarperadaban melalui karya-karya ilmiah. Para ulama menjadi penghubung lintas bangsa, sementara kitab-kitab mereka menjadi “duta” yang terus bekerja melampaui zaman.
Barangkali, di sinilah letak kekuatan ilmu pengetahuan. Seorang duta besar mungkin bertugas selama empat atau lima tahun. Seorang menteri hanya menjabat selama satu periode pemerintahan. Bahkan, seorang atlet sehebat apa pun pada akhirnya akan pensiun.
Sebaliknya, sebuah kitab dapat hidup jauh lebih lama daripada penulisnya. Selama masih dibaca, kitab itu akan terus memperkenalkan nama, tradisi, dan peradaban tempat ia dilahirkan.
Karena itu, kemenangan terbesar sebuah bangsa barangkali bukan hanya ketika berhasil mengangkat trofi di lapangan hijau. Kemenangan yang lebih panjang usianya adalah ketika karya-karya intelektualnya terus dipelajari oleh generasi demi generasi di berbagai belahan dunia.
Mungkin empat tahun lagi dunia akan memiliki juara Piala Dunia yang baru. Trofi akan berpindah tangan. Para pemain akan berganti. Rekor demi rekor akan dipecahkan.
Namun, ketika seorang santri di sebuah desa di Indonesia kembali membuka Alfiyah Ibnu Malik dan melantunkan bait-bait pertamanya, sesungguhnya sebuah kisah yang jauh lebih panjang sedang berlangsung. Kisah tentang bagaimana ilmu pengetahuan mampu melampaui batas negara, melewati pergantian abad, dan membangun persahabatan antarperadaban tanpa suara, tanpa senjata, dan tanpa panggung politik.
Barangkali, itulah kemenangan yang paling abadi.
