OPINI – Bagi umat Islam, membaca Al-Quran bukan semata melantunkan dengan suara yang merdu, melainkan juga menjadi wujud keimanan sekaligus menyambungkan tradisi yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw. Karenanya pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang setiap tahun diselenggarakan, tidak boleh lepas dari tujuan utamanya.

MTQ hanyalah salah satu sarana untuk merawat tradisi kelisanan, tulisan dan kajian Al-Quran. Puluhan tahun silam, Pak Quraish Shihab dalam “Membumikan Al-Quran” menegaskan bahwa tujuan utama dari penyelenggaraan MTQ adalah untuk menggairahkan dan menggalakkan generasi muda Islam untuk menghafal dan menafsirkan kitab suci Al-Quran.

Menjaga Sambung Tradisi Kenabian

Mengapa perlu menggairahkan anak muda? Sebab merekalah yang akan mewariskan Al-Quran. Dalam kitab “Kaifa Washala Ilaina al-Qur`an al-Karim” karya ‘Ashim Shadiq, beliau memaparkan bukti otentisitas kitab suci dari masa ke masa hingga saat ini.

وليس أروع من أن يرفع القارئ اليوم بصره إلى المصحف بين يديه، فيدرك أنه يقرأ الكلمات ذاتها التي تلاها النبي ﷺ على أصحابه قبل أكثر من أربعة عشر قرنًا، وأنه يشاركهم ذات النور، ويمضي معهم على نفس الدرب. فليكن ختام هذه الرحلة بداية لرحلة أخرى، أعمق وأبقى: رحلة تدبرٍ لآيات القرآن، وعيشٍ مع هداياته، وعملٍ بما فيه من نور وهداية، حتى يثمر في حياتنا كما أثمر في حياة السلف الصالح.

Tidak ada yang lebih indah bagi seorang pembaca hari ini daripada ketika ia mengarahkan pandangannya ke mushaf di hadapannya, lalu menyadari bahwa ia sedang membaca kata-kata yang sama persis dengan yang dibacakan oleh Nabi kepada para sahabatnya lebih dari empat belas abad yang lalu; dan bahwa ia berbagi cahaya yang sama dengan mereka, serta berjalan di atas jalan yang sama.

Maka jadikanlah akhir dari perjalanan ini sebagai awal dari perjalanan lain yang lebih dalam dan lebih abadi: perjalanan merenungi (tadabbur) ayat-ayat Al-Quran, hidup bersama petunjuk-petunjuknya, dan mengamalkan cahaya serta hidayah yang ada di dalamnya, hingga ia membuahkan hasil dalam kehidupan kita sebagaimana ia telah membuahkan hasil dalam kehidupan para pendahulu yang saleh (Salafush Shalih).

Ada dua poin utama dari ungkapan Ashim Shadiq tersebut. Pertama, membaca Al-Quran punya keutamaan yang luar biasa. Kita memandang mushaf yang sama dengan apa yang dilantunkan oleh lisan mulia, Nabi Muhammad Saw. Hal ini sering kali luput untuk diresapi. Terlebih jika menggunakan tesis Armstrong dalam buku “The Lost Art of Scripture”: bahwa orang modern sering mendekati kitab suci melalui otak kiri yang cenderung logis, sehingga menegasikan dimensi sakralitas.

Hari ini, kita mungkin lebih banyak terobsesi membaca dan menghafalkan Al-Quran demi juara perlombaan dibanding mengimajinasikan bahwa apa yang kita baca adalah yang diperjuangkan sepenuh raga oleh sang nabi kala menerima wahyu Ilahi.

Paradoks Gelar Kejuaraan

Kedua, puncak dari membaca Al-Quran adalah menadabburinya. Tadabur bukan sebatas analisis tafsir yang cenderung hermeneutis, tapi bagaimana Al-Quran dipahami sebagai petunjuk kehidupan yang membuahkan pengamalan. Dalam tataran ini, kita perlu berkaca secara mendalam.

Provinsi yang sudah tiga tahun berturut-turut juara umum MTQN dan STQHN, nyatanya punya banyak problem mengakar di daerahnya. Kabut asap hingga kini masih mewabah, antre bahan bakar yang kian langka, deforestasi hutan semakin parah, dan segudang permasalahan lainnya.

Di mana pengaruh kitab suci itu menghadapi kerusakan ekologis yang kian mengkhawatirkan? Pemerintah boleh berbangga dengan piala kejuaraan yang diterima, tapi apalah arti semua itu kalau di lapangan justru jauh dari harapan.

Saya teringat ketika membaca tafsir Imam as-Sa’di saat menafsirkan surat al-Maidah ayat 49.

﴿فَإِن تَوَلَّوْا﴾ عَنِ اتِّبَاعِكَ وَاتِّبَاعِ الْحَقِّ ﴿فَاعْلَمْ﴾ أَنَّ ذٰلِكَ عُقُوبَةٌ عَلَيْهِمْ وَأَنَّ اللهَ يُرِيدُ ﴿أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ﴾. فَإِنَّ لِلذُّنُوبِ عُقُوبَاتٍ عَاجِلَةً وَآجِلَةً، وَمِنْ أَعْظَمِ الْعُقُوبَاتِ أَنْ يُبْتَلَى الْعَبْدُ وَيُزَيَّنَ لَهُ تَرْكُ اتِّبَاعِ الرَّسُولِ

Salah satu kalimat menohok dari uraian Imam as-Sa’di tersebut adalah pernyataan: Dan di antara hukuman yang paling besar adalah ketika seorang hamba diuji dengan dihiasi (dianggap baik) baginya tindakan meninggalkan petunjuk Rasul, dan hal itu disebabkan oleh kefasikannya.

Semoga saja fenomena MTQ tidak demikian. Meski, kita perlu khawatir. Jangan sampai kejuaraan MTQ ini adalah ujian Allah yang dianggap baik, padahal tindakannya meninggalkan petunjuk kenabian. Dalam konteks yang lebih luas, pelaksanaan MTQ yang setiap tahun menghabiskan anggaran puluhan miliar itu, justru kontra produktif dengan tujuan awal MTQ, yaitu melahirkan generasi Qurani.

Toh, kita menyaksikan, setiap tahun, selalu ada saja pasukan yang tidak siap menerima kekalahan dan menuduh lawannya melakukan kecurangan. Sebaliknya yang menang menganggap bahwa ialah yang paling layak menerimanya setelah melakukan latihan keras selama bertahun-tahun. Lebih parah lagi, ketika dewan hakim yang seharusnya menjadi penilai yang adil, sejak awal telah berpihak pada peserta tertentu.

Akhirnya, baik yang menang maupun kalah tidak lagi fokus pada misi utama MTQ, melainkan sudah tercampur dengan motif pribadi yang justru menjatuhkan marwah kitab suci. Semua saling sikut, menyalahkan satu pihak dan merasa sebagai pihak yang terzalimi.

Saya pernah menjadi peserta MTQ. Saya pun pernah merasakan sakit hati ketika ekspektasi juara ternyata tak tercapai. Itu adalah manusiawi. Namun, berlarut-larut dalam perasaan tersakiti itu, apalagi sampai berkoar di media sosial, sungguh tak memberikan faedah apa pun.

Saya pun pernah menjadi dewan hakim. Saya turut menyaksikan subyektifitas penilaian itu pasti ada sebagai manusia yang punya rasa. Mungkin ini juga yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangan Artificial Intelligence (AI) dibanding manusia. Namun, subyektifitas penilai itu bisa diminimalisir dengan panduan perhakiman dan keilmuan yang dijunjung tinggi penerapannya.

Menjadi bermasalah, ketika semua merasa bisa menilai dan yang seharusnya menilai dengan adil, justru mencederai keadilan. Kalau sudah demikian, musabaqah yang seharusnya melahirkan persaudaraan justru bisa menimbulkan perpecahan. Padahal, ketika seseorang dapat melantunkan ayat Al-Quran, apalagi dalam skala nasional, itu adalah kemenangan yang luar biasa. Kalau kemudian mendapat kejuaraan, itu adalah bonus.

Tulisan ini tidak akan membela siapa pun. Sebab setiap peserta, pelatih, kafilah, punya cerita perjuangannya masing-masing. Namun, kita perlu berbenah. Jangan sampai MTQ hanya sebatas “pesta” Al-Quran, menyitir pernyataan Menteri Agama saat menutup MTQ semalam.

Apalagi ketika MTQ justru menjadi ajang doktrinisasi program pemerintah semata tanpa ada ruang untuk mengkritisinya. Misalnya kita menyaksikan bagaimana narasi moderasi beragama, kerukunan umat beragama, toleransi, generasi emas, ekoteologi, dan diksi-diksi manis lainnya bertebaran di berbagai tema kegiatan yang berkaitan dengan perhelatan akbar Al-Quran tahunan ini.

Menemukan Kemenangan Sejati

Karenanya, ayat yang dibacakan oleh qari terbaik tilawah dewasa pada penutupan MTQN ke-31 di Semarang dapat menjadi catatan kritis bagi semua yang terlibat dalam musabaqah ini.

وَالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِۗ اِنَّ اللّٰهَ بِعِبَادِهٖ لَخَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚوَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚوَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ

Apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), yaitu Kitab Suci (Al-Qur’an), itulah yang benar yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. Kemudian, Kitab Suci itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu, di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Itulah (dianugerahkannya kitab suci adalah) karunia yang besar (QS. Fathir: 31-32).

Buya Hamka dalam tafsirnya, mengutip pandangan Imam Ibnu Atha’illah, menegaskan bahwa yang dimaksud tiga kelompok itu adalah sebagai berikut:

Orang yang zalim ialah cinta kepada Allah karena dunia, yang cermat ialah yang cinta kepada Allah karena memikirkan hari kemudian, yang mendahului ialah yang gugur keinginan dirinya sendiri karena menuruti keinginan Tuhan.

Pendapat tersebut bisa dikembangkan dalam konteks bermusabaqah. Orang yang zalim adalah mereka yang bermusabaqah karena dunia, mendapat juara dan hadiah yang besar semata. Orang yang pertengahan adalah mereka yang bermusabaqah untuk syiar mendapat pahala. Sedangkan tingkatan tertinggi adalah mereka yang bermusabaqah bukan untuk menuruti nafsunya, tetapi untuk melaksanakan ajaran Ilahi.

Kelompok inilah yang disebut oleh nabi dalam sebuah hadis sebagai orang yang disibukkan dengan Al-Quran hingga ia lupa memohon kepada Allah. Meski ia tidak berdoa meminta kecukupan hidup, Allah akan mencukupkan hidupnya di dunia dan kemuliaan di akhirat.

Saya tutup tulisan ini dengan satu nasihat dari guru penulis, Ust. Abdul Jalil, Allahu yarham:

“Setiap bentuk interaksi kita dengan Al-Quran ada manfaat dan barakah untuk kita dan orang-orang sekitar kita.”

Allahummarhamna bi al-Quran.

 

Samarinda, 19 September 2026

Rahmat Al-Barawi, Penikmat MTQ