OPINI – Spanduk berwarna kuning yang sudah kusam itu tergantung di bawah atap seng. Spanduk itu bertuliskan ‘Soto Bang Jack’. Di bawahnya, teronggok sebuah gerobak kayu yang terlihat masih baru khas Soto Solo. Kalau dilihat dari arsitekturnya, tampak masih lebih lawas gerobak Soto Triwindu.
Ketika saya sampai di tempat itu, aroma kuah menyergap langsung ke hidung. Saya melihat panci-panci besar berisi kuah, dan kursi-kursi kayu berjejer rapi di sebuah rumah di Jalan Kalitan Nomor 6, Penumping, Laweyan, Solo.
Saat itu, 2022, saya memang janjian dengan Bang Jack. Anak buahnya memanggilnya Ustaz Harun. Orang rumahnya di Kulonprogo memanggil Joko Triharmanto. Di sana, sudah ada beberapa eks napi teroris didikan Bang Jack.
Aroma kuah soto menguar bertabrakan dengan kebulan asap rokok. Saya ngobrol ngalor-ngidul tentang beberapa hal. Yang membuat saya terhentak—dan teman saya, Razuli, terlihat miris—adalah ketika sampai pada pembahasan agama.
Salah satu eks napi teroris mengatakan bahwa mereka dahulu pernah melakukan syahadat dua kali. Menurut dia, orang Islam sesungguhnya banyak yang kafir. Mereka tidak benar-benar Islam. Dia mengatakan itu sembari cekikikan, tangan kanannya sambil mematikan puntung rokok di asbak yang telah tumpah.
Kejadian itu masih membekas di kepala saya hingga hari ini. Ucapan dehumanis itu sebenarnya tidak asing. Beberapa eks napiter lain pernah mengatakan hal serupa, bahkan memaki orang lain kafir dan menghalalkan darah sesama muslim menjadi hal biasa.
Satu hal yang sama di pikiran para teroris, yaitu Islam sudah kalah. Islam dimusuhi. Islam mau dimusnahkan. Umat Islam seperti dikepung dari segala penjuru. Mereka mencontohkan umat Islam di Timur Tengah, dan umat Islam di Indonesia dianggap sedang mengalami hal serupa.
Karena itu, kelompok mereka melawan. Menurut kelompok teroris ini, kekalahan umat Islam musababnya bukan hanya dari musuh (non-muslim), tapi juga dari umat Islam itu sendiri.
Untuk membuktikan keislamannya, mereka harus bergabung dengan kelompok tersebut, harus bersyahadat bersama kelompok mereka, dan syariat Islam wajib ditegakkan di negara thaghut. Harta orang kafir boleh diambil sebagai kekayaan jemaahnya.
Hal-hal di atas dianggap rasional di kalangan mereka. Bahkan, untuk menguatkan dalil posisi mereka, akhirnya diterjemahkanlah sebuah buku berjudul Umat Islam Dikepung dari Segala Penjuru, karya Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilali as-Salafi. Buku aslinya berjudul Bada’i’ul Hikam fi Syarhi Haditsi Tsauban.
Buku ini merupakan respons atas konflik Timur Tengah. Buku ini menguraikan ancaman yang dipandang mengancam umat Islam, mulai dari permusuhan pihak luar, pengambilan kekayaan, pemecahan wilayah Muslim, hingga pengaruh politik, pendidikan, dan lembaga internasional. Penulis juga menyoroti kelemahan internal umat melalui konsep wahn, yakni kecenderungan mencintai dunia dan takut menghadapi kematian (jihad).
Buku ini menjadi sumber argumen kelompok teroris. Argumen yang paling digemari dalam buku ini adalah seluruh umat kafir memusuhi Islam, kaum muslimin, dan para dai-nya. Mereka merasa bahwa mereka telah mendapatkan diskriminasi politik dan agama yang merugikan masyarakat Muslim.
Kelompok mereka merasa semua faktor kebangkrutan umat Islam bersumber dari musuh umat Islam—dalam hal ini, yang bukan kelompok mereka. Kebijakan pemerintah, tindakan individu, kepentingan ekonomi, dan persaingan geopolitik yang tidak berpihak kepada mereka dianggap sebagai musuh yang harus diperangi.
Dari musuh luar menuju lawan di dalam
Buat saya, yang menjadi menarik adalah ketika semua masalah di dunia ini diberi label teologis. Pihak yang berbeda bukan sekadar dianggap keliru, tapi dicurigai mengkhianati agama atau berpihak kepada musuh Islam. Akibatnya, persoalan yang memiliki dimensi politik dan sosial berubah menjadi pertarungan identitas.
Ketika label keagamaan digunakan tanpa argumentasi yang memadai, kompromi dapat dianggap sebagai pengkhianatan, sedangkan kritik terhadap kelompok sendiri dicurigai sebagai keberpihakan kepada lawan. Maka, agama pun menjadi alat legitimasi untuk menentukan siapa yang layak dipercaya dan siapa yang harus disingkirkan dari ruang bersama.
Kajian Claire E. Robertson dalam “How Social Identity Shapes Conspiratorial Belief” (2022) menjelaskan hubungan antara identitas sosial dan keyakinan konspiratif. Narasi konspirasi diarahkan pada kebutuhan rasa aman dan rasa memiliki kelompok.
Jika konspirasi tersebut menguntungkan kelompok diri sendiri, maka dia mempercayainya; demikian sebaliknya. Makanya, konspirasi agama dan politik dapat memperkeras batas antara kelompok sendiri dan kelompok lain, bahkan mempertajam permusuhan.
Mengembalikan konflik pada keadilan
Kita tahu semua negara mengalami konflik yang sama, tapi tak semua konflik negara disandarkan pada agama atau identitas. Apakah konflik berakar pada perbedaan teologis? Sayangnya, kelompok ekstrem selalu menyederhanakan konflik ke arah itu.
Bang Jack, ketika ditanya apakah boleh mengatakan Indonesia dalam kondisi perang agama, menjawab tidak. Dia tahu bahwa Al-Qur’an telah menyediakan landasan untuk menghadapi konflik tanpa mengubah perbedaan menjadi permusuhan kolektif. Apabila ada konflik, hal itu tidak serta-merta otomatis menjadikannya perang akidah.
Sama seperti Bang Jack, kita tahu bahwa agama tidak pernah mengajarkan permusuhan. Bahkan, semua agama telah mengingatkan bahwa kebencian terhadap suatu kelompok tidak boleh mendorong seseorang berlaku tidak adil (QS al-Ma’idah [5]: 8). Bukankah kitab suci agama kita memerintahkan upaya perdamaian, bukan?
Matahari menggantung di sisi barat. Obrolan berhenti. Saya minta izin pulang. Bang Jack juga tampak mau kembali ke markasnya. Sementara saya dan teman, membawa bingkisan oleh-oleh pengetahuan yang tak pernah terpikirkan.

