Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah, aku tidak tergolong sebagai siswa yang pintar maupun berprestasi. Belajar pun seperti hal yang enggan aku lakukan. Bahkan saat menghadapi ujian, bukannya tidak belajar, aku tetap belajar, tetapi tanpa niat yang sungguh-sungguh—hanya sebentar dan tidak serius. Ketika lelah dan bosan belajar, pikiranku sering berkata, “Ah, ngapain belajar, serahkan saja semua kepada Allah.” Saat itu, aku menganggap sikap tersebut sebagai bentuk tawakal.
Hingga tibalah hari pengumuman nilai. Apa yang aku dapatkan ternyata sebanding dengan apa yang telah aku lakukan. Nilai yang pas-pasan tertera di rapor, bahkan bisa dibilang tidak memuaskan. Munafik rasanya jika aku mengatakan tidak kecewa. Namun, lagi-lagi pikiranku berkata, “Ah, ini sudah takdir Allah.” Padahal, jika dipikirkan kembali, kekecewaan itu mungkin juga akibat dari kurangnya usahaku dalam belajar, bukan semata-mata takdir.
Namun, yang unik adalah ketika aku berhasil. Misalnya, saat duduk di bangku kelas 3 SMA, aku sering mendapatkan nilai yang cukup memuaskan dan bahkan selalu masuk sepuluh besar. Pada saat itu, aku cenderung merasa bahwa semua keberhasilan tersebut adalah hasil dari perjuangan dan kerja kerasku sendiri. Aku menganggap keberhasilan datang sepenuhnya dari usahaku, tanpa campur tangan Allah.
Sikap ini sangat mirip dengan pandangan Qadariyah yang meyakini bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan nasibnya melalui usaha dan pilihan sendiri. Jadi, di satu sisi aku menjadi Jabariyah ketika gagal, dan di sisi lain menjadi Qadariyah ketika berhasil. Sungguh aku merasa malu kepada Allah ketika mengingat diriku yang dulu. Fenomena ini membuatku bertanya: apa sebenarnya yang terjadi pada diriku dalam memandang takdir dan usaha dalam hidup?
Dalam esai ini, aku akan mengeksplorasi pengalaman pribadi serta refleksi tentang bagaimana sikap kita terhadap takdir sering kali berubah-ubah, bergantung pada kondisi keberhasilan atau kegagalan. Mengapa kita cenderung menyerahkan segalanya pada takdir saat gagal, tetapi mengklaim penuh hasil usaha saat berhasil? Dan apa dampak dari pandangan semacam ini terhadap cara kita memaknai usaha, tanggung jawab, serta hubungan dengan kehendak Tuhan?
Menjadi Jabariyah Saat Gagal
Ketika nilai ujian keluar dan tidak sesuai harapan, aku sering merasa pasrah dan mengatakan pada diri sendiri bahwa semua itu sudah menjadi takdir Allah. Aku tidak terlalu menyalahkan diri atau merasa bersalah, karena merasa semuanya telah ditentukan. Pandangan yang aku anut saat itu tidak jauh dari paham Jabariyah, yakni keyakinan bahwa manusia tidak memiliki kendali penuh atas kehidupannya, dan apa pun yang terjadi telah ditetapkan oleh Tuhan.
Menurut kajian psikologi, sikap semacam ini dapat menjadi bentuk perlindungan mental agar seseorang tidak terlalu stres dalam menghadapi kegagalan. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung mencari alasan eksternal atas kegagalan demi menjaga harga diri dan menghindari tekanan psikologis. Dalam konteks agama, menganggap kegagalan sebagai takdir bisa menjadi cara mudah untuk menerima kenyataan tanpa harus menghadapi rasa kecewa yang mendalam.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang ilmu kalam, sikap yang terlalu memandang takdir sebagai penentu mutlak tanpa melibatkan usaha manusia berpotensi menghilangkan tanggung jawab moral. Beberapa kajian menegaskan bahwa meskipun takdir itu ada, manusia tetap memiliki kewajiban untuk berusaha semaksimal mungkin demi meraih hasil terbaik. Oleh karena itu, menyalahkan takdir semata saat gagal sama saja dengan menghentikan proses perbaikan dan menutup peluang untuk belajar.
Menjadi Qadariyah Saat Berhasil
Berbeda dengan saat mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, ketika aku berhasil meraih nilai yang baik setelah melalui proses melawan rasa malas yang berat, aku justru menganggap keberhasilan itu sepenuhnya sebagai hasil kerja keras dan kemampuanku sendiri. Aku jarang mengaitkan keberhasilan tersebut dengan takdir atau pertolongan Allah. Padahal, dalam ajaran Islam, seperti yang dijelaskan dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 69, usaha manusia hanyalah bagian dari proses, sementara hasil akhir tetap berada dalam kehendak Allah.
Pandangan ini sangat mirip dengan paham Qadariyah yang menekankan kebebasan manusia dalam menentukan pilihannya dan menganggap manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas kesuksesan hidupnya. Dalam psikologi sosial, sikap ini dikenal sebagai self-serving bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk mengaitkan keberhasilan dengan usaha pribadi, sementara kegagalan dikaitkan dengan faktor luar atau takdir. Sikap semacam ini dapat menimbulkan kesombongan dan mengikis rasa syukur karena melupakan campur tangan Allah.
Menyeimbangkan antara Takdir dan Usaha
Dari pengalaman pribadi tersebut, aku mulai menyadari bahwa memandang kehidupan secara ekstrem melalui kacamata Jabariyah atau Qadariyah adalah sikap yang tidak tepat. Kegagalan bukan hanya soal takdir, tetapi juga tentang bagaimana aku berusaha dan belajar dari kesalahan. Begitu pula dengan keberhasilan, yang bukan semata hasil usahaku, melainkan juga berkat dan pertolongan Allah.
Dengan pemahaman ini, aku berusaha untuk menerima takdir tanpa meninggalkan ikhtiar. Ketika mendapatkan nilai buruk, aku tidak lagi hanya berkata, “Ini sudah takdir,” tetapi juga melakukan introspeksi apakah aku sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, ketika berhasil, aku berusaha untuk bersyukur dan menyadari bahwa usaha dan keberhasilan tersebut adalah karunia Allah yang patut disyukuri.
Renungan ini membuatku semakin sadar bahwa cara pandang kita terhadap takdir sangat berpengaruh terhadap sikap kita dalam menjalani hidup. Menjadi Jabariyah saat gagal dapat membuat kita pasrah secara berlebihan, sementara menjadi Qadariyah saat berhasil dapat memicu kesombongan dan melupakan rasa syukur. Keduanya perlu dihindari agar kehidupan dapat dijalani secara seimbang dan bermakna.
Aku berharap pengalaman ini dapat menginspirasi orang lain untuk lebih bijak dalam memandang takdir dan usaha. Tidak perlu takut gagal selama mau belajar dan berusaha, tetapi juga jangan lupa mengakui bahwa setiap keberhasilan bukan semata-mata hasil kerja manusia, melainkan juga anugerah dari Tuhan.
Pada akhirnya, kehidupan merupakan perpaduan antara kehendak bebas dan takdir yang telah digariskan. Manusia diberi kesempatan untuk berjuang dan memilih, tetapi hasil akhir tetap berada di tangan Allah. Dengan pemahaman ini, hidup terasa lebih ringan, penuh rasa syukur, dan senantiasa termotivasi untuk terus berusaha menjadi lebih baik.

