Namaku Rumaisha. Aku lahir sembilan belas tahun yang lalu di Poso, Sulawesi Tengah, tepatnya di Desa Toini, Jalan Trans Sulawesi, Dusun Bunta, sebuah kawasan di tepian pantai antara Toini dan Landangan.
Aku berasal dari keluarga perantau suku Jawa. Ayahku berasal dari Sleman, Yogyakarta, sedangkan ibuku berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Keduanya merantau ke Poso mengikuti kerabat yang bekerja sebagai guru hingga masa pensiun, sebelum akhirnya kembali ke tanah Jawa di usia senja.
Konon, jauh sebelum aku lahir, sekitar tahun 1999 hingga 2007, Poso pernah menjadi wilayah konflik berdarah bernuansa agama. Konflik itu mencabik harmoni dan kerukunan hidup antarumat beragama yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Namun, sejak aku lahir pada tahun 2008 dan tumbuh besar hingga usia tujuh tahun di sana, aku justru merasakan suasana yang damai, tenteram, dan penuh toleransi.
Aku dibesarkan di kompleks Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Amanah, yang dibangun pada masa pemerintahan Soeharto dan diresmikan oleh Menteri Penerangan kala itu, Harmoko.
Menurut cerita orang tuaku, kompleks pesantren ini pernah menjadi saksi sejarah kelam pada masa konflik. Saat itu, para penghuni pesantren terpaksa mengungsi demi menyelamatkan diri. Gedung-gedung pesantren yang kosong kemudian dijarah dan dibakar, hingga bertahun-tahun lamanya terbengkalai. Baru setelah tahun 2004, pesantren ini kembali diaktifkan, dan ayahku termasuk salah satu tokoh yang berperan dalam kebangkitan kembali pesantren tersebut.
Di lingkungan pesantren inilah aku lahir dan menghabiskan masa kecilku. Dalam ingatanku, Poso adalah kota yang ramah dan penuh toleransi. Kompleks tempat tinggalku, yang seluruh penghuninya beragama Islam, berbatasan langsung dengan kebun kelapa dan kebun kakao milik Om Rhonda, seorang warga Kampung Bada yang beragama Kristen. Di atasnya terdapat kebun milik warga Muslim dari Lawanga yang jarang dikunjungi sehingga ditumbuhi semak belukar. Meskipun letaknya berdekatan, tidak pernah terjadi gangguan, perusakan, ataupun pencurian antara kedua pihak. Hubungan antarwarga berjalan baik dan dilandasi rasa saling menghormati.
Setiap kali Om Rhonda datang bersama para pekerjanya untuk memanen kelapa, mereka selalu disambut dengan ramah oleh para santri. Meskipun mereka membawa parang panjang untuk bekerja, tidak pernah ada rasa curiga sedikit pun. Bahkan, Om Rhonda kerap memberikan beberapa butir kelapa muda kepada para santri dan kelapa tua untuk keperluan dapur pesantren. Bagiku, ini adalah potret indah kehidupan harmonis antarumat beragama di kotaku.
Tak jauh dari tempat tinggalku, tepat di tikungan jalan sebelum memasuki Kampung Toini, berdiri Pura Jagadnata, tempat ibadah umat Hindu. Pura ini menjadi pusat kegiatan keagamaan warga Hindu di Poso, meskipun di sekitarnya tidak terdapat satu pun warga yang beragama Hindu. Menariknya, pura tersebut tetap aman, terjaga, dan terawat. Warga Muslim Toini dan warga Kristen Bada sama-sama menghormati keberadaannya. Tidak pernah terjadi gangguan, apalagi penistaan, terhadap tempat ibadah tersebut. Inilah wujud nyata toleransi yang hidup dan berakar di Poso.
Ke arah Kota Poso, setelah melewati Kampung Toini, terdapat Kampung Landangan yang mayoritas warganya berasal dari etnis Jawa dan beragama Islam. Kampung ini berdampingan langsung dengan Kampung Tonipa, yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen. Meski berbeda keyakinan dan latar belakang, kedua kampung tersebut hidup berdampingan secara damai, rukun, dan saling menghormati. Mereka kerap bergotong royong dalam kegiatan sosial serta saling membantu di saat kesulitan. Semboyan khas masyarakat Sulawesi Tengah, “Torang Samua Basudara” (Kita Semua Bersaudara), benar-benar terasa di sana.
Sebagai seorang Muslim, aku dan keluargaku tidak pernah merasa kesulitan dalam menjalankan ibadah. Setiap bulan Ramadan, kami dapat melaksanakan pawai tarhib untuk menyambut datangnya bulan suci dengan aman dan tertib, bahkan ketika melewati wilayah yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Pada malam takbiran Idul Fitri maupun Idul Adha, warga Muslim Poso beramai-ramai berpawai mengumandangkan gema takbir di sepanjang Jalan Trans Sulawesi tanpa hambatan sedikit pun. Semua itu menunjukkan tingginya sikap saling menghormati antarumat beragama di daerah kami.
Kini, ketika aku telah dewasa dan mengenal sejarah panjang kota kelahiranku, aku menyadari betapa pentingnya menjaga warisan perdamaian dan toleransi. Konflik masa lalu boleh saja menyisakan luka, tetapi harmoni dan kasih sayang antarsesama anak bangsa telah menumbuhkan harapan baru. Aku percaya, keberagaman yang ada di Indonesia bukanlah sumber perpecahan, melainkan sumber kekuatan untuk membangun masa depan bangsa yang damai dan berkeadilan.
Semoga Poso dan seluruh negeri kita tercinta, Indonesia, senantiasa menjadi contoh nyata pelaksanaan nilai-nilai Pancasila, di mana perbedaan bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk mempererat persaudaraan.

