KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ، وَجَعَلَ الْإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي الْأَرْضِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَإِنْ مِّنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ إِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا

 

Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa: menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa bukan hanya terwujud di atas sajadah, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan tanah, air, udara, dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Ada akhlak manusia kepada Allah, ada akhlak manusia terhadap sesama manusia, dan tentu saja ada akhlak manusia terhadap sesama makhluk yang harus ditunaikan di dalam tatanan semesta ini. Kesemuanya membangun kualitas ketakwaan dan akhlakul karimah kita sebagai hamba Allah SWT.

Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah

Pada tahun 1971, seorang astronot bernama Edgar Mitchell memandang bumi dari pesawat antariksa. Bumi tampak sebagai satu bola biru kecil yang rapuh, mengambang di kegelapan tak berbatas—tanpa garis batas negara, tanpa sekat suku dan golongan. Jauh dari atas itu, penampakan air mendominasi permukaan bumi. Pengalaman melihat planet bumi itu mengubah cara pandang astronot berkebangsaan AS itu secara mendasar: seluruh kehidupan ternyata saling terjalin, dan bumi adalah satu ‘rumah bersama’. Perubahan cara pandang ini disebut overview effect, atau hasil dari pandangan yang menyeluruh. Tidak terpisah-pisah. Bumi adalah rumah bersama yang harus dipikirkan kebaikannya bersama-sama.

Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah

Kita menyadari bahwa manusia yang menghuni bumi ini, adalah makhluk yang paling muda diciptakan, tatkala makhluk-makhluk lain yang menghuni bumi, sudah ada jutaan tahun sebelumnya. Bahkan usia bumi ini sendiri sudah miliaran tahun.

Bumi adalah rumah bersama bagi seluruh makhluk yang membangun keseimbangan ekosistem. Satu sama lain, tunduk dalam tatanan keadilan dan keselarasan yang telah diciptakan oleh Allah SWT.

Jamaah Rahimakumullah

Saat ini daya rakus konsumsi manusia atas alam telah melampaui batas kemampuan bumi untuk memulihkan dirinya. Ada lembaga internasional bernama Earth Overshoot, yang menghitung fenomena ketidakseimbangan ini. Pada tahun 2021 saja, umat manusia mengonsumsi sumber daya setara 1,7 bumi—padahal kita hanya memiliki satu bumi. Kekurangan itu ditutup dengan menguras cadangan alam dan menumpuk limbah, terutama karbon di udara. Ini yang dalam ilmu lingkungan disebut dengan ecological footprint, jejak ekologis, atau carbon footprint, jejak karbon. Bagaimana kondisinya di 2026? Website lembaga tersebut, melaporkan bahwa per Juli 2026, angka overshootnya adalah 1,73 setara bumi. Artinya, ada kenaikan 0,3 poin hanya dalam waktu 5 tahun dari 2021.

Negara yang dilaporkan memiliki overshoot tinggi adalah Qatar (setara 10 bumi), Luxemburg (7,7 bumi), Singapore (6,8 bumi). Ini perkapita, artinya dengan negara seluas itu, pendapatan dan konsumsi tinggi pertahun, ternyata memiliki dampak tinggi pula bagi bumi. Jika dihitung skala massif, Amerika Serikat masih menempati posisi yang paling tinggi menjadi penyebabnya. Uniknya, negara Norwegia dan Belanda meskipun pendapatan perkapitanya tinggi, adalah pengecualian. Keduanya mengefisiensikan konsumsi dan menuju green economy.  Bangladesh dan Nigeria adalah dua negara dengan pendapatan perkapita rendah dan tidak menyumbang pada angka overshoot.

Jamaah Rahimakumullah

Jika kita memikirkan usia bumi yang diperkirakan berusia 4,54 miliar tahun, maka kerusakan bumi mengalami kecepatan dalam hitungan abad. Revolusi industri abad 18 mengubah radikal wajah bumi dan penumpukan karbon di udara tersebut. Kerusakannya bertambah cepat memasuki abad 20, dan melesat makin cepat dalam hitungan satuan tahun pada abad 21 ini.

Telah banyak yang mengingatkan bahwa dunia industry dan kini teknologi Artificial Intelligence (AI) yang rakus listrik dan rakus air itu, akan membawa dampak yang makin massif.

Jamaah Rahimakumullah

Mungkin terlalu besar jika kita membayangkan dalam skala kebumian tersebut. Namun, marilah kita menengok fenomena di Indonesia. Telah cukup banyak kejadian menunjukkan pada kita akan krisis ekologis yang terjadi. Namun, maukah kita merefleksikannya? Sampah dan polusi di kota bahkan desa, banjir, longsor, kekeringan, kelangkaan air, kebakaran hutan, kebakaran pemukiman dan pertokoan, kita saksikan hampir setiap tahun. Yang menyedihkan, korban yang menderita, seringkali justru bukan mereka yang menyebabkan kerusakan itu. Sementara yang menyebabkannya, karena memiliki kapital yang besar, bisa pindah atau melindungi diri dengan berbagai fasilitas yang seringkali justru menambah dampak krisis.

Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah

Mari kita memikirkan dari mana akar kerusakan atau krisis ekologis itu.

Sebab pertama adalah keterputusan pemahaman. Kita memahami agama secara sempit sebagai ritual pribadi demi keselamatan diri sendiri, sementara kerusakan di sekitar kita dianggap bukan urusan agama. Adanya kekeliruan bahwa kita memisahkan dunia dan akhirat, yang sakral dan yang profan, sehingga alam raya yang merupakan ‘ayat-ayat Allah’, atau bahkan ‘tajalli Allah SWT’ (pengejawentahan Allah) ini kehilangan maknanya. Alam raya berubah menjadi sekadar “sumber daya” untuk dikuras habis, sekadar komoditas untuk diepsloitasi.

Al-Quran Surat Al-Isra’ ayat 44 yang khatib baca di awal khutbah tadi, telah menegaskan: bahwa langit, bumi, dan seluruh isinya bertasbih kepada Allah. Angin, air, bebatuan, pepohonan, dan hewan—semuanya tunduk dan memuji-Nya.

Makhluk biotik dan abiotik, atau organik dan an-organik dalam pandangan manusia, hakekatnya adalah ‘hidup’ dan ‘menghidupi’. Setidak-tidaknya, sains modern menyebut bahwa setiap entitas makhluk memiliki unsur kimiawi, unsur fisika dan unsur biologis. Kesemuanya ini berkaitan dan saling mempengaruhi dalam ekosistem bumi bahkan semesta.

Dikatakan dalam ayat tersebut, semuanya itu bertasbih kepada Allah. Ini bukan pemahaman animistik, justru adalah ajaran tauhid. Semua makhluk me-Maha-Suci-kan dan meng-Esa-kan Allah, dengan cara-cara yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka. Hanya saja kita sebagai manusia tidak tahu.

Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah

Tidak kurang-kurang di ayat lain, Allah juga telah menegaskan dalam firman-Nya:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗ

مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kalian. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab. Lalu kepada Tuhan lah mereka semua itu akan dikumpulkan.” (QS. al-An‘am [6]: 38)

Ada yang menarik di sini, bahwa entitas makhluk hidup non-manusia disebut dalam ayat tersebut sebagai ‘umat’. Umamun, bentuk jamak dari umat.

Tatkala manusia dipilih Allah SWT menjadi ‘khalifah’, maka hakekatnya ia ditugaskan untuk menjaga keseimbangan antar-ciptaan tersebut. Tugas manusia adalah menegakkan ‘keadilan ekologis’, yakni semua entitas makhluk ciptaan Allah SWT tersebut berhak hidup sebagai sesama ‘umat Allah’. Jika dalam ilmu politik dikenal istilah ‘citizen’ atau warga-negara, yakni orang dalam lingkup negara, maka Islam melalui QS. al-An‘am [6]: 38) ini telah memperkenalkan konsep ‘umat bumi’, yang kelak semuanya akan dihimpun jadi satu di hadapan Allah.

Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah

Sebab kedua dari kerusakan ekologis adalah kerakusan manusia. Manusia-manusia rakus, melakukan over-konsumsi, baik skala individu, skala keluarga hingga skala yang lebih besar. Inilah yang menyebabkan kerusakan ekologis itu. Pelan-pelan dan menumpuk, hingga skala bumi.

Beliau telah mengingatkan tentang bahaya gaya hidup over-konsumerisme ini:

الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِيْ مِعًى وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِيْ سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

“Orang mukmin makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Umar).

Kekafiran di sini dikaitkan dengan nafsu konsumsi berlebih. Jadi, ada kekafiran dalam arti teologis, dan kekafiran dalam arti syahwat over-konsumsi.

Pada hadits lain Rasulullah SAW mengajarkan akan kaitan kesederhanaan dengan keimanan. Beliau mengulang-ulang sabdanya:

أَلَا تَسْمَعُوْنَ؟ أَلَا تَسْمَعُوْنَ؟ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيْمَانِ، إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيْمَانِ

“Tidakkah kalian mendengar? Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman.” (HR. Abu Dawud dari Abu Umamah)

Hadits ini mengajarkan bahwa pengendalian nafsu konsumtif adalah penanda kualitas iman. Konsumsi perut berupa makan-minum, konsumsi barang, konsumsi sumber energi (listrik dan sebagainya), dan konsumsi sumber daya yang telah nyata berdampak membebani bumi dan kehidupan.

Dalam ibadah puasa yang kita jalankan, baik puasa wajib atau sunnah, kita diajarkan imsak, atau menahan diri. Pada hakikatnya ini adalah latihan agar kita menghadirkan kemampuan mengendalikan syahwat konsumsi kita. Bumi ini perlu ‘ditirakati’, artinya yang tirakat adalah manusianya: berupa mengendalikan syahwat konsumsi berlebih.

Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah

Islam tidak hanya melarang kita merusak, tetapi juga mendorong kita memulihkan. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau bercocok tanam, (bahkan jikapun) hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik)

Hadits lainnya dalam riwayat Jabir, bahkan dijelaskan bahwa jika tanaman atau buahnya itu dicuri, maka itu tetap tercatat sebagai sedekah bagi pemiliknya. Ajaran ini menempatkan pertanian, penghijauan, pemulihan alam bukan semata kegiatan ekonomi, melainkan ibadah sosial yang pahalanya terus mengalir. Pulihnya alam berarti pulihnya kehidupan ekosistem yang lebih luas, melampaui hitung-hitungan untung-rugi yang sempit.

Hadits lain mengingatkan betapa pentingnya memulihkan alam melalui kegiatan penanaman dan mempertahankannya dari kerusakan.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ

عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنْ قَامَتْ عَلَى أَحَدِكُمْ الْقِيَامَةُ وَفِي يَدِهِ

فَسْلَةٌ فَلْيَغْرِسْهَا

“Jika pun hari kiamat telah menjelang di depan mata, sementara di tangan salah satu dari kalian masih terdapat bibit tanaman, maka tanamlah bibit itu.” (HR. Anas bin Malik)

مَنْ

قَطَعَ سِدْرَةً فِي فَلاَةٍ يَسْتَظِلُّ بِهَا ابْنُ السَّبِيلِ وَالْبَهَائِمُ

عَبَثًا وَظُلْمًا بِغَيْرِ حَقٍّ يَكُونُ لَهُ فِيهَا صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ

فِي النَّارِ

Barangsiapa memotong secara sia-sia, tidak adil, dan tanpa hak, sebatang pohon bidara yang menjadi tempat naungan para musafir dan binatang, maka Allah akan membawa kepalanya ke neraka dengan cepat.” (HR Abdullah Ibnu Habashi).

Dalam contoh hadits ini adalah larangan pada jenis pohon bidara (latin: zizipus mauritiana), namun artinya sebetulnya bisa pohon apapun karena kemanfaatan pohon adalah untuk ekosistem, bukan hanya manusia. Bagaimana jika deorestrasi ribuan hektar oleh perusahaan? Naudzu billah min dzaalik.

Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah

Sebagai penutup, marilah kita ingat kembali: bahwa hubungan kita dengan alam bukanlah hubungan penguasa dengan barang, melainkan hubungan sesama makhluk yang sama-sama bertasbih kepada Allah. Sebagai khalifah, kita memang boleh memanfaatkan alam, tetapi dengan mengendalikan nafsu konsumsi kita dan kewajiban merawat Alam.

Semoga dengan ilmu pengetahuan, seni dan landasan agama yang terus menerus kita pelajari, dapat memberi kita keluasan akan pandangan dan kesadaran. Kesadaran akan indahnya ciptaan Allah di muka bumi ini. Sehingga, kita sama-sama berikhtiar menciptakan keadilan ekologis serta menjaga keseimbangan ciptaan Allah SWT.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهٰى وَزَجَرَ. فَقَالَ تَعَالٰى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.