Pada suatu hari, di pinggiran trotoar berlubang jalan arah Boyolali, aku menemukan seonggok angkringan beratap terpal biru muda. Aku terpesona, aku pun mampir mau mencicipinya.

Dan rasa penasaran pun terjadi.

Aku cepat-cepat memesan teh hangat mondo, nasi kucing, dua tusuk telur puyuh, dan kerupuk. Renik makanannya khas angkringan Surakartanan.

Menurutku, makanan angkringan di mana pun hampir sama. Bedanya, dia menawarkan tikar yang lebar, panjang, atau yang lusuh.

Angkringan memiliki sejarah panjang. Dari Eyang Karso Dikromo, dari menu makanan, tempat, ekspansi, evolusi, penjual, dan antropologi pembeli.

Dulu, angkringan menawarkan sajian makanan dan obrolan. Karena itulah, di masa krisis moneter, angkringan menjadi “apotik kesedihan.”

Di angkringan Boyolali ini tak menawarkan menu makanan yang banyak, seperti angkringan di depan Bank Jateng, Kartasuro, atau angkringan di depan Pondok Al-Muayyad. Ia menawarkan waktu.

Pelanggan muda-tua datang silih berganti. Mereka seperti sarjana akhir (yang stres mengerjakan tugas akhir) selalu menghapus huruf- huruf di kelopak file layar laptopnya.

Istimewanya, angkringan ini berbeda. Angkringan ini bisa makan duluan (bayar akhir) dan dilayani oleh beberapa anak-anak kecil. Mungkin baru SMP. Aku melihat, tiap dia mengaduk teh yang diputar dalam gelas berukuran kecil, tampak semangat dan bulir-bulir cinta yang bening memancar di keningnya.

Aku melihat anak-anak ini menutup tutup gelas dengan sangat hati-hati. Dia berjalan ke beberapa pelanggan dengan tatih. Dia merungkuk dan mempersilahkan hidangan dari hasil kreasi tangannya yang mungil, dengan senyuman indah khas anak kecil.

Barangkali anak-anak ini jarang bermain HP. Atau menonton game, anime, dan video-video kocak ulah penghuni negeri ini. Tiap dia selesai melayani, waktu senggangnya dipakai untuk korah-korah perangkat angkringan. Dia tidak punya HP.

Ternyata, dunia anak-anak tak selamanya “dunia bermain”. Dunia mereka bisa bertaut dengan yang tua, juga yang rohani. Dengan kata lain, dunia anak yang dramatis diterima dengan ikhlas sebagai bagian perjuangan yang indah.

Mungkin kelu, mereka tak memiliki alasan karena gagal merangkai bahasa, tapi mereka menerima.

Itulah paradoksal dunia. Dunia anak tak selamanya bisa diartikan sebagai satu ruang “bermain”. Dunia mereka kadangkala tergantikan oleh suatu elemen ruang yang menyesakkan.

Di momen lain, aku singgah ke angkringan ini lagi. Karena letaknya tak jauh dari tugu Kartasuro. Tapi ada yang berbeda. Penjaganya bukan anak-anak kecil itu lagi. Tapi anak-anak agak lebih tua, perkiraan dua tahun di atas penjaga yang lama. Ternyata mereka bersaudara. Tepatnya empat belas (kalau nggak salah ingat) bersaudara.

Pandemi menghantam perekonomian masyarakat bawah. Angkringan ini masih terjaga.

Aku melihat, saudara anak-anak ini memiliki angkringan lain seberang jalan, samping Pom Baru Kartasuro. Di sinilah mereka baru bermain HP. Mereka bergerombol dan tampaknya HP temannyalah yang menjadi pemasok hiburan bersama.

Anak kecil empat belas bersaudara ini memiliki kreativitas. Dan kreativitas mereka bergerak ke masa depan.

Mereka memiliki giat proses yang ditempa dari bawah, dari tali kasih Ibu dan Bapak yang melayani semua saudaranya. Tentu saja proses ada tebing dan jurang yang kadangkala tak pernah selalu stabil.

Tapi tiba-tiba angkringan ini jarang buka. Bekasnya pun tak ditemuinya.

Sebuah tempat yang tak dikenal dunia, tergusur. Sebuah angkringan mungil di kota kecil di sebelah timur Boyolali, jadi sebuah nama yang “masa lalu”.

Komentar