“Milenial tak boleh andalkan ceramah ustaz di medsos!” Kalimat-kalimat serupa seringkali terlontar dari sejumlah pengamat yang resah lantaran banyak anak muda, tak hanya milenial tapi juga Gen Z, belajar agama dari internet khususnya media sosial. Media sosial yang secara egaliter mendudukan setiap orang sebagai user, tidak saja konsumen tapi juga produsen informasi, pada akhirnya menciptakan apa yang disebut desentralisasi wacana, termasuk wacana keagamaan.

Otoritas-otoritas keagamaan lama digeser oleh orang-orang baru yang merebut pengaruh dengan cara-cara baru melalui media baru. Lahirlah “ustaz-ustaz” influencer di mana kompetensi keagaman bukan lagi jadi yang utama sepanjang ia punya kapabilitas menarik perhatian di belantara dunia maya. Di sinilah konsep matinya kepakaran yang ditawarkan Tom Nichols menemukan relevansinya.

Di tangan ustaz-ustaz yang dipertanyakan kepakarannya ini, tak jarang distorsi wacana keislaman terjadi. Misalnya, ada Ustaz F yang bilang membela nasionalisme tidak ada dalilnya, Ustaz E yang menuding Nabi Muhammad pernah sesat, hingga Ustaz K, Ustaz H, dan ustaz-ustaz sejenis yang dakwahnya penuh stereotype pada perempuan.

Persis di situlah kecaman demi kecaman bermunculan. Anak-anak muda ingin dikembalikan menuju khittah mengaji yang benar. Kepada ulama-ulama yang punya perangkat keilmuan lengkap dalam mengeluarkan fatwa, tidak tekstualis, dan jelas sanadnya. Ulama-ulama moderat yang kontra ekstremisme dan tidak melegitimasi kekerasan. Ulama-ulama yang kebanyakan berasal dan berdiam di pesantren.

Namun sayangnya, semakin hari ustaz-ustaz influencer justru makin digandrungi kawula muda. Berbagai riset mutakhir menunjukkan fakta itu. INFID dan Jaringan Gusdurian misalnya, baru-baru ini merilis hasil survei mengenai persepsi anak muda terhadap intoleransi dan kekerasan pada 2020. Hasilnya, ada pergeseran terhadap tokoh-tokoh muslim yang diidolakan.

Pada riset yang sama di 2016, tokoh muslim idola didominasi nama-nama figur moderat. Seperti Gus Dur, Gus Mus, Zainuddin MZ, Cak Nun, KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan. Pada 2020, daftar itu diisi oleh nama-nama yang banyak muncul di media sosial. Tak lain adalah ustaz-ustaz influencer itu tadi, termasuk Ustaz E dan Ustaz H.

Saat pertanyaan dikerucutkan pada tokoh muslim muda idola, dengan batas usia maksimal 40 tahun, hasilnya makin terang benderang. 10 dari 11 peringkat ditempati oleh para ustaz influencer. Ustaz H, Ustadz E, dan Ustaz F duduk di tiga besar. Hanya ada satu nama yaitu Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto yang tak masuk kategori mereka di rangking paling bontot.

Berturut-turut responden menyebutkan alasannya yaitu inspiratif, ceramahnya mudah dicerna dan lucu, gaul dan kekinian, sering muncul di TV dan media sosial, serta penampilannya keren. Tidak ada satu pun alasan secara eksplisit menyebutkan kompetensi. Bukti bahwa lagi-lagi kepakaran memang sudah mati.

Hanya dalam empat tahun, jika mengacu survei tersebut, peta “otoritas” keagamaan berubah total. Mereka yang menguasai media sosial, pandai melakukan personal branding, dan jago memasarkan wacana keislaman terbukti menguasai panggung.

Sah dan wajar belaka jika kelompok moderat meradang, tapi fakta tidak bisa dibelokkan. Harus diakui, zaman benar-benar sudah berubah. Satu-satunya kontra narasi yang paling relevan dilakukan untuk kembali menguasai panggung adalah dengan merebut pengaruh.

Keberhasilan ustaz-ustaz influencer tidak terlepas dari strategi yang jelas dan terukur. Target mereka dari awal jelas, anak-anak muda urban. Memang hanya dengan meraih perhatian anak muda, dalam hal ini Gen Z, sebuah akun media sosial akan berumur panjang.

Pendekatan yang dilakukan juga sangat kekinian, mulai dari tampilan konten bernuansa indie, busana kasual, hingga penyampaian yang gaul. Salah seorang ustaz influencer yang menyasar K-wavers misalnya, menyapa pemirsa kanal Youtubenya dengan, “Annyeonghaseo, ayuhannaas…”

Jejaring juga memainkan peran tak kalah penting. Ustaz-ustaz influencer ini saling terhubung satu sama lain dan punya beberapa fokus isu yang dikampanyekan bersama seperti gerakan hijrah, anti pacaran, hingga nikah muda. Tak ketinggalan, sejumlah komunitas dibangun demi melanjutkan kaderisasi.

Di sisi lain, kerja-kerja kampanye Islam moderat bukan berarti nihil. Sebaliknya, sangat layak diapresiasi. Beberapa tahun belakangan portal-portal moderat menduduki rangking teratas situs keislaman yang paling banyak dibaca sejalan dengan jumlahnya yang terus tumbuh subur.

Akan tetapi, belum banyak figur dari kalangan ini yang kompeten secara keilmuan, bernarasi inklusif, dan berhasil meng-influence anak muda melalui media sosial dengan pendekatan yang kekinian. Salah satu tantangan yang dihadapi kelompok moderat adalah untuk “break the bubble” atau keluar dari sekat kelompok sendiri untuk menjangkau publik yang lebih luas.

Pada 2020, Ustaz Ahong meraih anugerah Maarif Award dari Maarif Institute sebagai ustaz milenial moderat yang mampu menerabas sekat. Ustaz yang bernama asli Ibnu Kharish ini, melalui kanal Youtube-nya dinilai mampu menghadirkan konten dakwah yang merubuhkan tembok golongan-mahzab. Dengan keilmuannya yang mumpuni hasil nyantri di beberapa pesantren, ia menyajikan materi berorientasi moderatisme agama yang banyak dicari oleh anak muda terutama di area perkotaan.

Ada pula nama Habib Husen Jafar Al-Hadar yang kerap berkolaborasi dengan Tretan Muslim dan Coki Pardede yang aktif mensyiarkan pandangan Islam moderat di Youtube. Ia yang pernah nyantri di Bangil, Pasuruan dan mempelajari filsafat Islam di bangku kuliah itu mengusung konsep dakwah dengan canda kepada yang disebutnya sebagai “pemuda tersesat”. 

Realitas bahwa anak muda terutama digital native menjadikan media sosial sebagai sumur untuk menimba ilmu agama khususnya dari para ustaz influencer tidak bisa ditampik. Demi merebut panggung dari influencer-influencer yang kerap mendistorsi wacana keislaman kita butuh banyak lagi sosok-sosok seperti Ustaz Ahong dan Habib Jafar yang kompeten dan penuh kreativitas mendakwahkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.