OPINI – Semalam, sepulang dari pertemuan RT, saya merenungkan satu frasa yang sangat akrab di telinga kita setiap kali menanyakan kabar seseorang: ora ono opo-opo. “Piye kabare?” “Alhamdulillah, sae. Ora ono opo-opo.”
Ungkapan itu menggambarkan keadaan suwung, yakni keadaan ketika tidak ada kejadian apa-apa. Namun, jika direnungkan lebih dalam, keadaan ora ono opo-opo ternyata bukanlah kebetulan. Ia merupakan buah dari kewaspadaan manusia, dari sikap eling lan waspada.
Coba kita tengok keseharian kita:
- Pulang kantor: alhamdulillah, tidak mengalami kecelakaan.
- Bangun pagi: alhamdulillah, rumah aman dan tidak ada kebakaran.
- Anak pulang bermain: alhamdulillah, tidak jatuh atau terluka, serta tidak berkelahi dengan temannya.
Alhamdulillah, tidak ada apa-apa. Keadaan sederhana ini menyimpan filosofi yang dalam: kita sedang menerima hasil dari kebiasaan berjaga-jaga dan mengantisipasi bahaya.
Sayangnya, kebiasaan preventif belum mengakar dalam kehidupan kita. Kasus kebakaran permukiman bisa menjadi cermin.
Kita jago bergotong royong saat darurat, tetapi lemah bergotong royong sebelum darurat. Ketika api berkobar, warga berkumpul membawa ember dan bahu-membahu memadamkan api sambil menunggu petugas pemadam kebakaran tiba. Setelahnya, warga menggalang donasi untuk membantu pemulihan korban. Semua itu tentu heroik dan patut disyukuri.
Namun, sadarkah kita? Alat pemadam api ringan (APAR) seharga Rp350 ribu di dapur dianggap mahal, sampai rumah senilai Rp350 juta ludes dilalap api.
Mengapa tindakan preventif belum menjadi kebiasaan? Setidaknya ada tiga sebab.
Kebiasaan “Nanti” dan Salah Paham tentang Takdir
Kita tumbuh bersama kalimat-kalimat seperti “belum kejadian kok”, “ah, aman-aman saja”, atau “sudah takdir, tidak ada yang bisa mengelak, sabar ya”.
Ekspresi keberagamaan kita lebih sering berwujud doa agar dilindungi dari api, sementara kompor tidak pernah diperiksa, colokan listrik dipasang sembarangan, dan pengisi daya ponsel dibiarkan menyala tanpa diawasi. Edukasi kepada anak dan keluarga pun terlalaikan. Sikap sembrono akhirnya menjadi kebiasaan.
Padahal, agama tidak kurang-kurang memerintahkan kita untuk berpikir dan berikhtiar agar musibah akibat ulah manusia bisa dihindari. Dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. apakah ia cukup bertawakal dan membiarkan untanya lepas. Beliau menjawab, “Ikatlah, lalu bertawakallah.” Tawakal datang setelah ikhtiar, bukan menggantikannya.
Sayangnya, kecerdasan kita belum diarahkan ke sana. Lihat pula musibah yang lebih besar: kebakaran hutan. Musibah ini merupakan buah dari kesembronoan, kebijakan yang ngawur, serta kerakusan kelompok elite yang hanya memikirkan akumulasi kapital.
Otak Terbiasa Memikirkan yang Tampak
Api itu abstrak sebelum ia ada. Kabel listrik yang menumpuk di belakang kulkas tidak tampak berbahaya. Manusia Indonesia, seperti manusia pada umumnya, lebih sering belajar dari kejadian daripada dari kemungkinan.
Dalam edukasi kebakaran, cara yang masih efektif adalah bercerita dan menunjukkan contoh nyata. Kesadaran berbasis data masih kurang, padahal hal itu penting.
Lalu, bagaimana mengedukasi tentang keadaan abstrak bernama ora ono opo-opo itu? Kita sering mengajak anak mengucapkan alhamdulillah ketika mendapat sesuatu: nikmat makan, perjalanan yang lancar, dan tidur yang nyenyak. Kini, penting pula mengajak mereka mensyukuri keadaan ora ono opo-opo, yakni keadaan terbebas dari mala dan marabahaya.
Pada titik ini, saya teringat konsep mubah dalam fikih. Dalam pandangan positif, mubah adalah keadaan ketika seseorang tidak sedang melanggar syariat, meskipun juga tidak sedang menunaikan kewajiban. Tidur dan leyeh-leyeh adalah mubah. Betapa kerennya itu, sebab saat leyeh-leyeh, seseorang tidak sedang mencuri, tidak sedang membakar hutan, dan tidak sedang melakukan apa pun yang melanggar syariat. Gegoleran saja. Aman, ora ono opo-opo.
Preventif Dianggap Biaya, Bukan Investasi
Membeli detektor asap seharga Rp75 ribu dianggap boros. Membeli tabung APAR dianggap memberatkan. Padahal, satu APAR bisa menyelamatkan sebuah rumah.
Dengan alat seharga puluhan ribu hingga kurang dari dua ratus ribu rupiah yang disiapkan sejak awal, api bisa segera dipadamkan. Rumah aman. Api tidak merembet ke rumah-rumah tetangga. Tidak ada apa-apa, ora ono opo-opo.
Rezeki Bernama “Terhindar dari”
Ora ono opo-opo adalah hasil kecerdasan manusia sekaligus sebuah filosofi yang dalam.
Ketika orang tua menelepon anaknya, lalu bertukar kabar dan terdengar jawaban, “Ora ono opo-opo kok, Nduk, Le,” sesungguhnya itu adalah karunia berupa rezeki yang tak terkira: rezeki berupa terhindar dari segala macam marabahaya.
Dan di balik jawaban orang tua di ujung telepon itu, sebetulnya ada “opo-opo”-nya: rindu dan ingin berjumpa, belaka.
Godean, 12 Oktober 2026

