Bagi orang yang cukup lama menggeluti kesejarahan Islam tentu mengetahui bahwa sumber sejarah Islam paling awal adalah karya Ibn Ishaq yang ditulis antara tahun 120–150 H. Namun tidak sedikit yang mengira karya Ibn Hisyam lebih duluan daripada Ibn Ishaq. Jika dilihat dari tahun hidupnya, Ibn Hisyam terpaut dua generasi setelah Ibn Ishaq. Ibn Hisyam yang merupakan orang Basrah wafat pada 234 H, sementara Ibn Ishaq yang orang Madinah wafat sekitar tahun 151 H dan dilaporkan sempat bertemu dengan al-Zuhri (w. 124) dan meriwayatkan darinya.

Beberapa sarjana muslim juga menilai keunggulan karya Ibn Hisyam atas karya Ibn Ishaq. Basrah, tempat lahir dan besarnya Ibn Hisyam, pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga melahirkan banyak sarjana pilih tanding dalam bidang syair, bahasa dan riwayat secara kritis, termasuk Ibn Hisyam. Akan tetapi hal itu tidak memiliki pengaruh signifikan karena sumber klasik sirah tetaplah lahir di Madinah. Tidak hanya karya Ibn Ishaq, beberapa karya historiografi juga tercatat lahir di Madinah seperti al-Maghazi karya al-Waqidi dan beberapa karya sirahnya yang hilang namun dikutip oleh Ibn Sa’d dalam juz pertama dan ketiga dari Tabaqat-nya. Bahkan, meski nama Ibn Ishaq memiliki reputasi buruk di mata ahli hadis (menurut standar ilmu hadis), karya Ibn Ishaq tetaplah sangat penting karena ia memberi kita kerangka yang sempurna untuk membayangkan kondisi sosial masyarakat semasa Nabi hidup.

Meski karya Sirah (historiografi) tidak masuk dalam sumber kanon Islam yang suci (Qur’an dan hadis), namun ia memberi kita pengetahuan dasar perjalanan hidup Nabi sedari lahir hingga wafatnya, terutama bagaimana Nabi membangun agama Islam. Sebenarnya ada sumber lain yang sama pentingnya untuk melengkapi Sirah Ibn Ishaq, yaitu al-Maghazi karya al-Waqidi yang spesifik berbicara hidup Nabi pada periode Madinah, dan Tabaqat karya Ibn Sa’d, namun karya-karya tersebut hanya diminati oleh para ulama mutaqaddimin dan ahli hadis. Berbeda dengan karya Sirah yang diterima dan diminati secara luas karena ia berisi narasi yang lengkap dan terutama berbicara tentang kisah hidup Nabi dari alif hingga ya’. Sehingga Sirah menjadi rujukan otoritatif baik dari segi tarikh maupun agama.

Banyak dari penulis biografi dan semua yang berkaitan dengan Muhammad merujuk Sirah, dan pada waktu yang sama menjauhkan diri darinya. Mereka merujuk Sirah untuk mendukung sebuah pandangan atau mengajukan sebuah pandangan seraya menafikan kebenaran narasi dalam Sirah tanpa menggunakan metode yang memadai.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan Sirah Ibn Ishaq sebagai sumber yang valid. Kita bisa mengandalkannya untuk sebagian besar periode Makkah dan sebagian periode Madinah. Sisanya, meragukan, terutama pada peristiwa irrasional dan kejadian-kejadian besar di belahan dunia. Namun kita juga tidak bisa skeptis sepenuhnya, sebab narasi utama peristiwa dan nama-nama tokohnya terekam di dalam Sirah, seperti orang-orang pertama yang masuk Islam sesuai urutannya, lalu nama-nama pembesar Quraisy yang menentang dakwah Muhammad, aktor peperangan Badar baik dari kaum Quraisy maupun kaum muslim dan peristiwa penting lainnya. Informasi tersebut penting dipakai sebagai bahan utama seraya diurai secara kritis baik dari segi matan maupun isnad.

Sirah Ibn Ishaq merupakan karya paling awal yang sampai pada kita yang menggunakan isnad. Jika orang menyebut Malik sebagai yang pertama memperkenalkan isnad melalui Muwatta’-nya, maka kurang tepat karena karya tersebut lahir setelah Sirah-nya Ibn Ishaq. Alasan lainnya adalah kita kehilangan karya-karya semasa seperti milik Musa ibn Uqbah dan Abu Ma’shar al-Madani.

Banyak di antara perawi (isnad) Ibn Ishaq merupakan orang yang hidup di masa Umawi yang konon memiliki karya dokumenter peperangan (al-Maghazi) dan dokumenter peristiwa (akhbar) seperti Ashim ibn Umar ibn Qatadah (w. 120 H), Ya’qub ibn Utbah (w. 128 H), Abdullah ibn Abu Bakr ibn Hazm (w. 130 H), dan al-Zuhri yang masyhur itu (w. 124 H). Nama-nama tersebut merupakan sumber langsung Ibn Ishaq dan spesialis bidang riwayat di generasinya.

Ada nama lain dari generasi awal tersebut yang sama masyhurnya, yaitu Urwah ibn Zubair (w. 94 H) dan kakek Ibn Ishaq sendiri, Yasar al-Muttalibi. Selain keduanya, ada beberapa nama ahlul ilmi dan memiliki fokus di bidang yang sama, namun sayang nama mereka tidak terekam dalam Sirah. Fakta ini menjawab pertanyaan bagaimana ilmu Maghazi (riwayat) muncul dan mengapa di tangan para spesialis antara tahun 100 H atau sebelumnya hingga akhir masa Umawi (tahun 120 H sampai 130 H)? Yaitu semacam kesadaran kolektif untuk menghidupkan masa lalu dan menyingkapnya secara akademis, sebelum pengetahuan itu terputus seiring berlalunya generasi yang lebih awal.

Urwah ibn Zubair dan al-Zuhri adalah dua nama yang penting untuk diurai secara fokus sebab banyak riwayat yang ditransmisikan dari keduanya, dan terdapat beberapa isykal yang bermunculan mengenai maghazi (peperangan) dan sirah Nabi.

Bermula pada sekitar tahun 80 H, lahir kesadaran terhadap sejarah dan pentingnya masa lalu sebagai asas bagi semual hal. Nama-nama yang muncul dalam wacana baru ini adalah mereka yang memiliki perhatian terhadap persoalan fikih, baik di Kufah seperti al-Sya’bi dan di Madinah seperti Urwah. Jadi, Urwah ibn Zubair lebih dulu dikenal sebagai ahli fikih, baru kemudian namanya difungsikan dalam hadis dan lalu dalam sirah. Oleh Ibn Shihab al-Zuhri, Urwah disebut sebagai orang yang memopulerkan isnad di Madinah. Dari masa ini hingga tahun 120 H, wacana sejarah telah menjadi topik yang mengisi ruang-ruang publik dan diakomodir oleh istana. Seperti rekaman yang sampai pada kita bahwa Umar ibn Abd al-Aziz menyuruh Ashim ibn Umar agar kisah-kisah peperangan dibacakan di masjid (Jami’) Damaskus. Dari periode ini lahirlah kerangka kajian sejarah dalam bentuk maghazi.

Lalu pada periode berikutnya kajian sejarah telah masuk pada perkembangan baru. Pada masa ini terbentuk dasar-dasar yang dipakai oleh Ibn Ishaq, Musa ibn Uqbah dan Abu Ma’shar. Dan nama yang muncul pada masa adalah Ibn Shihab al-Zuhri (w. 124 H).

Al-Zuhri pada dasarnya merupakan tokoh inti yang memainkan peran penting dalam mengumpulkan ‘bahan’ dalam maghazi dan hadis yang masih bercampur antara keduanya (yang kemudian dibedakan, maghazi masuk kategori sejarah, sementara hadis masuk dalam sumber dan ilmu syariat). Al-Zuhri juga disebut sebagai orang yang membakukan isnad. Keberadaan nama dan perannya juga cukup besar (dominan) dalam hadis, lalu kemudian dalam fikih, dan terakhir dalam sirah/maghazi, secara berurutan. Pada poin inilah sejarawan kontemporer isykal, apa atribut sebenarnya pada al-Zuhri? Sebagai muassis (pelopor) hadis atau sirah? Lalu mana yang menjadi cabang, sirah sebagai cabang hadis, atau sebaliknya?

Tidak dapat dipastikan bahwa tarikh nabawi (sejarah kenabian) muncul dari hadis pada abad pertama hingga seperempat abad kedua. Sementara tarikh ikhbari (sejarah pengabaran) lahir di Iraq, sehingga tidak ada hubungannya dengan hadis (Madinah). Perkataan Nabi juga tak banyak ditemukan dalam catatan sirah maupun maghazi. Jadi, sangat memungkinkan jika perhatian terhadap hadis belum ada pada abad pertama. Apalagi antusiasme terhadap masa lalu tidak selalu dimovitasi oleh hasrat keagamaan. Sehingga kemungkinan besarnya, (ilmu) hadis lahir dari ‘rahim’ sejarah, bukan sebaliknya. Dan sebagian besar hadis yang lain lahir dari fikih.

Jika demikian, pertanyaan berikutnya adalah, siapakah al-Zuhri sebenarnya, sejarawan kenabian atau muhaddits (ahli hadis)? Karena hadis mendominasi sejarah pada abad kedua dan ketiga, maka al-Zuhri identik dengan muhaddits, bahkan ia mungkin merupakan pencipta (baca: penulis, tidak kurang tidak lebih) hadis secara umum di Madinah. Dan isnad dalam hadis cenderung meragukan — untuk tidak mengatakan fiktif. Riwayat hadis dari Urwah yang diambil dari Aisyah tidak dapat diterima, sama halnya dalam sirah. Hal ini bukan berarti bahwa riwayat tersebut tidak sahih atau mendekati sahih, sebab fungsi isnad hanya memberi jaminan materinya.

Menurut Hichem Djait, karya-karya generasi sebelum Ibn Ishaq, termasuk al-Zuhri, tidaklah benar-benar berbentuk secara utuh. Yang mereka tinggalkan adalah dokumenter verbal yang tidak mengandung informasi berbobot sama sekali. Jika tidak demikian, mengapa generasi berikutnya seperti Musa ibn Uqbah dan Ibn Ishaq, dan setelahnya, al-Waqidi, merasa perlu untuk menyunting (menulis ulang) dalam bentuk tertulis? Dan mengapa isinya sarat dengan dukungan terhadap khalifah Abbasiyyah (seperti laporan beberapa sumber)dan cenderung condong pada daulah Abbasiyyah?

Ada hubungan antara berdirinya daulah Abbasiyyah dengan upaya penyuntingan yang bersamaan dengan matangnya kerja-kerja keislaman di setiap bidang keilmuan dan pemikiran. Seperti madrasah akhbar (riwayat, berita) yang muncul di Kufah, dan madrasah nasab yang juga memulai kerja pembukuan dan penyuntingan pada awal masa daulah Abbasiyyah.

Namun, terlepas dari itu semua, perlu ditegaskan bahwa para sarjana muslim, dimulai dari al-Zuhri dan sebelumnya, bukanlah tawanan nafsu atau dalam kendali otoritas negara (daulah/khalifah). Selain kesalehan mereka, Malik misalnya, mereka juga memiliki tingkat kebebasan, kepekaan dan objektivitas yang kuat terhadap kebenaran, serta memiliki hasrat meneliti dan kecintaan seorang sejarawan untuk mengungkap masa lalu

Komentar