Islamsantun.org. Di ponpes Qudsiyyah Putri kami selalu menekankan pentingnya medahulukan ahlak dari pada ilmu. Berhenti ketika ada guru yang sedang lewat, mencium tangan ustadzah ketika bertemu, mlaku ngesot dengan lutut ketika di majlis, selalu bilang “gih yai” jika diutus pengasuh. Semua itu diajarkan demi mendidik santri-santri akan pentingnya ahlak. Ilmu yang tinggi tanpa dibarengi ahlak mulia akan mejadi seperti iblis yang sombong.

Banyak wali santri yang bilang bahwa sejak menjadi santri ponpes Qudsiyyah Putri mengalami perubahan yang sangat jauh dibandingkan sebelum mondok. Memang saya selalu menekankan pentingnya boso dengan orang tua. Kalau kamu malu mulailah dari yang mudah dulu. Gih..mboten..sampun..dereng.. karena kalau langsung boso kromo secara mendadak pasti ditertawakan orang tua, kata saya di sela-sela mengajar. Bahkan ada santri yang tidak kerasan baru sebulan mondok. Wali santri juga mengapresiasi perubahan anak walaupun baru sebulan.

Memang tidak semua santri bisa langsung berubah ahlaknya. Semua butuh proses yang panjang dan tentu saja merubah karakter yang sudah gawan bayi (tabiat) itulah yang paling sulit. Tentu masih ada beberapa santri yang belum terlihat perubahannya, namun saya yakin dengan suasana lingkungan pondok pesantren akan merubah sedikit demi sedikit. Paling tidak mereka masih berada dalam jalan yang lurus dan tidak tambah nakal.

Ketika Imam Syafi’i boyongan dari pondoknya Imam Malik menuju rumah ibunya, beliau mengetuk pintu rumah seraya mengucap salam. Setelah dijawab ibunya, beliau ditanya. Man anta? Muhammad bin Idris, jawab Imam Syafi’i. Bimaa ji’ta? Bil ilmi wal adabi, sahut beliau. Ibunya pun marah dan tidak membukakan pintu dan bilang, engkau bukanlah anakku..pergi dari sini. Imam Syafi’i pun bersedih, apa salah beliau sampai ibunya tidak mau bertemu padahal baru boyongan dari pondok.

Di tengah kesedihannya, beliau bertemu dengan seorang syaikh dan ditanya. Kenapa engkau sedih? Saya baru pulang dari pondok tapi ibu saya marah dan tidak mau membukakan pintu, jawab beliau. Bagaimana ceritanya? Tanya syaikh. Ibu saya bertanya, bimaa ji’ta? Saya jawab bililmi wal adabi, setelah itu ibu saya marah dan tidak mengakui saya sebagai anaknya. Itu kesalahanmu, coba jawab bil adabi wal ilmi, pasti ibumu tidak marah.

Akhirnya Imam Syafi’i pulang kembali dan mengetuk pintu. Setelah ditanya bimaa ji’ta? Beliau pun menjawab bil adabi wal ilmi. Akhirnya ibunya baru membukakan pintu dan bilang. Ini baru anakku.