OPINI – Sebagai warga negara Indonesia yang baik, kita pasti tidak ingin melihat berita negatif yang berseliweran di beranda media sosial akhir-akhir ini.

Kebakaran hutan di Papua Selatan, Pulau Sumatera, dan Pulau Kalimantan yang tidak kunjung reda semakin memudarkan optimisme kita terhadap masa depan Indonesia.

Seakan menambah penderitaan, dana bencana menjadi bancakan pejabat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan berbagai bencana di Indonesia.

Tingkah laku para kepala daerah di lokasi bencana pun menjadi hidangan penutup kekecewaan warga di sana.

Ada yang berkomentar bahwa udara baik-baik saja, ada yang berseloroh, “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” ada yang menantang mahasiswa untuk turut serta memadamkan kebakaran, bahkan ada yang terang-terangan berobat ke Singapura bersama istri tercinta.

Hal serupa pernah terjadi ketika Bupati Aceh Selatan pergi umrah saat daerahnya dilanda banjir besar dan tanah longsor akibat penggundulan hutan yang masif. Bagaimana dengan pemerintah pusat? Jawabannya, laa yamuutu wa laa yahya.

Akumulasi berita di atas membuat warga langsung tepok jidat. Penulis yakin sebagian dari kita pasti mengalami doomscrolling, istilah psikologis yang menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terus-menerus ‘melahap’ berita negatif meskipun hal itu menjengkelkan dan melelahkan.

Menurut Sharma et al. (2022), doomscrolling merupakan kecenderungan untuk memberikan perhatian berlebihan pada berita, peristiwa, dan hal-hal negatif terkini yang pada akhirnya berdampak pada tingkat kecemasan, ketidaknyamanan, dan stres.

Caci maki dan sarkasme warganet di kolom komentar media sosial para pejabat bukanlah hal yang tabu lagi. Jika kita berfokus pada satu hal dari perilaku para pejabat tersebut, bisa dikatakan bahwa inilah yang dinamakan matinya empati.

Apa yang Harus Dilakukan?

Para pemengaruh di media sosial sudah menyuarakan urgensi penanganan kebakaran hutan yang asapnya bahkan sudah sampai ‘traveling’ ke negara tetangga.

Sebagai pendidik, sudah saatnya kita mengejawantahkan makna mu’amalah ma’al bi’ah dengan lebih mengerucut pada pentingnya empati terhadap sesama makhluk dan ciptaan Tuhan lainnya.

Tumbuhan bukanlah barang mati yang bisa kita babat kapan saja, dan binatang bukanlah makhluk yang bisa kita lenyapkan semaunya. Semua ciptaan Tuhan mempunyai tugas dan fungsi sesuai dengan takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya. Hal inilah yang terkadang luput dari akal sehat manusia, baik para pelaku pembakaran hutan maupun para pengambil kebijakan di negara kita.

Penanaman nilai-nilai mu’amalah ma’al bi’ah bisa kita mulai dari rumah sendiri. Anak-anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah perlu diajarkan nilai-nilai universal tentang pentingnya menjaga hubungan dengan lingkungan, alam, dan sesama manusia.

Di tingkat pendidikan formal pada semua jenjang, perlu ada kegiatan yang eksplisit atau praktik baik yang menanamkan pentingnya nilai-nilai empati dalam kehidupan peserta didik. Dengan tujuan Indonesia Emas 2045 yang digaungkan pemerintah, generasi merekalah yang akan menggantikan posisi para pejabat kita saat ini.

Sebagai renungan, ada kalanya kita perlu mengingat firman Allah Swt. dalam Surah Al-Hasyr (59:21):

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir”.