OPINI – Semua peserta rapat mendadak terdiam ketika ustaz Haris Amir Falah mengungkapkan bahwa dia terpapar ajaran radikal sejak SMA.
“Saya mulai dikenalkan paham radikal oleh guru Matematika saat duduk di bangku kelas 2 SMAN 46 Jakarta. Namun, setelah belajar, saya justru lebih radikal dari guru saya itu,” sebut Haris saat menjadi narasumber di Rapat Kerja Teknis Analisis Barang Bukti Buku Tindak Pidana Terorisme yang diselenggarakan BNPT, di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Haris lahir di Jakarta pada tanggal 4 Juli 1964. Ia dibesarkan di lingkungan komunal Betawi yang religius, dekat dengan tradisi Nahdliyin, Nahdlatul Ulama. Sejak SMA, dia bergabung dalam kegiatan organisasi Rohani Islam (Rohis).
Dari Rohis inilah ia bertemu dengan guru Matematikanya di SMA, yang kemudian mencuci otak Haris. Guru tersebut mengajak Haris mengikuti pengajian dengan pembinaan selama tiga hari. Setelah itu, ia mendapatkan doktrin-doktrin radikal secara terus-menerus. Pada hari ketiga, Haris memutuskan untuk hijrah ke dalam kelompok tersebut.
Doktrin tak berhenti di situ saja. Setelah baiat awal, Haris diserahkan ke sel jaringan yang lebih tinggi. Haris bertemu dengan guru lain, yaitu ustaz Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar. Hubungan guru dan murid ini berlangsung secara intensif selama puluhan tahun. Bahkan, Haris didapuk memegang jabatan strategis sebagai Ketua Lajnah Perwakilan DKI Jakarta.
Selama bertahun-tahun, Haris mengikuti ustaz Abu Bakar Ba’asyir. Ketika ustaz Abu membuat Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Haris menjadi penggerak di bawah tanah. Ketika ustaz Abu mendirikan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT, 2008), Haris menjadi Amir (Ketua) JAT Wilayah Jakarta.
Bertahun-tahun, Haris melakukan kajian dan aktivitas radikal. Bahkan, dia menjadi aktor utama dalam pengumpulan dana infak dan penyediaan logistik untuk membiayai operasional pelatihan paramiliter teroris di Jalin Jantho, Aceh. Dia juga menjadi pendoktrin salah satu pelaku bom di Jalan Thamrin.
Selama menjadi radikalis aktif, Haris membaca buku-buku transnasional radikal. Ia membaca buku karya Sayyid Quthb, Ma’alim fit Thariq. Ia juga membaca karya Hasan al-Banna dan Abul A’la al-Maududi. Dari sinilah Haris ingin melakukan jihad. Ia bahkan mewajibkan dirinya sendiri untuk meruntuhkan pemerintahan sekuler dan mendirikan khilafah di Indonesia.
Dari kisah Haris ini, terlihat bahwa sekolah juga dapat menjadi tempat berkembangnya ajaran radikalisme. Mungkin tak semua sekolah, tapi guru dan sekolah Haris memberi fakta itu.
Guru dan sekolah yang seharusnya membuka nalar anak justru menjadi tempat pertama yang mengajarkan doktrin ekstrem kepada anak. Itulah mengapa Amerika Serikat selalu menuduh dan mencurigai sekolah Islam sebagai tempat bernaungnya teroris sejak peristiwa 11 September.
Tuduhan Amerika langsung menggeneralisasi madrasah. Dalam The Madrassa Myth yang terbit di The New York Times pada 2025, Bergen dan Pandey menjelaskan bahwa Amerika menganggap sekolah pendidikan Islam (madrasah) sebagai “pabrik teroris”.
Amerika Serikat saat itu menyisir semua pendidikan Islam. Amerika menganggap madrasah di berbagai negara sebagai tempat indoktrinasi kelompok ekstremis. Sekolah Islam dianggap terlibat dalam aksi terorisme global.
Padahal tidak seperti itu. Amerika salah. Tidak semua sekolah Islam terlibat dalam jaringan teroris global. Memang, sekolah Islam mengajarkan keislaman. Tapi tidak semua sekolah Islam mengajarkan doktrin ekstremisme. Islam dan ajaran ekstrem itu berbeda.
Karena itulah, saya setuju dengan hasil analisis Bergen dan Pandey bahwa Amerika salah total dalam melihat sekolah Islam. Justru sebagian besar teroris al-Qaeda berpendidikan Barat dan sekuler. Jadi, generalisasi Barat pasca-2001 sekadar untuk mengkambinghitamkan madrasah. Dan itu sangat tidak adil.
Saat terjadi konflik di perbatasan Afghanistan-Pakistan, sekolah Islam justru membantu jutaan orang miskin dan anak yatim piatu. Sekolah-sekolah di Afghanistan ini memberikan pendidikan gratis, makanan, dan tempat tinggal. Sekolah Islam ini justru menjadi jaring pengaman sosial ketika infrastruktur negara telah hancur (Abbas, T, 2020).
Lahirnya Taliban dari sekolah Islam adalah pengecualian. Ini persis seperti Haris yang lahir dari doktrin guru dan Rohis sekolah SMAN 46 Jakarta. Taliban lahir dan berkembang menjadi kelompok radikal dalam konteks militerisasi yang sengaja dilakukan oleh intelijen Pakistan (ISI), dengan dukungan pendanaan besar selama Perang Dingin untuk melawan Uni Soviet.
Bahkan, kurikulum jihad bersenjata saat itu sempat didukung oleh buku-buku teks yang dicetak dengan bantuan dana Amerika Serikat. Jadi, ideologi Taliban adalah produk rekayasa geopolitik perang, bukan esensi asli dari institusi madrasah konvensional (Rashid, A, 2000).
Jadi, guru dan sekolah menjadi faktor penentu pertumbuhan pengetahuan anak sekaligus dapat menjadi faktor kemandegan pengetahuan anak. Taliban dan Haris sama-sama terdoktrin oleh ajaran yang berakar pada paham radikal transnasional. Akhirnya, Haris mengikuti pelatihan militer di Jalin Jantho, Aceh.
Jika Taliban menjadi radikal akibat keterlibatan intelijen Pakistan, Haris menjadi radikal setelah mengikuti ustaz Abu dan bergabung dengan JAT. Haris ikut proyek latihan militer dalam Tanzim Al-Qaeda Indonesia, sebuah koalisi gabungan dari sisa-sisa sel Jemaah Islamiyah (JI), Darul Islam (DI), dan JAT yang digerakkan oleh Dulmatin, tokoh teroris bom Bali.
Bagaimana titik balik Haris hijrah ke pelukan Indonesia?
Saya masih ingat ketika bertandang ke padepokan Haris sekitar 2022. Di sana, para teroris masih berkeliaran dengan leluasa. Pakaian, celana cingkrang, janggut, dan rambut terurai orang-orang yang wira-wiri di padepokan itu menambah kesan liar.
Azan Asar berkumandang. Saat itu, Haris mengimami salat. Sementara beberapa anak buah Haris masih berjaga. Haris membaca basmalah dengan suara nyaring, seperti lazimnya di kalangan Nahdliyin. Setelah salat, dia bercerita bahwa pengalaman menjadi radikal, berpaham takfir, dan terlibat dalam terorisme justru mendatangkan lebih banyak mudarat, sehingga mendorongnya untuk menjadi moderat.
“Menjadi radikal tidak enak. Mau makan daging kambing saja harus bersembunyi. Kalau jadi moderat gini enak. Saya bisa jadi guru. Bisa berdiskusi dengan terbuka,” sebutnya sambil melihat padepokannya yang asri.
Menurut Haris, pemikiranlah yang sangat berbahaya. Bukan bom maupun teror. Haris mengaku tidak pernah ngebom, tidak pernah membunuh. Tapi anak-anak yang bersentuhan dengannya yang ngebom.
Karena pemikiran dapat menjadi berbahaya, Haris merasa perlu mematahkan pikiran radikal. Dia perlu melawan pemikiran radikal dan mengarahkannya menuju pemikiran moderat. Kini, dia membina teroris. Dia mengajar di SMP Darul Ma’arif Jakarta dan SMA Negeri 46 Jakarta. Semua ini semata-mata untuk mengabdi ke Indonesia. Haris melawan!

