OPINI – Saya penggemar game. Apa pun bentuknya. Permainan tradisional, konsol, sampai yang ada di platform digital. Semua saya “makan”. Sama saja.

Ternyata semakin ke sini, kesimpulan itu keliru. Terutama ketika melihat game yang dimainkan oleh Gen Alpha, yang dalam hal ini anak saya sendiri. Beda ternyata. Dan banyak.

Game di generasi saya cukup sederhana. Anda berkompetisi, meraih misi, hormon dopamin naik. Cukup.

Sekarang? Game punya objective yang berbeda.

Dulu, game seperti anak tangga. Kita perlu menyelesaikan satu anak tangga, untuk mengetahui ada apa di anak tangga berikutnya. Tidak banyak alternatif, semua adalah soal experience. Semakin lama bermain, semakin jago, dan semakin cepat juga kita naik anak tangga.

Game generasi Alpha tidak seperti itu. Minimal, game yang dimainkan oleh anak saya.

Arena kompetisi tetap diperlukan untuk mendorong hormon adrenalin, namun jalur alternatif kompetisinya lebih lunak. Anda kalah pada satu arena, maka Anda bisa berpindah ke arena lain. Semudah menggeser ibu jari Anda.

Sependek pengamatan saya melihat anak saya bermain game, tidak ada lagi misi sulit yang membuat anak saya frustrasi. Semua selalu ada alternatifnya.

Kesulitan menyelesaikan misi? Tanyakan pada ChatGPT. Bosan dengan misinya? Cari platform lain. Masih bosan juga? Cari game dari device lain. Pindah ke PC atau konsol PlayStation? Bisa.

Pada satu sisi, hal ini bagus buat anak saya. Pikirannya jadi open-minded. Tidak mudah terjebak pada satu hal seperti bapaknya. Masalahnya, banyaknya pilihan itu kadang membuat saya khawatir.

Ketika bosan, anak saya tidak hanya bisa berpindah dari satu game ke game lain, tapi juga berpindah dari satu dunia ke dunia lain.

Game dalam kacamata anak saya, bukan lagi soal menang-kalah. Ada dunia yang bikin ia penasaran untuk dijelajahi. Ada karakter yang bisa ia sesuaikan dengan tren anak seusianya. Pun ada user lain yang bermain bersamanya, sehingga menghasilkan interaksi sosial “serius” di dalamnya.

Di sini, Roblox adalah satu contoh yang paling jelas di antara semuanya.

Anak saya bisa masuk ke beragam permainan dengan pengalaman yang berbeda di Roblox. Hari ini jadi polisi. Besok jadi arsitek. Lusa entah jadi apa. Setiap dunia yang dimasuki anak saya, punya cerita dan aturannya sendiri.

Saya jadi paham mengapa Roblox begitu menarik bagi anak saya. Di sana, anak saya tidak hanya bermain, tapi bisa mencoba berbagai identitas dan menemukan kemungkinan untuk bertemu dengan kelompok yang saya tidak bisa bayangkan jumlah variannya.

Semakin sering melihat anak saya seperti itu, semakin sadar pula saya bahwa ini bukan hanya soal bermain, tapi juga soal bagaimana anak-anak melihat dunia.

Dulu, saya mengenal banyak hal melalui buku, televisi, sekolah, atau percakapan riil dengan orang lain. Sekarang, game di tangan anak saya tidak hanya soal senang-senang, tapi juga jadi jendela dunia.

Roblox memperlihatkan perubahan itu.

Pada mulanya, saya kira Roblox hanyalah tempat anak-anak bermain. Semua imajinasi saya ketika kecil, bisa divisualisasikan melalui layar. Sama seperti dulu saya main benteng-bentengan bersama teman sebaya, kini anak saya main benteng yang ada gambarnya betulan.

Sampai kemudian saya menemukan cerita dari teman saya, Agus Wedi, tentang bagaimana game bisa digunakan untuk propaganda ekstremis.

Jujur, saya terkejut ketika menemukan berita bahwa ada propaganda ISIS yang bisa menyaru ke dalam Roblox. Memodifikasi dari desain game Grand Theft Auto (GTA) bertajuk Salil al-Sawarem. Di sana kekerasan dibungkus dengan permainan menyenangkan. AK-47 dan bom berseliweran menjadi sesuatu yang heroik.

Melihat itu, pesan yang sampai ke saya jadi cukup sederhana: kekerasan bukan hal yang mengerikan lagi, tapi bisa ditonton menjadi petualangan seru.

Ketika mengetahui itu, saya awalnya tidak terlalu memikirkannya. ISIS sebagai institusi sudah lama mati. Kalaupun masih ada, jauh dari lingkungan saya. Sepertinya keluarga saya tidak akan terdampak.

Namun, berita tentang seorang remaja berusia 14 tahun di Singapura membuat saya jadi agak waswas. Baru Januari 2026 kemarin, si remaja ini diketahui mendukung ISIS.

Indikasi ini muncul ketika si remaja membuat video pro-ISIS dengan menggunakan rekaman permainan di Roblox dan Gorebox. Bahkan adegan eksekusi ala ISIS ia rekonstruksi dengan peran anggota ISIS.

Saya cukup terkejut membaca berita itu. Lalu mengingat kembali. Singapura tidak begitu jauh, Januari tidak terlalu lama, dan platform yang sama sudah ada di tangan anak saya.

Bukan, bukan soal Roblox tiba-tiba menjadi sesuatu yang menakutkan bagi saya. Melainkan karena saya baru menyadari, begitu mudah sebuah permainan bisa menjadi medium untuk propaganda ekstrem.

Saya berani bertaruh, remaja itu tidak menjadi pendukung ISIS hanya karena Roblox. Saya yakin, sebelum ia bermain Roblox ia sebenarnya sudah punya benih-benih ideologi ekstrem tersebut. Roblox hanya menjadi medium ekspresinya, bukan penyebab tunggal dari aksi radikalisasinya.

Namun di sisi lain, saya jadi ingat anak saya sendiri.

Tentu saja saya tidak sedang membayangkan anak saya tiba-tiba jadi radikal hanya karena bermain Roblox. Kekhawatiran saya bukan itu. Concern saya lebih kepada hal-hal kecil yang barangkali luput dari perhatian orang tua.

Simbol-simbol kekerasan beragama yang didesain dengan cukup keren. Lelucon the others yang dianggap musuh sehingga patut dihabisi. Sampai cerita-cerita orang Muslim dengan orang kafir.

Oke saya tahu, di Roblox, kajian tentang Islam yang lebih moderat dan “normal” ada banyak. Jauh lebih banyak. Tapi, harus dipahami juga, cukup hanya satu saja wajah ekstremis di platform yang sama maka kekhawatiran saya sebagai orang tua akan muncul seketika.

Saya bisa jelaskan itu kenapa.

Memang, saya bisa mengajari anak saya mengaji. Mengajarinya salat. Mengajaknya ke musala dekat rumah. Menjelaskan bahwa Islam mengajarkan kebaikan dan perbedaan bukan alasan untuk membenci. Namun, saya tidak sepenuhnya bisa mengontrol apa yang ada dalam dunia digitalnya. Dengan siapa ia bertemu, dengan kelompok apa ia masuk.

Bagi kelompok ekstremis, saya tahu bahasa agama menawarkan sesuatu yang lebih mudah bikin penasaran bagi anak muda: identitas yang beda, pertemanan yang solid, dan tawaran aktivitas yang tidak bisa dilakukan di dunia nyata. Masalah muncul, jika aktivitas itu termasuk menjadi ekstremis.

Tidak bisa dilakukan di dunia nyata oke, bagaimana kalau melakukannya di dalam platform yang orang tuamu tidak perlu tahu kamu begitu?

Itulah kekhawatiran terbesar saya sebagai orang tua. Bahwa selama ini saya hanya sibuk mengajari anak saya di dunia nyata tanpa benar-benar masuk ke dunianya.

Dari sana lalu saya sadar, menjadi orang tua lebih sulit daripada menamatkan game apapun. Dulu, kalau saya kalah dalam game, saya bisa mengulang permainan dari awal.

Tapi sekarang, kalau anak saya salah memahami dunia, memangnya di sebelah mana saya bisa memencet tombol restart-nya?