Islamsantun.org. Keluarga merupakan suatu kelompok sosial pertama dimana individu berada dan akan mempelajari berbagai macam hal penting dan mendasar melalui pola asuh dan binaan orang tua atau anggota keluarga lainnya. Dalam mempersiapkan kehidupan anak di masa depan, keluarga mempunyai tugas yang sangat fundamental. Dasar-dasar perilaku, sikap hidup, dan berbagai kebiasaan ditanamkan kepada anak sejak dalam lingkungan keluarga (Srifariyati, 2016: 229).

Hal tersebut karena tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan kebiasaan anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.  Serta mengingat bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab dari orang tuanya, maka hal tersebut memberikan pengertian bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya, dalam keadaan penuh ketergantungan dengan orang lain, serta tidak mampu menolong dirinya sendiri. Karena sesungguhnya, seorang anak lahir dalam keadaan suci bagaikan meja lilin berwarna putih (a sheet of white paper avoid of all characters) (Laelatul Badriyah, 2015: 1).

Upaya penerapan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pendidikan akhlak baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Dalam keluarga metode aktivitas orang tua akan menjadi panutan bagi putra-putrinya. Akhlak yang mulia terjadi bukan dengan sendirinya, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama lingkungan keluarga, pendidikan dan masyarakat pada umumnya (Sholeh, 2016: 62).

Pendidikan dalam keluarga secukupnya masih sangat sempit, meliputi perilaku anggota keluarga, hubungan orang tua dengan anak maupun hubungan orang tua dengan orang lain di luar lingkungan, dan lain-lain dimana sesuatunya akan berpengaruh dalam jiwa anak. Sehingga orang tua tidak hanya dituntut sebagai pendidik saja, melainkan juga harus bisa menjadi teman dan suri tauladan bagi anak-anaknya. Oleh karena itulah keluarga dalam hal pendidikan merupakan sumber pendidikan utama, sebab segala kecerdasan intelaktual manusia pertama-tama diperoleh dari orang tua dan para anggota keluarganya sendiri (Zulkifli Agus, 2017: 4).

Pendidikan akhlak secara formal meliputi segala hal yang memperluas segala pengetahuan akhlak manusia tentang dirinya sendiri dan tentang dunia yang tempat mereka hidup serta terdapat arahan yang benar bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan membentuk hati nurani yang baik melalui suatu ajaran maupun keteladanan seseorang.

Dalam Islam, pendidikan akhlak merupakan pendidikan baik secara jasmaniah maupun rohaniah, sehat dan mampu diwujudkan dalam kehidupan manusia, menjadi pendidikan budi pekerti dan tingkah laku yang baik serta berilmu pengetahuan, beragama, berbudaya dan beradab. Ini menunjukkan bahwa ajaran Islam memberikan suatu perhatian kepada manusia terkait dengan suatu baik dan buruknya perbuatan, serta terdapat tujuan yang benar berdasarkan sumber ajaran Islam untuk menciptakan manusia yang mempunyai akhlak (Salwati, 2018: 5).

Pendidikan akhlak dalam keluarga tidak selalu ditujukan pendidikan orang tua kepada anak saja, melainkan juga kepada masing-masing pasangan. Saling menjaga keharmonisan sebagai pasangan suami dan istri juga merupakan salah satu kunci terciptanya akhlak mahmudah dalam keluarga, serta hal ini juga berpengaruh terhadap akhlak anak.

Karena akhlak seseorang yang berada dalam suatu keluarga dan satu lingkungan sangat mempengaruhi akhlak lainnya. Di mana nilai-nilai pendidikan akhlak dalam keluarga tersebut mencakup tiga hal, pertama, akhlak kepada Allah. Akhlak inilah yang akan menjadi pondasi manusia dalam beramal agar amalannya dihitung sebagai pahala dan tidak sia-sia.

Kedua, akhlak kepada diri sendiri. Dengan tertanamnya akhlak kepada diri sendiri, seseorang dapat memberikan uswah hasanah kepada orang lain. Nasihat yang ia berikan kepada orang lain tidak serta merta hanya diucapkan saja, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, akhlak kepada anggota keluarga. Tugas utama bagi kepala keluarga adalah menanamkan akhlak kepada anggota keluarga, baik kepada pasangannya maupun anak keturunannya. Kepala keluarga akan dimintai pertanggung jawaban pula kelak di akhirat tentang amalan-amalan anggota keluarganya di dunia (Fatkhur Rohman Nurun Najmi, 2020: 8).

Oleh: Maesaroh. Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan.