Islamsantun.org. Saya akan melanjutkan DJJ saya dengan Prof. Mun’im Sirry terkait pemikiran revisionisme beliau, terutama yang tertuang dalam bukunya: Rekonstruksi Islam Historis. Diskusi kali ini memasuki Bab 7: ”Menemukan Kembali Sumber Awal: Perdebatan Metodologis”. Beberapa poin kita petakan dulu agar jalannya DJJ ini lebih ”terarah”.

Pertama: sumber-sumber tradisional Muslim yang dibincang dalam bab ini terfokus pada sirah dan maghazi (biografi Nabi dan ekspedisi awal Islam). Meski begitu, benang-benang merah metodologis dan pendekatan yang digunakan oleh kedua kubu (tradisionalis dan revisionis) dalam ”membongkar” sirah dan maghazi, berlaku pula bagi sumber-sumber tradisional lainnya. ”Khithah” mereka tetap sama; percaya akan historisitas tradisi bagi kaum tradisional, dan skeptis bahkan menolak bagi kaum revisionis. Tapi, sebagaimana ditunjukkan lebih dari sekali oleh Prof. Mun’im dalam Rekonstruksi Islam Historis, seiring diskusi yang kondusif, akademik dan terpelajar, dua kubu dengan haluannya masing-masing itu akhirnya bertemu di ”new common grounds”. Di ”grounds” itu tentu mereka tidak harus sampai pada kata sepakat. Tapi paling tidak satu-sama-lain saling memahami ”jalan pikiran” dan ”haluan” yang dipedomani masing-masing. Sebuah tradisi akademik yang bermartabat dan harus kita tiru.

Kedua: sudah tersinggung di poin pertama, yaitu bahwa mereka yang berdebat secara metodologis adalah kaum tradisionalis dan kelompok revisionis. Beberapa nama yang berdiri di kelompok pertama antara lain dua sarjana Jerman; Andreas Gorke dan Gregor Schoeler. Sedang di kubu satunya di antaranya ada Stephen Shoemaker. Metodologi yang mereka kembangkan sudah-barang-tentu bersumbu pada khithah mereka masing-masing; kepercayaan pada historisitas narasi riwayat di kubu tradisionalis, dan skeptisisme di kubu revisionis. Semua varian metode dan pendekatan masing-masing lahir dari khithah dasar itu.

Sumber-sumber naratif Muslim berupa sirah atau kronik berasal dari 150-200 tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Keterlambatan dari wafat Nabi itu merupakan pangkal masalah dalam mengakses abad pertama Islam. Menjadi lebih problematik ketika tidak ada bukti-bukti lain yang mendukung gambaran kemunculan Islam yang disajikan dalam kitab-kitab sirah itu. Ekskavasi arkeologis, seperti ”dikeluhkan” Prof. Mun’im, tidak boleh dilakukan di Mekah dan Madinah, dua wilayah yang diasosiasikan dengan kehidupan Nabi. Sebagian peninggalan sejarah Islam sudah diganti dengan bangunan dan hotel mewah. Juga sumber-sumber non-Muslim secara kuantitas tidak cukup untuk memberikan gambaran bagaimana Islam muncul dan berkembang.

Melihat kenyataan itu, John Wansbrough, ”engkong”-nya kaum revisionis, dan para pengikutnya memandang tidak mungkin kita mengetahui kehidupan Nabi dan berbagai peristiwa penting abad pertama Islam. Alasan Wansbrough, seperti telah disebutkan berulang-kali, sumber-sumber itu bukan sejarah apa yang terjadi, melainkan sejarah keselamatan. Sumber-sumber naratif Muslim mencerminkan perkembangan belakangan yang diproyeksikan kepada periode Nabi (projecting back). Namun, sebagaimana diingatkan dengan bijak oleh Prof. Mun’im, mencampakkan sumber-sumber Muslim bukanlah sikap kesarjanaan yang terpuji. Mencampakkan semua itu sama saja dengan sikap tidak kritis dan menelan mentah-mentah setiap informasi yang terkandung dalam sumber-sumber tersebut. Sama-sama tidak terpuji.

Jika demikian, metode apa yang dapat digunakan untuk ”memperpendek” jarak antara kehidupan Nabi dan sumber-sumber itu? Bagaimana proses pelacakan sumber-sumber awal itu dapat dilakukan? Sejauh mana dan/atau sampai kepada siapa saja sumber-sumber itu bisa dilacak? Apakah sampai ke saksi mata yang melihat Nabi? Ataukah generasi berikutnya? Informasi otentik apa saja yang dapat kita peroleh dari pelacakan dan metode yang digunakan? (h. 199-200). Itulah pertanyaan-pertanyaan utama yang hendak dijawab oleh Bab 7.

Salah satu yang pertama menulis sirah dan mengajarkan tentang biografi Nabi adalah ‘Urwah bin Zubair. Kedudukan ‘Urwah sebagai keponakan Siti Aisyah dan guru bagi dua penulis sirah terkemuka, Ibnu Ishaq dan Ma’mar bin Rasyid, menjadikannya sebagai penulis dan pengajar sirah bereputasi. Wim Raven menyebut surat-surat ‘Urwah berisi sirah Nabi kepada ‘Abdul Malik bin Marwan dan Walid bin ‘Abdul Malik sebagai ”a first attempt at historiography”. Tak aneh jika beberapa sarjana coba melacak sumber-sumber awal tentang sirah Nabi hingga kepada ‘Urwah. Jika pelacakan itu berhasil maka sumber-sumber Muslim itu dapat dikatakan berasal dari abad pertama dan ditulis cukup awal (tidak belakangan).

Gorke dan Schoeler (dua sarjana tradisionalis) coba menyajikan ”narasi paling awal” tentang biografi Nabi dengan meneliti berbagai riwayat yang dihimpun dan disirkulasikan pada abad pertama Islam oleh ‘Urwah. Melalui komparasi berbagai versi korpus ‘Urwah dan menganalisis secara teliti, Gorke dan Schoeler berusaha membedakan tradisi otentik yang berasal dari ‘Urwah dan riwayat-riwayat yang secara keliru diatribusikan kepadanya. Delapan tema tentang kehidupan Nabi, menurut Gorke dan Schoeler, dapat dianggap berasal dari ‘Urwah dengan tingkat keyakinan tinggi (h. 209-210). Delapan tema itu adalah:
1. Pengalaman Nabi menerima wahyu pertama di Gua Hira.
2. Reaksi orang-orang Mekah terhadap ajakan Nabi; Hijrah pengikut Nabi ke Ethopia; Pertemuan Nabi dengan delegasi Aus dan Khazraj di ‘Aqabah, dan hijrah Nabi bersama Abu Bakar menuju Yatsrib.
3. Perang Badar.
4. Perang Uhud.
5. Perang Khandaq dan persoalan dengan Bani Quraidhah.
6. Perjanjian Hudaibiah antara Nabi dan orang-orang Quraisy Mekah.
7. Tuduhan perzinahan terhadap ‘Aisyah dan turunnya wahyu atas kasus tersebut.
8. Fath Makkah dan perang Hunain (h. 206).

Sekarang giliran wakil dari kaum revisionis menanggapi usaha Gorke dan Schoeler di atas. Stephen Shoemaker mempersoalkan baik metode maupun kesimpulan Gorke dan Schoeler serta sarjana-sarjana tradisionalis lainnya terkait konfidensi mereka terhadap sumber-sumber abad pertama tentang biografi Nabi. Shoemaker mempertanyakan penggunaan metode validasi narasi-narasi awal tentang biografi Nabi berdasarkan isnad. Bagi Shoemaker, kritik isnad bukanlah cara yang tepat untuk menemukan kembali sumber-sumber awal, karena kerap kali tidak didukung oleh bukti-bukti independen dari luar narasi itu sendiri. Shoemaker memang memuji Gorke dan Schoeler yang telah menerapkan kritik isnad secara cukup canggih. Analisis mereka juga disebut Shoemaker sebagai ”the best efforts thus far” dalam mengidentifikasi narasi-narasi sirah awal. Namun, dalam amatan Shoemaker, kedua sarjana Jerman itu kerap mengambil kesimpulan melampaui apa yang disuguhkan oleh data-data yang ada.

Terlepas dari itu, Shoemaker mengakui beberapa elemen narasi pengalaman Nabi menerima wahyu pertama itu memang dapat diatribusikan kepada ‘Urwah. Di sini tampak sarjana revisionis seperti Shoemaker pun menyadari kemungkinan pelacakan sumber-sumber Muslim hingga ke abad pertama Islam. Dan Schoeler, sampai batas tertentu, telah berhasil membuktikannya. Seraya mengakui bahwa pengalaman kewahyuan Muhammad dalam versi yang elementer pasti sudah beredar cukup awal, Shoemaker tetap memberi catatan bahwa gambaran yang detil tentang peristiwa tersebut kemungkinan berkembang secara perlahan dengan berbagai penambahan sana-sini sesuai pengalaman Muslim dalam periode belakangan.

Bagi Shoemaker, tidak tertutup kemungkinan versi detilnya dipengaruhi oleh model pewahyuan dalam Alkitab, yaitu kitab Yesaya 40 ayat 6: ”Ada suara berkata, ‘Bacalah!’ Maka aku bertanya, ‘Apakah yang harus aku baca?’ ‘Seluruh umat manusia adalah seperti rumput, dan semua semaraknya seperti bunga di padang.”’ Intinya, model pewahyuan dalam Yesaya sangat mirip dengan surat al-‘Alaq, namun dalam perkembangan ketika al-Qur`an sudah dikodifikasikan dan menjadi Kitab Suci, ada kebutuhan untuk mengaitkan model pewahyuan itu dengan episode tertentu dalam hidup, yaitu permulaan menerima wahyu (h. 213-216).

Seperti terbaca di atas, ada pengakuan dari Shoemaker atas kerja keras Gorke dan Schoeler (juga Motzki) dalam ”memperpendek” jarak antara sumber-sumber Muslim dan abad pertama Islam. Herbert Berg, seorang revisionis yang skeptik-radikal sekali pun, mengakui bahwa Gorke dan Schoeler telah berhasil mendekatkan gap 200 tahun antara kejadian dan sumber yang ada hingga kurang dari 100 tahun. Shoemaker pun akhirnya mengakui bahwa sumber-sumber Muslim tidak sedemikian belakangan, sebagaimana yang sejauh ini diduga. Di pihak lain, sarjana-sarjana tradisionalis pun semakin menyadari problem serius dan tantangan sulit yang menghadang para historian yang hendak merekonstruksi sejarah Islam awal berdasarkan sumber-sumber Muslim berbahasa Arab. Yang jelas, pengakuan para pihak dan keterbukaan mereka itu kemudian melahirkan beberapa titik temu (common grounds) di antara mereka (h. 220-221).
o

Judul status ini memang ”Menemukan Muhammad Historis”. Tapi Prof. Mun’im di akhir Bab ”Menemukan Kembali Sumber Awal” ini mengatakan bahwa untuk menemukan Muhammad historis itu ternyata rumit. Di mana letak kerumitan itu? Saya akan coba memetakannya, setelah itu saya akan minta fatwa ke Prof. Mun’im apakah pemetaan saya itu sudah tepat atau perlu pembenahan.

Pertama: Shoemaker memuji Gorke dan Schoeler yang sudah berhasil ”memangkas” jarak antara sumber-sumber Muslim dan abad pertama Islam. Tapi, seperti terbaca di atas, abad pertama itu ”hanya” sampai ‘Urwah yang lahir tahun 23 Hijrah, berarti 13 tahun dari wafatnya Nabi. Jadi perlu dilacak siapa yang memberitahu ‘Urwah segala hal tentang Nabi, dalam hal ini peristiwa pewahyuan awal kepada Nabi. Kalau tidak ditemukan, maka dalam ilmu hadis kasus seperti ini termasuk hadis mursal; ada sahabat Nabi yang ”dihilangkan” yang seharusnya ia menjadi ”penghubung” antara Nabi dan ‘Urwah di mana sahabat itu menjadi saksi langsung peristiwa yang dialami Nabi. Jarak antara ‘Urwah dan Nabi bahkan semakin jauh kalau yang dijadikan ”contoh kasus” adalah pewahyuan awal yang terjadi 13-an tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Jarak antara pewahyuan awal dan kelahiran ‘Urwah saja sudah 30-an tahun. Jarak itu harus ditambah lagi dengan usia ‘Urwah ketika mulai melakukan surat-menyurat dengan khalifah Bani Umayyah seputar sirah Nabi. Hitung-hitungan ini jelas ”menguntungkan” kaum revisionis yang ”keukeuh” berpedoman bahwa sumber-sumber Muslim ditulis belakangan.

Pertanyaan saya ke Prof. Mun’im, meski beliau saya tandai sebagai seorang revisionis, ”Apa yang dilakukan kelompok tradisionalis untuk menjawab pertanyaan di atas, yakni siapa sahabat penghubung antara Nabi dan ‘Urwah? Siti ‘Aisyah-kah sahabat itu?”

Kedua: Saya teringat Kata Pengantar Jalaluddin Rakhmat untuk buku Karen Armstrong, Muhammad Prophet for Our Time, edisi terjemahan bahasa Indonesia. Kang Jalal memberi judul untuk Kata Pengantar-nya: ”Karen Armstrong, Simpatik tapi Tidak Kritis.” Inti dari Pengantar itu, Armstrong dipuji Kang Jalal sebagai sarjana Barat yang simpatik terhadap Islam, simpatik terhadap Nabi Muhammad, tapi di saat sama Armstrong dikritik Kang Jalal sebagai tidak kritis. Letak ketidak-kritisan Armstrong terutama ketika ”begitu saja” mengutip riwayat tentang proses wahyu pertama kepada Nabi Muhammad. Digambarkan bahwa ketika itu Nabi menggigil ketakutan, disertai kecemasan, kebingungan, dan kesedihan. Begitu pulang, beliau berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku! Selimuti aku!” sampai hilang rasa takut itu.

Mengomentari hal itu, Kang Jalal berkata, ”Tidak pernah wahyu datang dengan cara yang ‘mengerikan’ seperti ketika ia datang kepada Nabi Saw. Bukankah beliau adalah kekasih Rabbul `Alamin, yang tanpa dia, seluruh alam semesta tidak akan diciptakan. Atas dasar apa Jibril menakut-nakuti Nabi dan menyakitinya? Kisah itu menunjukkan bahwa peristiwa menerima wahyu yang seharusnya mencerahkan, malah menggelisahkan. Kisah itu bertentangan dengan gambaran Al-Quran Surah Al-An`am ayat 125: ‘Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”’ Dengan tegas Kang Jalal mengatakan riwayat turunnya wahyu seperti itu harus kita tolak karena bertentangan dengan Al-Quran.

Pertanyaan saya ke Prof. Mun’im terkait poin kedua ini, seperti ini: ”Sebut saja Kang Jalal adalah orang Syiah. Bisakah kritiknya di atas terhadap Karen Armstrong menjadi semacam ‘pemantik’ bagi kaum revisionis untuk tidak hanya fokus pada sumber-sumber Muslim Sunni? Kiranya dalam tradisi Syiah ada beberapa sumber tradisional yang ditulis tidak ‘terlalu belakangan’ atau ‘agak lebih awal’.”