Islamsantun.org. Menyusun modul membutuhkan pengetahuan akademis dan praktis sekaligus. Pengetahuan pertama terkait dengan konsep-konsep dan berbagai isu di dalamnya. Pengetahuan kedua menyangkut pengalaman lapangan dalam melatih termasuk memahami efektivitas media yang akan digunakan.

Jika anda hendak menyusun modul tentang tema tertentu, mau tidak mau kita harus belajar memahami konsep tersebut dalam percakapan akademis dan operasional sekaligus. Bagaimana ia dipahami dalam dunia akademis, dipakai oleh pemerintah, digunakan masyarakat awam. Dari sana akan kelihatan di mana titik beda, isu-isu penting dan panas.

Sebagian modul yang menurut saya baik biasanya memberi tahu isu-isu panas apa saja yang biasanya akan muncul dan bagaimana fasilitator meresponsnya.

Sejak lebih dari sepuluh tahun lalu, saya mulai menggeluti dunia ini. Belajar memahami bagaimana seharusnya membuat modul yang pas dan sesuai kebutuhan pengguna. Dalam rentang itu saya menemukan banyak pengalaman berharga.

1. Sebagian modul dan pembicaraan dalam penyusunan modul menyamakan antara pengguna modul dengan peserta pelatihan; antara tujuan modul dengan tujuan pelatihan. Keduanya jelas berbeda.

2. Sebagian modul dan perbincangan dalam penyusunan modul terpecah antara memahami keinginan lembaga pembuat modul dengan kebutuhan pengguna modul dan peserta pelatihan. Boleh jadi ada jarak pengetahuan antara lembaga pembuat modul dengan pengguna modul. Dalam penyusunan, bagian ini perlu diselesaikan lebih dulu.

3. Sebagai penyusun modul, baiknya kita tidak mengandalkan pengalaman atau pengetahuan masa lalu saat menyusun modul. Karena itu, bagian penting dari tahap ini, lakukan riset tentang modul yang menurut kita baik dari dalam dan luar negeri. Setelah itu memutuskan mana yang bisa diambil. Saya sering merasa percaya pada pengalaman saya membuat modul. Tapi, setelah melakukan riset, saya sadar, itu adalah jenis modul yang usang. Menyajikan pendekatan baru kepada lembaga pembuat modul juga bukan pekerjaan gampang. Sebab mereka biasanya akan memahami dengan konsep modul mereka. Boleh jadi konsep itu juga usang.

4. Saya sering mendengar kritik dalam forum review modul tentang efektivitas modul. Sebagian orang menilai modul ini akan kurang efektif jika dibuat dalam format semacam itu. Tapi, kritik itu sering pula tidak didasarkan atau diuji dalam “uji coba”. Karena uji coba juga membutuhkan biaya, tahap ini sering dilewatkan. Di tahap ini, penyusun modul perlu memikirkan langkah mitigasinya.

5. Konsep dan tata letak modul. Modul jelas tidak sama dengan buku, rekomendasi kebijakan, dan artikel ilmiah. Modul gabungan dari karya akademis, populer, dan praktis. Karena itu ia harus mengombinasikan kebutuhan ini. Jangan jadikan modul lautan teks. Kombinasikan dengan ikon, visualisasi dan penjelasan yang ringkas dan padat.

Tetapi perkara ringkas dan padat masalahnya bisa panjang kali lebar. Biasanya terletak pada bagaimana merumuskan materi untuk peserta dan materi untuk fasilitator. Kadang penyusun merasa fasilitator super hero yang bisa meringkas. Tapi saat diuji, calon fasilitator merasakan itu terlalu rumit dan sebaiknya disediakan bahan presentasi khusus peserta.

6. Jangan berharap setelah modul selesai, perkaranya selesai. Modul hanya panduan utama bagi fasilitator. Tapi, saya sering berdebat dengan orang yang mengatakan ini kan hanya modul dan pegangan. Di lapangan bisa bebas. Pertanyaannya, kalau bebas, untuk apa menyusun modul yang sudah didesain dengan pendekatan pedagogis. Tentu saja ada ruang kebebasan fasilitator mengembangkanya. Tapi pastikan seberapa lentur modul digunakan. Karena itu pastikan modul juga memberi informasi bagaimana ukuran dan prinsip keberhasilan dalam pelatihan dan penggunaan modul.

Kalimulya, 6 Oktober 2021