OPINI – Ketika menjadi narasumber pelatihan menulis di sebuah madrasah aliyah di Surakarta, saya menyempatkan diri mengobrol dengan sejumlah siswa seusai pelatihan. Saya bertanya kepada mereka tentang konten keagamaan yang mereka tonton di media sosial.
Lebih mendasar lagi, saya bertanya platform media sosial apa yang paling sering mereka akses. Dari mereka, saya tahu bahwa YouTube dan Instagram sudah mulai mereka tinggalkan. Sebagaimana bisa ditebak, sebagian dari mereka banyak mengakses TikTok.
Selanjutnya, saya bertanya siapa pendakwah yang sering mereka tonton di media sosial. Sejumlah nama mereka sebut, di antaranya Gus Baha’, Habib Husein Ja’far, Ustaz Jojo, dan Felix Y. Siauw.
Saya melanjutkan dengan pertanyaan: apakah ideologi atau latar belakang keagamaan seorang pendakwah penting bagi mereka? Anak-anak itu mengatakan bahwa ideologi bukan faktor utama. Bagi mereka, jika konten dakwah menarik dan relevan, konten itu akan ditonton. Jika seorang pendakwah bisa menjadi “sosok yang menyenangkan”, ia akan memanen follower dan penggemar.
Obrolan saya dengan siswa madrasah seusai pelatihan itu tentu tidak bisa merepresentasikan preferensi keagamaan generasi Z muslim di Indonesia. Namun, dari obrolan itu, saya mendapat gambaran tentang bagaimana generasi Z muslim di lingkungan terdekat saya mengakses konten-konten keagamaan dari media sosial. Ternyata, “paham agama” saja tidak cukup untuk masuk gelanggang digital.
Preferensi Dakwah Digital Generasi Z
Di antara nama-nama pendakwah yang disebut siswa madrasah tadi, ada nama Felix Y. Siauw. Saya sebetulnya tidak terlalu terkejut karena ia memang memproduksi banyak konten keagamaan, setidaknya sebagaimana yang saya lihat di YouTube dan Instagram.
Namun, jika menengok ke belakang, saya tumbuh dengan menyaksikan nama Felix Y. Siauw penuh dengan berbagai label, seperti pendakwah HTI, pendakwah radikal, pengasong khilafah, dan lain-lain. Label-label itu membuat sejumlah orang mengambil jarak dengannya.
Di generasi saya, atau setidaknya di lingkaran saya, fakta bahwa Felix Y. Siauw adalah tokoh HTI jamak diketahui. Juga fakta bahwa HTI telah dibubarkan pada 2017 karena dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia. Bahkan, jika kita masih ingat, pernah terbit buku Catatan untuk Felix Siauw: Sekadar Koreksi, Agar Enggak Salah Persepsi yang ditulis Muhammad Sulton Fatoni pada 2018.
Bagi generasi Z muslim hari ini, katakanlah demikian, fakta itu tampaknya terasa agak jauh. Dari obrolan dengan mereka, saya tahu bahwa beberapa siswa madrasah itu tidak tahu bahwa (1) Felix Y. Siauw adalah tokoh HTI; (2) HTI merupakan organisasi terlarang dan telah dibubarkan; dan (3) kalaupun tahu, mereka tidak mempermasalahkannya.
Saya tidak tahu istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut. Mungkin ini semacam “kesenjangan generasi” atau semacam itu.
Sesuatu yang dianggap penting bagi generasi saya belum tentu penting bagi generasi sekarang. Hal ini mungkin juga dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa peristiwa Reformasi 1998 ternyata berjarak cukup jauh dari generasi Z yang saya temui. Sehingga, detail-detail di balik peristiwa itu, seperti penculikan aktivis, misalnya, tidak mereka ketahui. Lagi-lagi karena memang berjarak secara waktu.
Kembali ke Felix Y. Siauw, sepuluh tahun lalu rasanya sukar membayangkan akan ada siniar yang menempatkannya bersama Verren, seorang perempuan yang tidak berhijab dan berasal dari latar belakang agama yang berbeda.
Siniar itu bukan hanya satu atau dua episode, namun siniar rutin bertajuk Escape. Sukar juga membayangkan Felix Y. Siauw berkeliling dari satu siniar ke siniar lain dan berkolaborasi dengan banyak figur publik (public figure), termasuk para komika.
Bagi saya, hal itu terasa kontras jika dibandingkan dengan “Felix yang dulu”, yang dianggap suka nyinyir, kontroversial, dan cenderung tertutup. Dari penampilannya di berbagai siniar, Felix hari ini tampak lebih terbuka dibandingkan dengan citra yang dahulu melekat pada dirinya.
Tidak aneh jika kemudian banyak yang bertanya: ada apa dengan Felix Y. Siauw? Apakah Felix sudah berubah? Apakah ia telah menanggalkan jubah HTI seiring dengan dilarangnya ormas itu? Apakah kini ia memiliki wajah baru? Atau, apakah ia sedang menyesuaikan diri dengan pasar?
Felix Y. Siauw: Berubah atau Sekadar Beradaptasi?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan saya pada artikel Wahyudi Akmaliah di Journal of Indonesian Islam berjudul After the Ban: Rebranding Islamic Utopian Thought through Felix Siauw’s Digital Entrepreneurial Preaching. Wahyudi menyebut Felix sebagai Islamic entrepreneurial preacher. Felix adalah pendakwah, tapi juga pengusaha. Inilah penjelasan sederhana mengapa hingga saat ini ia masih relevan. Kemampuan branding dan marketing yang dikuasainya diterapkan dalam dakwah.
Dalam pengamatan Wahyudi, Felix menjual produk-produk budaya populer, mulai dari komik hingga kaus yang mendukung dakwahnya. Adapun dalam ekosistem digital, Felix tampak memahami betul pentingnya kolaborasi, yang kemudian menjadikannya “besar”. Sesuatu yang mungkin kita lihat lebih dulu pada sosok Habib Husein Ja’far bersama Coki-Muslim dan pesohor-pesohor lain beberapa tahun silam.
Pada spektrum yang lebih luas, Wahyudi menggunakan konsep intermodality of media networks (yang dipinjam dari Merlyna Lim) untuk membaca praktik dakwah Felix Y. Siauw. Konsep ini menjelaskan penggunaan berbagai bentuk media dan jaringan komunikasi secara bersama-sama dalam penyebaran pesan.
Dalam kasus Felix, media digital terhubung dengan buku, kegiatan dakwah di masjid, pertemuan keagamaan, dan aktivitas lainnya. Pemanfaatan buku, komik, kaus, dan media lain dapat dilihat sebagai bagian dari jaringan dakwah yang saling berhubungan.
Namun, perubahan cara berdakwah tidak selalu berarti perubahan pandangan keagamaan. Dalam penelitiannya, Wahyudi menjelaskan bahwa unsur-unsur ideologi HTI masih dapat ditemukan dalam sejumlah karya Felix Y. Siauw.
Gagasan tentang kejayaan Islam dan kekhalifahan, misalnya, hadir melalui buku dan produk budaya populer yang dekat dengan anak muda. Dengan cara itu, gagasan keagamaan dapat terus beredar meskipun organisasinya sudah dibubarkan. Perubahan terjadi pada cara gagasan tersebut disampaikan kepada khalayak.
Melihat jangkauan dakwah Felix Y. Siauw hari ini, boleh jadi sebagian orang sudah lupa bahwa ia adalah aktivis HTI, ormas yang disebut Wahyudi sebagai gerakan Islam utopis.
Atau mungkin, sebagaimana terlihat dari pandangan sejumlah siswa madrasah yang saya ceritakan di awal, latar belakang pendakwah sudah tidak menjadi perhatian utama. Seolah-olah, tidak lagi penting apakah ia pernah belajar agama di pesantren atau tidak, bagaimana kedalaman ilmu agamanya, dan seterusnya. Seakan-akan, hal yang paling utama hari ini adalah kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman agar pesan-pesan agama sampai kepada orang-orang yang berumah di kampung digital.
Di ranah siber, kemampuan beradaptasi dengan selera anak muda memang dapat membuat seorang pendakwah dikenal luas. Meski begitu, kemasan yang menarik belum tentu menjelaskan gagasan yang berada di baliknya. Anak muda bisa mengenal seorang pendakwah melalui video pendek, siniar, atau konten yang menghibur tanpa mengetahui pandangan politik keagamaannya.
Di sinilah pertanyaan tentang Felix Y. Siauw kembali mengemuka: apakah yang berubah hanya cara berdakwahnya atau juga gagasan yang dibawanya?
