Cianjur, 31 Oktober 2026 – Generasi Literat bekerjasama dengan Asosiasi Camping dan Tracking Indonesia (ACTI) mengajak 30 pelajar dan mahasiswa untuk tracking Situs Megalitikum Gunung Padang dan mengeksplor Budaya Sunda Jawa Barat pada Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana dan diikuti oleh sekitar 60 peserta yang terdiri dari pelajar, guru pendamping, mahasiswa, serta masyarakat umum.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Festival Hang Out Kebhinnekaan yang merupakan program rutin Generasi Literat melalui kunjungan ke rumah-rumah ibadah dan komunitas beragam di Indonesiqqa. Jika sebelumnya peserta diajak mengenal keberagaman melalui ruang-ruang ibadah, kali ini mereka diajak melihat lebih dekat dan mengalami langsung kekayaan budaya, tradisi, dan nilai-nilai keberagaman yang hidup di tengah masyarakat.

Founder Generasi Literat, Mila Muzakkar, menjelaskan bahwa pemilihan Situs Gunung Padang sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Selain dikenal sebagai situs peninggalan megalitikum yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan, Gunung Padang juga menyimpan tradisi masyarakat yang memperlihatkan perjumpaan antara adat, budaya, dan keyakinan.

“Gunung Padang bukan hanya tentang situs budaya atau peninggalan sejarah. Di tempat ini juga hidup berbagai tradisi masyarakat yang memiliki nilai dan makna spiritual. Kami ingin mengajak peserta melihat bahwa keberagaman dalam tradisi, keyakinan, dan filosofi hidup, itu bukan hanya sejarah masa lalu. Tapi ia adalah kekayaan tak benda yang harus dihidupkan di masa sekarang untuk menjawab permasalahan bangsa hari ini,” ujar Mila.

sementara itu, Jon, perwakilan dari ACTI mengajak para peserta untuk mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya selama tracking gunung padang.

Salah satu hal menarik dari tradisi masyarakat di kawasan Gunung Padang adalah pelaksanaan ritus yang berlangsung tiga kali dalam setahun, yakni pada bulan Suro, Maulud (Rabiul Awal), dan Rajab. Salah satu tradisi yang dikenal adalah Seka Banda, yaitu ritual membersihkan benda-benda pusaka yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk benda pusaka yang berada di kawasan Situs Gunung Padang.

Berdasarkan catatan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat pada 2021, ritual Seka Banda tidak hanya berkaitan dengan penghormatan terhadap benda pusaka dan warisan leluhur, tetapi juga mengandung pesan tentang penyucian diri, kepedulian terhadap alam, serta pentingnya menjaga kelestarian situs budaya. Menariknya, setiap orang yang mengikuti ritus tersebut diwajibkan menyucikan diri sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing. Hal ini memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat menjadi ruang perjumpaan antara kebudayaan dan beragam ekspresi keyakinan masyarakat.

Bagi Generasi Literat, pengalaman mengenal tradisi seperti ini menjadi bagian penting dalam pendidikan kebhinnekaan. Keberagaman tidak cukup hanya dipelajari melalui buku, penjelasan di ruang kelas, atau slogan tentang toleransi. Generasi muda juga perlu mendapatkan kesempatan untuk berjumpa, mengalami, mendengarkan, dan memahami langsung bagaimana nilai-nilai keberagaman hidup dalam masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Mila berharap para peserta mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru terkait kekayaan budaya lokal sebagai titik temu persatuan bangsa Indonesia yang dapat dibawa pulang dan dibagikan kembali kepada lingkungan masing-masing, termasuk di media sosialnya masing-masing.

“Harapan kami, peserta tidak hanya mengetahui apa itu kebhinnekaan, tetapi juga mengalami dan memahami mengapa keberagaman, keyakinan, tradisi, dan nilai-nilai budaya penting untuk dijaga. Ketika mereka datang langsung, mendengarkan cerita, dan mengenal tradisi yang masih hidup, mereka akan mendapatkan pengalaman yang berbeda. Kami berharap pengalaman ini menjadi pengetahuan baru yang menginspirasi mereka untuk ikut menghidupkan kembali dan merawat tradisi-tradisi baik di lingkungan masing-masing,” ungkap Mila.

Generasi Literat memandang bahwa pelestarian kebudayaan dan penguatan kebhinnekaan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan dan nilai yang tetap relevan untuk menjawab tantangan kehidupan hari ini. Di tengah masyarakat yang semakin beragam, kemampuan untuk saling menghormati perbedaan, memahami keyakinan orang lain, dan menjaga warisan budaya menjadi bekal penting bagi generasi muda.[]