Dalam penelitian Martin van Bruenissen tentang jaringan tarekat di Indonesia, KH Muhammad Manshur dan Pesantren Popongan Klaten Jawa Tengah disebut sebagai salah satu tokoh penting dalam jejaring tarekat. Kepada Mbah Muhammad Manshur ini, Mbah Arwani Kudus, pejuang Al-Quran, dan sejumlah kiai lain, mengambil sanad tarekat.

Dalam rangka rangkaian khaul ke-71 Mbah KH Muhammad Manshur Popongan, tadi pagi, dilakukan launching Manaqib Putra KH Muhammad Manshur. Ada empat putra/i beliau beserta menantu yang telah ditulis biografinya.

Sungguh saya bahagia diminta ikut hadir dalam acara tersebut dan memberikan ulasan singkat.

Menulis dan mengisahkan kisah ulama kepada khalayak dan khususnya keluarga, bukan sekadar pelestarian sejarah—ia adalah upaya membangun jati diri, memperkuat nilai, dan menyalakan semangat keberlanjutan.

Ulama di masa lalu adalah penjaga ilmu dan akhlak. Kisah mereka memuat teladan dalam kesabaran, keikhlasan, dan perjuangan menuntut ilmu, berdakwah dan kemandirian. Kisahnya menjadi sumber pendidikan karakter yang hidup—lebih kuat dari teori karena berbasis pengalaman nyata.

Kisah para kiai menjadi penunjuk arah di era krisis nilai. Di tengah arus digital dan krisis identitas, kisah ulama menjadi kompas moral yang penting. Mereka menunjukkan bagaimana tetap teguh dan komitmen pada nilai.

Dari manaqib kiai Popongan ini bisa dijadikan inspirasi untuk berjuang dan berkarya. Ulama bukan hanya tokoh agama, tapi juga arsitek peradaban. Mereka membangun madrasah, menulis kitab, memediasi konflik.

Menuturkan kisah para kiai berarti menjaga jejak spiritual yang membentuk karakter masyarakat hari ini

Komentar