OPINI – Saya menulis ini di tengah asap yang menyelimuti langit sejak kebakaran terjadi di mana-mana, termasuk di daerahku. Kekesalan ini tak hanya sampai di situ, sebab saya juga baru membaca berita terkait dana darurat kebencanaan yang dikorupsi hingga 3,3 miliar rupiah. Sungguh, apakah ia diciptakan saat Tuhan sedang murka?
Sebagian masyarakat di desaku sudah mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Ibu-ibu di desa beramai-ramai mencuci pakaian di sungai sebagai satu-satunya sumber air yang masih bisa mereka manfaatkan. Sementara, di sekitar kami masih ada lahan yang terbakar. Sungguh ironis, bukan? Airnya kering, tetapi apinya berkobar hingga memusnahkan tanaman warga.
Demokrasi pun entah sudah hilang ke mana. Kuasa? Siapa yang benar-benar memiliki kuasa? Saya bingung bagaimana agar suara kami bisa benar-benar tersampaikan tanpa bayang-bayang dibungkam atau dihilangkan. Bagaimana agar diri kami tetap terlindungi di tengah hutan lindung yang tidak berhasil dilindungi lagi?
Saya juga sudah kehabisan cara tentang bagaimana kritik ini bisa disuarakan. Pada akhirnya, harapan kami hanya hujan dari Tuhan sebagai rahmat, serta berkumpul dengan keluarga dan kawan sebagai pelipur lara.
Banyak teori tentang bagaimana ekosistem dan alam dijaga sepenuhnya, serta bagaimana Tuhan mencintai hamba-hamba yang mampu menyeimbangkan kehidupan hingga mencapai insan kamil.
Lembaga pendidikan formal, nonformal, hingga keagamaan sudah berdiri di negeri ini, namun manifestasinya tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Apakah tulisan George Orwell 50 tahun silam merupakan manifestasi masa lalu, atau kisi-kisi masa depan yang sudah diramalkan?
Sebagai hamba amatir, kami benar-benar sudah buntu hendak dibawa ke mana nasib hutan yang terbakar di depan mata kami. Bahkan panasnya sudah menembus tubuh kami, namun tidak terasa sebab hamba amatir ini masih diselimuti amarah yang entah hendak diluapkan ke mana.
Kami yakin bahwa pemangku kepentingan memahami bagaimana alam memiliki peran penting dalam keseimbangan hidup penghuninya. Namun, keserakahan masih menyelimuti dan menjadikannya kebahagiaan sesaat. Kami juga tahu bahwa pemangku kepentingan merupakan alumni sekolah dan kampus tersohor dengan segudang pengetahuan.
Namun, perutnya selalu lapar, nafsunya selalu menguasai, hingga logikanya hanya berperan untuk kepuasan pribadi—tidak sampai pada hati nurani yang menjaga kehidupan tetap berkelanjutan bersama generasi setelahnya.
Apakah rakyat kecil hanya pion-pion untuk melindungi rajanya yang ada di belakang? Pion yang dengan mudahnya dilenyapkan, atau bahan yang akan ditukarkan dengan sosok yang “konon” perannya lebih besar tetapi kalah saat bertarung?
Bahkan sampai tulisan ini selesai, asap di langit masih tebal dan berita kebakaran hutan masih menjadi perbincangan warga. Pernahkah terbersit, bagaimana jika semesta mengutuk seluruh penghuni hanya karena kesalahan pemangku kekuasaan? Akankah terpikirkan bagaimana kebahagiaan semu itu bisa dirasakan jika rumahnya sudah tiada? Hendak tidur di mana, Ketua?
Tempo hari saat mengajar di kampus, salah satu mahasiswa bercerita tentang sebuah keluhan, “Bu, di desaku sudah seperti mau kiamat; langitnya gelap dan listrik sering padam.”
Sebagian lagi bercerita bahwa akses air bersih serta kebutuhan teknologi informasi dan komunikasi harus didapatkan dengan perjuangan yang sangat besar.
Betapa tidak, jika ada kelas daring, mereka harus memanjat menara air atau mengendarai sepeda motor untuk sampai ke tempat yang terjangkau sinyal—bahkan hanya sekadar untuk menghubungi dosen atau mengumpulkan tugas. Saat ini perjuangan mereka semakin berat, sebab di antara perjuangan itu, mereka harus berdampingan dengan asap tebal dan debu jalanan yang menutupi penglihatan di tengah konsensus perusahaan-perusahaan besar.
Saat mengajar pun saya menyadari bahwa mereka memiliki potensi dan kecerdasan. Sayangnya, akses ilmu pengetahuan tidak benar-benar merata. Pada akhirnya, pengetahuan itu tidak sampai kepada mereka, yang mengakibatkan terjadinya ketidaktahuan.
Dari sini saya juga yakin bahwa para pemangku kepentingan tidak berasal dari kalangan mereka yang minim akses—mereka yang ketidaktahuannya didasarkan pada sistem, bukan dari kapasitas dasarnya.
Akhirnya, tulisan ini selesai dibuat di tengah kepungan asap, di saat penduduknya lain masih bisa bersenang-senangsaat, tetapi kami, sudah bingung harus berbuat apa lagi selain berserah setelah segala ikhtiar dilakukan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

