OPINI – Ketika film Na Willa tayang di bioskop, saya menontonnya bersama Faza, anak pertama saya, yang saat itu duduk di kelas tiga SD. Selesai menonton, saya tanya Faza, bagaimana filmnya? Ia hanya senyum-senyum sambil menjawab pendek. “Bagus,” ujarnya. Berbeda ketika sebelumnya kami nonton Jumbo di bioskop, Faza bilang filmnya seru.

Saya sendiri sangat menikmati Na Willa. Ceritanya oke, musiknya bagus, pesan moralnya melimpah. Menyenangkan. Memang, film itu adalah jenis film slice of life. Bukan seperti Jumbo yang menjanjikan petualangan seru dan menegangkan. Boleh jadi, inilah alasan kenapa Faza tidak terlalu antusias dengan Na Willa, beda dengan Jumbo.

Namun, ketika saya renungkan, barangkali kurang antusiasnya Faza juga karena ia tidak terlalu “relate” dengan Na Willa. Film besutan Ryan Adriandhy itu memang menampilkan wajah multikultural Indonesia.

Tokoh-tokohnya lintas suku dan agama. Sementara Faza saat ini sekolah di SD Islam yang cenderung homogen. Isu rasisme juga mungkin masih agak susah ia cerna. Sehingga, Na Willa terasa “agak jauh” untuk Faza.

Sebelum pergi ke bioskop menonton Na Willa, sejujurnya saya menyimak sejumlah siniar yang menghadirkan Reda Gaudiamo, penulis cerita Na Willa. Dari salah satu siniar saya tahu bahwa cerita Na Willa lahir dari “kegeraman” Reda. Jadi, waktu itu anak Reda yang baru berumur empat tahun, Soca namanya, bertanya “agama saya apa?” Pertanyaan itu membuat Reda terkejut. Mengapa tiba-tiba Soca bertanya tentang agama?

Reda seketika kembali ke masa silam. Ia mengingat masa kecilnya yang menyenangkan, asyik bermain dengan teman-teman yang beragam tanpa ada pertanyaan tentang agama. Bermain ya bermain saja. Tapi kenapa sekarang Soca mempertanyakan agama?

Setelah ditelusur, ternyata Soca bertemu dengan orang tua temannya yang mengatakan bahwa anaknya hanya boleh bermain dengan teman yang satu agama. Itu sumber kegeraman dan kesedihan Reda. Kenapa anak-anak harus diberi asupan pemikiran bahwa jika ingin bermain harus dengan teman satu agama?

Kegeraman Reda bisa dimengerti. Anak-anak yang masih polos dan bening tidak seharusnya diberi doktrin “pilih teman satu agama”. Kegeraman itu kemudian memantik Reda untuk menulis. Ia ingin mengingatkan para orang tua: masa kecil kita dulu indah karena kita tumbuh dalam keberagaman yang harmonis.

“Kita dulu memandang segala sesuatunya dengan jernih, dengan rasa riang. Kita tidak peduli orang tuamu Cina, Jawa atau Papua. Apakah kulitnya putih, apakah rambutnya keriting. Kita tidak peduli. Kita main saja. Kenapa bukan hal itu yang kita ajarkan kepada anak-anak kita?” tutur Reda.

Dari sana Na Willa lahir. Dengan semangat mengajak para orang tua untuk melihat masa lalu yang menyenangkan. Isu keberagaman, bahkan perundungan dan rasisme, dikisahkan dengan kacamata seorang anak kecil.

Dan sebagaimana kita bisa baca di novel dan saksikan di film, Na Willa benar-benar merayakan keberagaman itu. Rekaman tentang masa kecil yang indah tersaji dalam fragmen-fragmen kehidupan di Gang Krembangan.

Persahabatan lintas agama dan lintas suku antara Na Willa dan Farida sungguh menghangatkan hati. Adegan Na Willa ikut mengaji di rumah Farida betapa jenaka dan sukar dilupakan. Sederhana, tapi maknanya dalam.

Dari Reda Gaudiamo kita sejatinya sedang belajar tentang bagaimana menyikapi keberagaman yang memang menjadi sebuah keniscayaan. Kita belajar bahwa yang “berbeda” bukan musuh kita. Bahwa pertemanan anak-anak yang tulus adalah cermin.

Soal pertemanan, saya jadi teringat ketika Faza dan Fata bermain di playground di sebuah pusat perbelanjaan di Solo. Di playground itu, dua anak saya berbaur dengan anak-anak lain yang juga sedang bermain.

Tiba-tiba seorang anak berkulit putih dan bermata sipit menghampiri Faza dan Fata, ia mengajak berkenalan. Setelah ngobrol sebentar, mereka lalu bermain bersama, larut dalam kegembiraan, meskipun baru pertama bertemu.

Pemandangan di playground itu menyenangkan hati saya. Dan bukankah kehidupan semestinya berjalan seperti itu? Semurni hati anak-anak yang belum mengenal kebencian dan runcingnya perbedaan?