OPINI – Hanya butuh waktu sepersekian detik bagi sebuah potongan video provokatif atau meme bernuansa kebencian yang menyebar untuk memicu perdebatan panas di linimasa digital.

Di tengah bisingnya informasi itulah Miftahul Jannah kerap menghabiskan waktunya. Sebagai bagian dari Duta Damai Jawa Tengah, layar ponsel di tangannya bukan sekadar media sosial biasa, melainkan ruang “juang” untuk meramu pesan-pesan moderat.

Jannah, alih-alih ikut terpancing pada konten intoleran, lebih memilih merangkai narasi damai dan melakukan perjumpaan antargolongan. Bagi Jannah, ruang digital bukan sekadar tempat bertukar informasi, tapi ruang perjumpaan pesan inklusif.

“Menjadi Duta Damai itu membuat konten-konten damai untuk menebarkan narasi moderat,” ungkap Jannah.

Menjadi Duta Damai, bagi Jannah, merupakan kesempatan untuk mengambil bagian dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. Ia bersyukur dapat terlibat dalam gerakan menolak kekerasan, dan menawarkan cara pandang keberagaman.

Mengisi Ruang Digital dengan Narasi Damai

Bagi Jannah, menghadirkan narasi alternatif tidak cukup dilakukan dengan membantah konten intoleran atau ekstrem. Masyarakat, terutama generasi muda, juga perlu mendapatkan perspektif lain yang lebih mencerahkan. Pesan perdamaian harus hadir secara konsisten agar ruang digital tidak hanya dipenuhi informasi yang memecah belah.

Hal yang sama juga diucapkan oleh Syaiful Bahri, salah satu Duta Damai DIY. Menurut dia, mengelola narasi dimulai dari kemampuan memahami persoalan dan melihat perbedaan sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan masyarakat.

“Narasi damai perlu dibangun melalui bahasa yang inklusif, tidak provokatif, tidak menyudutkan kelompok tertentu, serta mampu menghadirkan perspektif yang mencerahkan,” sebutnya.

“Sebagai salah satu anggota Duta Damai Yogyakarta, upaya yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan konten positif, terutama di Instagram, mengedukasi masyarakat tentang keberagaman, melawan hoaks, dan membangun kesadaran tentang pentingnya toleransi,” tambahnya.

Pasalnya, tantangan ini semakin penting ketika internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66 persen pada 2025, atau sekitar 229,43 juta orang.

Data dari Survei SETARA Institute bersama INFID pada 2023 terhadap 947 siswa SMA di Bandung, Bogor, Surabaya, Surakarta, dan Padang menemukan 70,2 persen responden tergolong toleran. Sementara itu, 22,4 persen masuk kategori intoleran pasif, 5 persen intoleran aktif, dan 0,6 persen berpotensi terpapar. Temuan ini bukan gambaran seluruh pelajar Indonesia, tetapi mengingatkan pentingnya pendidikan keberagaman.

Besarnya jumlah pengguna dan kasus tersebut menunjukkan bahwa ruang digital memiliki jangkauan luas dalam membentuk pengetahuan, relasi sosial, dan cara masyarakat memahami persoalan keagamaan. Karena itu, kerja Duta Damai tidak berhenti pada produksi konten. Ada tanggung jawab untuk memahami persoalan yang dibicarakan dan memastikan pesan yang disampaikan tidak sekadar menarik perhatian, tetapi juga memberikan pemahaman.

Jannah dan Bahri menilai bahwa kerja Duta Damai membutuhkan penguasaan wawasan kebangsaan sekaligus kemampuan mengolah pesan melalui komunikasi visual. Nilai-nilai kebangsaan perlu disampaikan dengan cara yang dekat dengan kehidupan anak muda, bukan hanya melalui penjelasan panjang atau bahasa formal.

“Duta Damai memang banyak gerakan yang dilakukan. Kita harus mengetahui dan mendalami wawasan kebangsaan dan proses kreatif komunikasi visual. Pengetahuan wawasan kebangsaan ini nantinya divisualisasikan dalam bentuk visual agar menjangkau anak muda,” tutur Jannah.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa narasi damai membutuhkan strategi komunikasi. Pesan tentang toleransi, persaudaraan, dan kebangsaan perlu dikemas melalui video, ilustrasi, maupun cerita keseharian yang mudah dipahami. Dengan begitu, nilai perdamaian tidak terasa seperti ceramah yang berjarak dari pengalaman generasi muda.

Narasi Damai yang Berangkat dari Kehidupan

Kerja menghadirkan narasi alternatif juga perlu berangkat dari pengalaman nyata. Pesan perdamaian akan lebih bermakna ketika masyarakat dapat menemukan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Bahri, dalam kegiatan Duta Damai Yogyakarta, pendekatan perdamaian dilakukan melalui kampanye narasi positif di media sosial dan perjumpaan untuk mendorong kepedulian terhadap sesama.

Termasuk Jannah, perjumpaan langsung pernah dilakukannya. Pengalaman itu ia rasakan ketika mengikuti Nyadran Perdamaian 2026 di Temanggung. Dalam kegiatan tersebut, Jannah berinteraksi dengan peserta dan masyarakat dari latar belakang keyakinan yang berbeda. Mereka duduk bersama, berbagi cerita, menikmati hidangan, dan membicarakan persoalan kehidupan bersama.

Perjumpaan tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan keyakinan tak harus menjadi penghalang membangun kebersamaan. Orang-orang dengan tradisi dan pandangan berbeda tetap dapat bekerja sama.

Pengalaman semacam itu penting karena narasi perdamaian tidak berhenti sebagai slogan. Ia didaratkan melalui tindakan.

Nilai-nilai itu sebenarnya dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Tradisi Arokat Tase’ di Sumenep, misalnya, memperlihatkan bagaimana ikatan persaudaraan dapat merawat solidaritas antarkelompok. Masyarakat Jawa juga mengenal tepa selira dan gotong royong, yang mengajarkan pentingnya mempertimbangkan perasaan orang lain dan membangun kepedulian bersama.

Kearifan lokal seperti itulah yang dilakukan Duta Damai selama ini.

Bahri dan Jannah menunjukkan bahwa kerja perdamaian memiliki dua ruang yang saling melengkapi. Di ruang digital, narasi alternatif disebarkan melalui konten yang edukatif dan moderat. Dalam kehidupan sosial, nilai yang sama dipraktikkan melalui perjumpaan dan dialog.

Pada akhirnya, menghadirkan narasi damai bukan sekadar memenuhi ruang digital dengan pesan-pesan positif. Lebih dari itu, kerja tersebut merupakan upaya membangun pemahaman bahwa keberagaman bukan ancaman, tapi sebuah kenyataan yang perlu dirawat bersama. Bahri dan Jannah melakukan itu