Sejarah intelektual Islam tidak pernah steril dari polemik. Salah satu medan paling keras adalah perdebatan SunniSyi‘ah soal teologi dan sejarah politik awal Islam. Di sini, Ibn Taimiyyah tampil sebagai salah satu juru bicara Ahl al-Sunnah melalui Minhāj al-Sunnah al-Nabawiyyah, yang menyerang teologi dan narasi sejarah Syi‘ah Imāmiyyah, khususnya Minhāj al-Karāmah karya al-illī. Beberapa abad kemudian, giliran ulama Syi‘ah menjawab balik. Salah satunya adalah Muḥammad Mahdī al-Kāẓimī al-Qazwīnī dengan karyanya Minhāj al-Syarī‘ah fī al-Radd ‘alā Ibn Taimiyyah (8 jilid). Tulisansederhana ini merangkum-ringkas singkat isi pokok dan logika kritik al-Qazwīnī, sekaligus menimbang ulang sejauh mana gambarannya tentang Ibn Taimiyyah akurat atau justru reduktif.

Ibn Taimiyyah: Hagiografi, Kontroversi, dan Label Nāṣibī

Ibn Taimiyyah (661–728 H) hidup pada masa krisis invasi Mongol, instabilitas politik, dan keguncangan sosial. Biografi klasik seringkali menggambarkan dia dengan narasi kagum dan takjub; hafalan kuat, polymath, zhid, keras dan tegas terhadap penguasa dan ulama yang dianggap salah, dan berkali-kali dipenjara karena pandangannya.

Tapi di balik hagiografi itu, ia juga figur yang sangat kontroversial. Ia mengguncang konsensus mazhab fikih dan teologi mapan (terutama Asy‘ariyyah–Māturīdiyyah) soal sifat-sifat Tuhan, ziarah kubur, talak, dan seterusnya. Di titik ini, al-Qazwīnī masuk, ia tidak hanya mengkritik argumen Ibn Taimiyyah, tapi juga mencoba mengeluarkannya dari rumah besar Sunni. Dalam Minhāj al-Syarī‘ah, Ibn Taimiyyah digambarkan bukan sebagai wakil sah Ahl al-Sunnah, melainkan ulama menyimpang dan bahkan Nāṣibī (membenci Ahl al-Bayt).

Metode Polemik al-Qazwīnī: Taqīq dan Ilzām

Dalam Minhāj al-Syarī‘ah, Al-Qazwīnī memakai gaya taḥqīqyang agresif; ia telusuri klaim Ibn Taimiyyah satu per satu, lalu membantahnya dengan mengutip sumber-sumber Sunni yang diakui lawannya, yaitu Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Muslim, Musnad Aḥmad, dan tafsir-tafsir klasik. Seolah dengan meyakinkan berteriak lantang: “kau salah dan kalah bahkan menurut kitab-kitab otoritatifmu sendiri.”

Secara retoris, ia sering menuduh Ibn Taimiyyah melakukan tadlīs (trik intelektual) dan buhtān (fitnah), terutama ketika Ibn Taimiyyah melemahkan hadis-hadis keutamaan ‘Alī r.a. dan Ahl al-Bayt, sementara menerima riwayat lemah yang merugikan Syi‘ah. Di mata al-Qazwīnī, inilah bukti bias sektarian yang menyusup ke dalam metodologi kritik hadis Ibn Taimiyyah.

Teologi Keadilan Tuhan

Dalam teologi, pusat serangan al-Qazwīnī adalah isu Keadilan Ilahi (al-‘adl al-Ilāhī). Ia menuduh Ibn Taimiyyah (bersama Asy‘ariyyah) memposisikan Tuhan sebagai kehendak absolut yang tak terikat standar rasional; apa pun yang Tuhan lakukan otomatis adil semata-mata karena itu perbuatan-Nya. Konsekuensinya, menurut al-Qazwīnī, Tuhan bisa saja ẓālimtapi tetap disebut adil; sebuah posisi yang ia anggap tak dapat diterima secara rasional.

Di sini, pembacaan modern atas Ibn Taimiyyah membuat situasi jadi lebih rumit. Kajian etika teologis kontemporer menunjukkan bahwa Ibn Taimiyyah justru mengakui adanya nilai objektif dalam perbuatan (baikburuk) yang dapat dikenali oleh akal dan fiṭrah, dan ia menekankan bahwa Tuhan bertindak dengan ḥikmah dan maṣlaḥah, bukan secara arbitrer. Ia menolak dua ekstrem, rasionalisme kaku ala Mu‘tazilah yang mengadiliTuhan dengan logika manusia, dan voluntarisme absolut yang memutus hubungan hukum moral dengan realitas.

Di titik ini, kritik al-Qazwīnī sering jatuh pada strawmanfallacy, ia menyerang versi ekstrim Asy‘ariyyah dan menempelkannya begitu saja ke Ibn Taimiyyah, tanpa menangkap nuansa jalan tengah yang sedang diupayakan.

Rasionalitas Kalm vs Fiṭrah

Al-Qazwīnī berulang kali menggambarkan Ibn Taimiyyah sebagai seorang literalist kaku dan anti-akal karena menolak logika Aristoteles dan banyak perangkat kalm. Syi‘ah (dan sebagian Sunni) membangun teologi dengan logika Yunani yang diislamkan; Ibn Taimiyyah datang dan membongkar fondasi itu.Tapi posisi Ibn Taimiyyah lebih subtil. Ia tidak menolak akal, ia menolak klaim berlebihan para filosof-kalām bahwa silogisme formal bisa menjadi satu-satunya jalan menuju pengetahuan pasti. Ia menganggap pengetahuan paling kuat justru bersumber dari firah, pengalaman inderawi, dan khabar yang mutawātir.

Dengan kata lain, ia menggeser epistemologi dari akal formal ke firah dan realitas hidup. Pengenalan terhadap Tuhan, bagi Ibn Taimiyyah, bersifat intuitif dan niscaya, bukan hasil spekulasi metafisik yang berbelit. Al-Qazwīnī, yang beroperasi dalam kerangka kalam rasionalis, membaca sikap kritis terhadap logika Yunani ini sebagai anti-rasionalisme, padahal di situ justru ada kritik awal terhadap rasionalisme spekulatif yang banyak disorot filsafat modern.

Sejarah Sahabat dan Immah: Historiografi Kritis vs Apologetik

Di ranah sejarah politik awal Islam, al-Qazwīnī menyerang doktrin Sunni tentang ‘adālah kolektif Sahabat; bahwa semua sahabat secara prinsip adil, dengan memakai riwayat-riwayat dari kitab hadis Sunni sendiri.

Ia membongkar peristiwa Saqīfah Bani Sā‘idah sebagai perebutan kekuasaan yang cacat legitimasi; menyorot konflik antara Fāṭimah r.a. dan Abū Bakr r.a., tragedi kamis kelabu (pena dan kertas) di masa ‘Umar r.a., hingga nepotisme di era ‘Uṡmān. Semua itu membuat klaim Sahabat selalu benar, kesalahan mereka kecil dan ijtihād tampak rapuh. Di sini, Ibn Taimiyyah sering terlihat apologetik; menakwil atau bahkan menolak riwayat sahih karena terlalu mengganggu citra sahabat utama.

Di sisi lain, perbedaan mereka soal imāmah memang berangkat dari paradigma yang tak bisa dinegosiasikan. Bagi al-Qazwīnī, imāmah adalah kelanjutan langsung kenabian; ia harus berbasis naṣṣ dan ‘iṣmah. Bagi Ibn Taimiyyah, imāmah adalah urusan politik-keagamaan yang legitimasinya bisa datang dari kekuatan faktual (syawkah) dan ri mayoritas, selama syariat ditegakkan. Yang satu idealis-teologis, yang lain pragmatis-politik.

Tuduhan Nāṣibī dan Sisi yang Sering Dilewatkan

Tuduhan bahwa Ibn Taimiyyah Nāṣibī adalah bagian paling emosional dari Minhāj al-Syarī‘ah. Dalam Minhāj al-Sunnah, gaya polemik Ibn Taimiyyah memang keras dalam rangka membantah klaim Syi‘ah tentang keunggulan mutlak ‘Alī r.a., ia kadang memakai argumen yang jelas merendahkan posisi ‘Alīr.a. dibanding sahabat lain. Ini memberi amunisi kuat bagi al-Qazwīnī.

Tetapi jika kita lihat karya-karya lain, gambarnya tidak sesederhana itu. Ibn Taimiyyah berulang kali menegaskan kewajiban mencintai Ahl al-Bayt, menyebut ‘Alī r.a. sebagai khalifah yang sah, dan menempatkan keluarga Nabi sebagai bagian dari struktur akidah Sunni. Masalahnya, gaya polemiknya terkesan sering belebihan demi meruntuhkan kultus lawan, ia terdorong melakukan over-correction yang, secara historis dan emosional, terkesan tidak adil.

Dimensi lain yang sama sekali tidak disentuh al-Qazwīnī adalah aspek spiritual-kosmik dan pedagogis Ibn Taimiyyah. Dalam risalah tentang fiṭrah, misalnya, ia menggambarkan alam sebagai makhluk hidup yang bertasbih secara nyata, bukan metaforis. Dari sini bisa dirumuskan etika lingkungan berbasis tauhid; merusak alam berarti mengganggu makhluk yang sedang beribadah. Di ranah pendidikan, konsep malakah dan penekanan pada ‘ilm nāfi‘ menawarkan model integrasi ilmu yang cukup relevan dengan kritik kita terhadap dualisme pendidikan modern.

Epilog

Pertarungan antara Minhāj al-Sunnah dan Minhāj al-Syarī‘ahbukan hanya soal siapa khalifah yang sah atau siapa yang paling mencintai Ahl al-Bayt. Ini adalah benturan dua paradigma;Paradigma Syi‘ah (al-Qazwīnī) yang menyatakan bahwa agama dijaga melalui naṣṣ, ‘iṣmah, dan rasionalitas kalām; sejarah dibaca sebagai drama pengkhianatan terhadap mandat Tuhan.Sedang paradigma Ibn Taimiyyah menyatakan bahwa agama dijaga melalui fiṭrah, wahyu, dan kesatuan jamaah; sejarah dibaca dengan kacamata maṣlaḥah dan stabilitas, di mana kekuatan faktual bisa menjadi basis legitimasi selama syariat ditegakkan.

Al-Qazwīnī menghantam titik-titik lemah Ibn Taimiyyah dalam historiografi sahabat dan inkonsistensi kritik hadis ketika menyangkut faḍā’il Ahl al-Bayt. Sebaliknya, ia gagal menangkap kedalaman etis dan epistemologis konsep fiṭrah, wasaṭiyyah, dan kritik Ibn Taimiyyah terhadap logosentrisme kalam.

Membaca keduanya hari ini menuntut sikap dingin; keluar dari kacamata sektarian, mengakui kelebihan dan bias masing-masing, dan menggarap sisi-sisi yang lebih produktif; seperti fiṭrah kosmik, etika lingkungan, epistemologi alternatif, dan kritik terhadap taqlīd buta, yang justru relevan untuk menjawab krisis modern, jauh melampaui horizon konflik SunniSyi‘ah klasik.

Wallāh A‘lam bi al-Ṣawāb

Komentar