“Bisakah merayakan tahun baru tanpa nyampah?”

Pertanyaan itu menjadi salah satu refleksiku dalam pergantian tahun. Entah mengapa, tahun baru kali ini terasa berbeda. Bukan hanya karena bertubi-tubi bencana ekologis yang melanda berbagai daerah, tetapi juga karena banyaknya catatan menyedihkan sebagai warga negara Indonesia sepanjang satu tahun terakhir.

Sayangnya, refleksi tersebut kerap berakhir sebagai pertanyaan retoris. Euforia tetap berlangsung, dan sampah pun kembali menggunung. Di tengah tumpukan sampah tahun baru, pasukan “kuning” penyapu jalanan tampil sebagai penolong sejati. Kiranya kepada merekalah seharusnya disematkan gelar pahlawan. Sepanjang tahun, setiap pagi, mereka membersihkan jalanan dengan upah yang kerap berada di bawah standar kelayakan.

Selain petugas sapu jalanan, gerakan Clean The City (CTC) yang digagas oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) juga aktif terlibat dalam pembersihan sampah setiap pergantian tahun. Gerakan ini telah berlangsung sejak 2015 dan hingga kini konsisten diselenggarakan di lebih dari 50 kota.

Selama belajar di Yogyakarta, aku mengikuti CTC sebanyak dua hingga tiga kali. Sejak mengenal CTC, ajakan meramaikan malam tahun baru di pusat kota selalu kutolak. Alih-alih menjadi bagian dari mereka yang menumpuk sampah, aku berupaya menjadi bagian dari golongan “minoritas” yang membersihkan. Ada kebahagiaan tersendiri saat ikut menyapu kota yang kotor dalam semalam.

Ahmadiyah, Aksi Sunyi, dan Dialog Nyata

Aksi CTC mengajarkanku makna konkret menjadi warga negara, meski kerap tak dianggap. JAI berhasil membumikan falsafah Jawa: sepi ing pamrih, rame ing gawe. Tahun 2025 ini, JAI genap satu abad berkiprah di Indonesia. Perjuangan itu bermula pada 25 Desember 1925, ketika 15 orang berbaiat masuk Ahmadiyah di Tapak Tuan, Aceh Selatan.

Namun, cikal bakal Muslim Ahmadiyah di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak 1923, ketika tiga santri alumni Sumatera Thawalib Padang Panjang: Ahmad Nuruddin, Abubakar Ayyub, dan Zaini Dahlan, berangkat ke Qadian untuk belajar Islam. Dalam buku memoar Ayahku, Hamka menyebut ketiganya sebagai kawan satu angkatannya yang, dalam perjalanan hidup, memilih “kapal” yang berbeda.

Fase baru perkembangan Ahmadiyah di Indonesia ditandai dengan kedatangan Mln. Rahmat Ali H.A.O.T pada 2 Oktober 1925. Sejak saat itu hingga kini, dinamika perjuangan Ahmadiyah untuk hidup dan berkontribusi di tanah air terus berlangsung. Sebagai komunitas Muslim minoritas, Ahmadiyah kerap mengalami diskriminasi. Tragedi Cikeusik, 6 Februari 2011, menjadi salah satu catatan kelam. Belum lagi berbagai aksi penolakan, tudingan sesat, hingga pembakaran masjid.

Namun, beragam persoalan tersebut tidak menjadikan komunitas Ahmadiyah tertutup dan menarik diri. Sebaliknya, mereka justru tampil di garda depan pelayanan kemanusiaan melalui Humanity First: donor darah, donor mata, hingga aksi-aksi kemanusiaan lintas batas. Termasuk di dalamnya merawat alam melalui gerakan CTC.

Merawat Bumi sebagai Jihad Kolektif

Kegiatan CTC yang dilakukan setiap tahun baru memiliki makna penting, yakni merawat bumi adalah tugas bersama. Dalam proses menjaga dan memulihkan alam yang rusak, kita perlu memulai dengan memulihkan relasi antarmanusia.

Tercabiknya relasi manusia dengan alam sejatinya merupakan simbol retaknya hubungan sesama insan. Tugas menjaga lingkungan bukan hanya milik umat Islam, Kristen, Katolik, atau agama lain. Bukan pula tanggung jawab NU, Muhammadiyah, Persis, JAI, GAI, IJABI, PGI, KWI, dan ormas keagamaan semata. Ini adalah pekerjaan rumah bersama.

Praktik membersihkan sampah yang digerakkan JAI menunjukkan potret indah kerja sama tanpa harus meniadakan perbedaan identitas. Kita tidak harus sama untuk bisa bekerja bersama. Inilah dialog aksi, salah satu dari tujuh dataran dialog yang dikenalkan Prof. Banawiratma.

Selama ini kita terlalu sering terjebak dalam dialog wacana—interfaith, bahkan yang difasilitasi negara—tanpa keberlanjutan dalam dialog aksi. Padahal, di tengah carut-marut kehidupan berbangsa, dialog aksi sama pentingnya dengan dialog wacana.

Karena itu, perdebatan tahunan seputar boleh-tidaknya mengucapkan selamat Natal sering kali menjadi pengulangan yang sia-sia. Kita tak pernah beranjak dari ucapan menuju perbuatan.

Potret Banser dan Kokam menjaga gereja adalah contoh baik. Namun, kerja sama itu seharusnya tidak berhenti pada penjagaan rumah ibadah. Kita perlu melangkah lebih jauh: bahu-membahu memulihkan alam yang rusak dan membangun kekuatan masyarakat sipil yang kritis terhadap kebijakan negara. Jika umat beragama mampu bersatu, ia bisa menjadi kekuatan penyeimbang bagi koalisi legislatif-eksekutif yang kian gemuk dan minim oposisi.

Karena ini tugas bersama, semangat merawat alam tak boleh berhenti sebagai aksi seremonial awal tahun. Apa yang dilakukan CTC adalah langkah baik, tetapi perlu diperluas dan diperkuat. Teman-teman Ahmadiyah tentu tak mungkin berjalan sendiri membereskan sampah negeri ini.

Maka, poin yang tak kalah penting: gerakan “membersihkan” harus menjadi kesadaran individu dan kolektif. Ketika melihat sampah di jalan, tak perlu menunggu orang lain—kitalah yang bergerak lebih dulu.

Bukankah dalam Islam kebersihan adalah bagian dari iman? Bukankah Allah mencintai orang-orang yang bersih?

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Hazrat Mirza Bashir-ud-Din Mahmud Ahmad, khalifah kedua Ahmadiyah, dalam Tafsir alKabir menafsirkan ayat ini dengan pandangan yang menarik. Menurutnya, kebersihan memiliki dua makna. Pertama, kebersihan adalah fitrah kemanusiaan. Siapa pun, bahkan mereka yang membuang sampah sembarangan, tidak akan senang hidup di lingkungan yang kotor.

Kedua, kebersihan menuntut kesungguhan. Mereka yang mencintai kebersihan adalah mereka yang bersungguh-sungguh menjaganya. Karena itu, ada dimensi jihad dalam upaya merawat kebersihan. Bahkan lebih jauh, setelah mencintai kebersihan, jihad berikutnya adalah menjadi manusia yang hidup sederhana.

Selain membersihkan yang kotor, kita juga perlu belajar mengurangi membuat kotor. Membersihkan sampah adalah tindakan baik, tetapi berupaya mengurangi produksi sampah adalah tindakan yang lebih mulia.

Maka, mengawali tahun ini, kita perlu menyusun resolusi konkret: bisakah kita hidup dengan memproduksi sampah seminimal mungkin? Memang sulit. Namun, di situlah esensi jihad: kesungguhan pantang menyerah; meski sering dianiaya, seperti Ahmadiyah.

Komentar