Islamsantun.org. Jika, sekali lagi jika, kseharianmu telah sibuk dengan urusan bisnis atau pekerjaanmu, lalu terus makin sibuk, makin sibuk, dan seterusnya, sampai-sampai rasanya hal-hal pokok dalam hidup manusia terabaikan, tersekiankan, seperti family time, makan bersama, tidur bersama, jalan bersama, memyaksikan tumbuh kembang anak dari masa ke masa, juga ibadah-ibadah pokok saja telat-talatan, begitu sulit untuk bisa ngaji al-Qur’an, mengamalkan amal-amal sunnah sederhana lainnya, menepilah dan merenunglah segera, lalu bertanyalah pada hatimu (istafti qalbak): “Jangan-jangan Allah sedang mencabut keberkahan dari pekerjaanku, dari bisnisku…?”

Keberkahan adalah langgam-langgam kedamaian, ketenangan, ketentraman, dan kebersamaan dalam hidup kita. Ia melampaui nalar rasional, statistik, pretensi apa pun. Ia sepenuhnya given, dikaruniakanNya; dan Allah Ta’ala telah memberikan clue untuk meraihnya, layak diberiNya, yakni beriman dan bertakwa kepadaNya (Al-A’raf 96).

Kita semua tahu, kita semua kerap merasakan langsung, betapa begitu banyak nalar dan angka ekspektasi yang kita sebut “bakal menyenangkan dan membahagiakan”, kelak terbukti tak benar-benar buat kita begitu rupa. Dan, sebalilnya. Begitulah keberkahan bekerja.

Sebab nyata diberaikanNya kita dari karunia keberkahanNya ialah, di antaranya, karena kita meninggalkan para ulama dan majelis-majelisnya. Kita tak sempat, tepatnya enggan dan malas ngaji lagi –ngaji al-Qur’an, ngaji kitab, ngaji ilmu-ilmu, ngaji amaliah-amaliah….

Maka obat yang bisa kita mulai untuk kembali meraih karunia keberkahanNya, di antara kesibukan kerja/bisnis, ialah dgn kembali ke majelis-majelis taklim –sekecil dan sesederhana apa pun itu.

Semoga dgn kembali hadir ke majelis ilmu dan amal, terjadilah perubahan dlm hidup kita seperti dawuh yg telah diingatkan Kanjeng Nabi Saw: berkumpullah dgn ulama² dan majelis² ahli hikmah (ahli ilmu dan amal), itu akan menghidupkan kembali hati yang telah mati, beku, dgn CahayaNya, sebagaimana Allah Ta’ala menghidupkan bumi yang mati.

(kusarikan dari bagian² awal Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Ibnu Hajar al-Asqalany dlm syarah Syekh Imam Nawawi al-Bantani –nafa’anaLlah bi’ulumihim wa barakatihim fid darain, amin).

Semoga kita semua, anak cucu kita, dibimbingNya ke jalan karunia keberkahanNya. Amin.

ShallaLlah ‘alaih wa alih wa shahbih wa ummatih ajma’in.

Yk, 8-1-2022