Teknologi telah berubah bukan sekedar alat bantu kehidupan sehari sehari dan bahkan saat ini menjadi bagian pokok dari kehidupan manusia. Kecanggihan teknologi telah berubah menjadi mesin produksi ilmu pengetahuan, ruang perjumpaan makna dan ladang dakwah.

Media sosial bukan sekedar platform. Namun, media sosial telah menjadi mimbar digital untuk membentuk opini keagamaan, membangun otoritas keagamaan, dan bahkan mengarahkan tindakan publik.

AI (Artificial Intelligence) adalah kecerdasan buatan yang dibuat oleh manusia dan tidak ada AI yang sempurna atau pasti memiliki kekurangan. AI tidak terlalu hebat, tetapi AI dibuat dengan sangat canggih. AI adalah tools untuk memproses sebuah data untuk menghasilkan laporan dengan sangat inovatif menggunakan algoritma tertentu.

AI tidak seperti tools yang lain yang memproses data dengan simple atau sederhana. Kemampuan atau cara kerja AI dalam input data dan memproses data sangatlah kreatif yang di luar bayangan dan pikiran manusia pada umumnya sebelumnya.

Data yang diterima AI tidak hanya data yang berbasis data formal tetapi data yang beragam luar biasa, termasuk scroll, like dan lainnya. Data diolah tidak menggunakan metode statistik, tetapi diolah dengan algoritma. Algoritma berperan penting dalam pengolahan data secara inovatif dan terus berkembang.

Margin of error juga dapat terjadi di AI. AI memiliki kemampuan ekstra ordinary dalam membuat laporan rumit (bukan laporan biasa) dan laporan insight. Insight merupakan reaksi dari bacaan seperti like, koment, marah, dan prasangka. AI berkembang sedimikian rupa bukan semata mata karena pada satu sisi (engineer) tetapi tergantung pada kontribusi dari finding data.

Postingan di Facebook, YouTube, Instagram, WhatsApp, TikTok, dan X (Twitter) dan lainnya sangat mempengaruhi data yang ditemukan oleh AI dan akan dijadikan sebagai bahan atau data untuk diolah.

Agama Merespon Kecerdasan Buatan

Eksistensi agama terjaga dan yang menjaganya adalah Allah, Tuhan Semesta Alam. Al-Qur’an menunjukkan bahwa Nabi Muhammad sebagai penutup Para Nabi dan manusia tetap eksis sebagai khalifah yang lepas dari ikatan waktu.

Manusia sebagai bagian dari peradaban tergantung dari kompetensi manusia itu sendiri. Manusia tidak perlu kawatir bahwa AI adalah ancaman eksistensi manusia untuk berpikir kreatif. Konsep manusia sebagai hayawanun natiq tidak hanya berurusan dengan ilmu pengetahuan (kognitif) tetapi juga soal hikmah atau spiritual.

Perjumpaan manusia dengan hal yang revolusioner terjadi di setiap waktu dalam patahan-patahan sejarah. Sejarah Islam mencatat terpancangnya masyarakat Madinah ketika Islam melewati Jazirah Arab dan bertemu dengan peradaban besar, seperti Persia, Romawi Lama.

Tetapi selalu ada hikmah, ketika masa Daulah Abbasiyah muncul Baitul Hikmah, rumah ilmu pengetahuan sebagai rumah bersama untuk pendidikan dengan tanpa sekat-sekat ideologi selama itu pengetahuan objektif. Umar bin Khatab melakukan transformasi pembentukan sistem diwan (bentuk jamak: dawawin). Beliau melakukan transformasi negara Islam dari struktur yang relatif sederhana menjadi pemerintahan yang lebih terorganisir dan terpusat yang berasal dari Persia.

Teknologi mengakibatkan banyak perubahan dan manusia itu yang akan merubah perubahan itu ke arah mana. Kehadiran AI ini menghasilkan beberapa tantangan keagamaan, yaitu disrupsi otoritas keagamaan karena akses ilmu pengetahuan itu terbuka tanpa batas, tetapi yang sohih dengan yang tidak sohih ini menjadi tabu.

Otoritas keagamaan akan terfragmentasi, manusia tidak mesti percaya pada fatwa di Batsul Masail, Majelis Tarjih, atau fatwa MUI dan fatwa-fatwa lain dan ada peluang fatwa-fatwa yang palsu. Banjir informasi akan menimbulkan komodifikasi agama (commodification of religion) maka viral menjadi acuan dan bahkan informasi keagamaan dapat dijual asal mendapatkan cuan (untung).

Kecerdasan buatan menurunkan literasi agama pada kelompok khususnya pada generasi muda dan akan memperkuat prasangka atau suudzon terhadap kelompok lain. Beberapa hal tersebut menjadi tantangan besar pemuka agama Islam atau ulama (cendikiawan muslim) dalam merespon kecerdasan buatan. Perhatian isu kecerdasan dan agama tersebut telah menjadi perhatian Dar al-Ifta al-Misriyyah (Lembaga Fatwa Mesir) dengan mengadakan konferensi besar pada 12-13 Agustus 2025.

Konferensi internasional tersebut mengundang mufti dari berbagai negara dengan tema “Membentuk Mufti yang Kompeten di Era Kecerdasan Buatan (The Making of the Competent Mufti in the Age of Artificial Intelligence).

Sejak masa klasik, Ulama berperan menjaga moral, kecerdasan spiritual, mengajarkan hikmah, pengetahuan, akhlak, menjaga warisan ilmu dari generasi ke generasi. Hari ini peran itu ditantang sekaligus diperluas oleh adanya algoritma yang bekerja tanpa akidah, tanpa empati, tanpa pertimbangan nilai.

Algoritma hanya mengenal klik, share, imprisi, retensi. Sementara, Ulama bertugas menjaga kebenaran, menjaga keutuhan iman, dan keluhuran akhlak. Ketegangan sekaligus peluang transformasi itu muncul dengan sebutan Custodians of Change (memijam istilah Muhammad Qasim Zaman). Maka, agama dan ilmu agama menetapkan syarat-syarat agar informasi untuk penerimaan informasi itu.

Informasi hadir dengan berbagai variasi, yaitu informasi yang benar dan serius, informasi benar tapi bercanda, informasi tidak benar tetapi bohong, informasi tidak benar tapi bukan bohong tapi salah paham, informasi yang berupa omong kosong (hoaks). Syarat dan prinsip penerimaan informasi dapat menduplikasikan seperti dalam ilmu hadits, yaitu penyebar informasi dhabit, adil.

Tulisan berjudul New Media in the Muslim World: The Emerging Public Sphere ditulis oleh J.W. Anderson memprediksi apa yang terjadi dengan Islam dengan media baru yang ada pada waktu itu.

Salah satu yang muncul dari kehadiran media yang baru adalah terjadi fragmentasi otoritas keagamaan. Bukan ulama yang mengkaji kitab kuning, bahasa Arab fasih yang bisa berbicara tentang tafsir, berbicara tentang doktrin-doktrin agama tetapi setiap orang dengan berbagai latar belakang pendidikan bisa bicara tentang agama.

Otoritas agama dapat bermakna ganda. Pada satu sisi ini disebut demokratisasi agama, peluang setiap orang untuk melakukan perdebatan, simbol-simbol, doktrin-doktrin, dan makna doktrin bagi kehidupan muslim.

Objektivikasi agama menjadi melebar dan memberikan kesempatan kepada setiap orang. Tetapi, disisi lain memberikan ruang kepada siapapun untuk bicara atas nama agama sesuai kehendaknya di ruang publik, dan tanpa memperdulikan respon publik.

Efek adanya kebebasan ruang media ini adalah adanya kelompok agama yang ekstrim baik kanan atau kiri atau kelompok lainnya dapat mengunakan media untuk membenarkan pendapat dan aksi mereka.

Muhammad Qasim Zaman dengan bukuya yang berjudul The Ulama in Contemporary Islam: Custodians of Change menyatakan perubahan hari ini (revolusi digital) bukan perubahan besar yang pertama yang terjadi dalam sejarah umat manusia.

Perubahan abad ke-16, 17, dan 18 telah ada revolusi industri, revolusi politik, revolusi budaya, dan lain-lain. Kondisi yang berubah besar di era revolusi industri sebelumnya tetap membuat Islam dan Ulama dapat mempertahankan relevansinya dan mereka para ulama adalah Custodians of Change (Penjaga Perubahan).

Ulama mempertahankan relevansinya terhadap kondisi digital hari ini dengan beradaptasi dengan audien yang memerlukan Islam siap pakai (ready to use). Kondisi ini juga menggeser atau merubah cara belajar dan mendapatkan jawaban masalah keagamaan. Belajar agama tidak seperti zaman dulu dengan dengan duduk dan mendengarkan Kyai membaca kitab kuning, diartikan kata per kata bab demi bab agar hingga selesai dari kitab tertentu.

Pada akhirnya, kecerdasan buatan bukanlah ancaman. Agama berasal dari Tuhan dan dijaga oleh Tuhan. Kecerdasan buatan dibuat oleh manusia karena anugrah dari Tuhan. Agama selalu berhubungan dengan wahyu Tuhan dan kecerdasan manusia adalah pengembangan dari hasil akal manusia.

Keduanya harus berkolaborasi agar manusia mudah mengenal, mengajarkan, dan mendapatkan ilmu agama. Masalah agama hendaknya dapat dicari jawabannya dengan berbagai referensi terpercaya pada kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan (AI) dibuat tidak untuk menjauhkan dari Tuhan dan informasi dari kecerdasan buatan dapat diterima dengan syarat dan prinsip tertentu sesuai cara pandang agama.

Manusia sebagai khalifah tetap eksis karena kecerdasan manusia bukan soal kecerdasan kognitif semata, tetapi juga kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Kedua kecerdasan itu tidak pernah akan dimiliki oleh kecerdasan buatan.

Komentar