Sejak mondok di Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean Pare pada tahun 2018, saya mendapat kesempatan berharga, yakni menerima ijazah pembacaan Manaqib Jawahir al-Ma‘ani karya Syekh Ahmad Jauhari Umar Pasuruan dari guru saya, KH. Abdul Hannan Ma’sum. Ijazah ini diberikan setelah saya beberapa kali mengikuti pembacaan manaqib secara rutin di pesantren, yang biasanya dilaksanakan pada malam tertentu dalam suasana penuh khidmat.

Awalnya, rasa penasaran saya begitu besar. Mengapa pesantren menjaga tradisi pembacaan manaqib ini dengan begitu istimewa? Apakah hanya untuk mengenang seorang wali besar, atau ada rahasia spiritual di baliknya?

Dalam tradisi pesantren, penjelasan detail sering kali baru diberikan jika guru menilai santrinya sudah siap menerimanya. Maka ketika kiai saya, KH. Abdul Hannan Ma’sum menjelaskan sejarah kitab ini, saya merasa seperti dibukakan pintu menuju samudera hikmah yang luas.

Menurut beliau, Jawahir al-Ma‘ani bukan sekadar biografi Syekh Abdul Qadir al-Jailani, melainkan juga memuat nilai-nilai tasawuf, keteladanan akhlak, dan kisah perjalanan ruhani yang sarat pelajaran. Syekh Abdul Qadir dikenal sebagai sosok yang teguh dalam ibadah, dermawan, dan memiliki karomah luar biasa. Pembacaan manaqib diyakini menjadi wasilah menumbuhkan kecintaan kepada para wali, menguatkan semangat ibadah dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

Syekh Abdul Qadir lahir di Jilan, Persia (Iran sekarang) pada tahun 470 H/1077 M. Sejak kecil dikenal tekun beribadah, siang diisi dengan puasa, malam dihidupkan dengan salat. Beliau menempuh perjalanan jauh ke Baghdad untuk menuntut ilmu, berguru pada ulama-ulama besar seperti Abu Sa’id al-Mubarak al-Mukharrami dan Abu al-Khair Hammad ad-Dabbas. Keilmuannya mencakup fikih, hadits, tafsir, dan tasawuf, berpadu dengan akhlak mulia, sehingga beliau dikenal dengan gelar Sulthan al-Awliya’.

Banyak kisah karamah beliau termuat dalam manaqib ini, mulai dari kemurahan hati memberi makan orang miskin, hingga nasihat yang mampu melunakkan hati yang keras. Namun, pesan terpenting beliau selalu sama, yakni kemuliaan seorang hamba bukan karena karomah, melainkan karena ketaatan kepada Allah dan keteladanan Rasulullah SAW.

Sejak menerima ijazah ini, saya merasakan manfaatnya secara langsung. Setiap membaca manaqib, hati menjadi tenang, pikiran jernih, dan beban terasa lebih ringan. Ada rasa kedekatan dengan para ulama dan wali Allah yang seakan menuntun langkah hidup. Kitab ini mengajarkan untuk menghargai perjalanan para kekasih Allah, meneladani ibadah mereka, dan menjaga hubungan dengan guru melalui sanad yang jelas.

Bagi saya, Manaqib Jawahir al-Ma‘ani bukan sekadar bacaan rutin atau catatan sejarah. Ia adalah penghubung antara santri masa kini dengan warisan spiritual ulama terdahulu. Setiap kalimatnya mengajak untuk mengingat Allah, berakhlak mulia, dan memperkuat tali persaudaraan. Di tengah derasnya arus modernisasi, pembacaan manaqib seperti ini menjadi tempat teduh yang mengingatkan bahwa kekuatan umat tidak hanya terletak pada kecanggihan teknologi, tetapi pada kejernihan hati dan keluhuran budi.

Meneladani Syekh Abdul Qadir berarti menghidupkan kembali semangat zuhud, kasih sayang, dan keberanian menegakkan kebenaran. Semoga cahaya hikmah beliau terus mengalir melalui sanad para guru hingga sampai kepada kita, menjadi peta jalan spiritual dalam menapaki kehidupan.

Komentar