Sosok Imam al-Ghazali penganggit kitab Ihya’ yang masyhur itu bisa dilihat dengan berbagai sudut pandang. Di dalam diri al-Ghazali kita jumpai pelbagai ragam “profil” yang kompleks. Tetapi lebih penting dari itu, al-Ghazali adalah “spesimen” atau satu contoh yang mewakili model keulamaan dan keintelektualan dalam sejarah Islam di masa lampau. Model ini bisa memberikan inspirasi bagi para kiai, sarjana, intelektual dan cendekiawan di era modern.

Catatan kecil ini saya tulis dengan tujuan sederhana: Apa yang bisa kita pelajari dari sosok al-Ghazali sebagai “counter-balance” atau imbangan terhadap praktek kecendekiawanan di zaman ini?

Ada dua kategori yang saya pakai untuk melihat sosok al-Ghazali: “kiai” dan “intelektual”/cendekiawan. Kategori “kiai” saya maknai dalam pengertiannya yang lazim dimengerti di Jawa dan kawasan Indonesia/Melayu pada umumnya: yaitu seseorang yang terdidik dalam ilmu-ilmu keislaman, mampu mengamalkan ilmu itu dalam kehidupan pribadi dan sosial, serta mampu “mengajarkan” ilmu-ilmu itu kepada orang-orang awam yang sederhana, selain kepada para “santri senior” yang memiliki kapasitas “spesialis” sebagai seorang ‘alim.

Karena harus mengajarkan ilmu-ilmu keislaman yang termuat dalam kitab-kitab kuning yang tebal-tebal itu (yang tipis juga banyak juga sih!) kepada para awam, para kiai itu dipaksa harus menemukan bahasa dakwah yang sederhana yang bisa “digayuh” oleh nalar orang-orang kampung. Ini kemampuan yang tidak main-main. Di mata anak-anak kuliahan, skill komunikasi seperti ini dianggap sepele dan mungkin diremehkan (karena pendidikan modern sejak awal memang mengidap bias orang kota!). Lokasi sosial para kiai sebagian besar ada di kampung, dan dekat sekali dengan orang-orang awam.

Sosok kiai ini kontras dengan sosok lain yang secara geografis berlokasi di kota: yaitu sosok “intelektual” atau cendekiawan. Perbedaan mendasar antara “kiai” dan “cendekiawan” terletak dalam wilayah epistemologi, dalam pengertian: sumber dan asal-usul pengetahuan. Jika ilmu-ilmu para kiai sebagian besar bersumber pada tradisi keilmuan Islam yang berasal dari Timur Tengah (meskipun sudah di-“customize” atau disesuaikan dengan kondisi lokal), sumber ilmu para cendekiawan umumnya berasal dari Barat. Kitab-kitab yang dibaca para kiai berbahasa Arab. Sementara “kitab” para cendekiawan umumnya berbahasa Inggris dan bahasa Barat lainnya.

Perbedaan penting lain adalah terletak pada wilayah sosial. Jika para kiai lebih dekat dengan orang-orang awam, para cendekiawan pada umumnya mengidap semacam “sindrom elitisme,” perasaan lebih nyaman berada di lingkungan masyarakat elit, dan agak kurang nyaman berbicara dengan orang-orang awam.

Kelemahan dasar para cendekiawan (saya amat tahu hal ini karena saya pernah “mengalaminya”!) adalah kesulitan menemukan model komunikasi sederhana yang membuat pesan-pesan “rumit” yang termuat di buku bisa dipahami nalar orang awam; mereka bisa “gaduk” dan “nyandak.”

*

Al-Ghazali adalah sosok yang mengawinkan dua model ini. Dia adalah seorang cendekiawan dan sekaligus juga kiai. Model ini tidak saja terjadi pada al-Ghazali, tetapi pada semua ulama di zaman dahulu. Seperti saya katakan sebelumnya, al-Ghazali hanyalah spesimen atau satu contoh saja yang mewakili kecenderungan umum di kalangan ulama masa klasik Islam.

Mari kita lihat perkawinan kiai-cendekiawan ini dalam karya-karya Imam al-Ghazali (yang hendak mengetahui seluruh karya al-Ghazali, mana yang asli, mana yang “palsu,” silahkan membaca studi yang sudah lama dan sangat komprehensif oleh Dr. Abdurrahman Badawi, “Mua’llafat al-Imam al-Ghazali”).

Di satu pihak, al-Ghazali menulis kitab-kitab yang kategorinya adalah “bacaan kaum cendekiawan,” seperti Maqashid al-Falasifah, Tahafut al-Falasiah, al-Mustashfa, dll. Kitab Misykat yang saya baca selama bulan puasa kemaren, bisa kita kategorikan dalam jenis ini. Malahan Misykat ini, menurut saya, sudah “beyond cendekiawan,” melampaui level kecendekiawanan. Sebab, kitab ini adalah semacam bacaan buat orang-orang yang memiliki kemampuan khusus secara “spiritual.”

Di pihak lain, al-Ghazali juga menulis kitab sederhana untuk orang-orang awam, seperti Bidayat al-Hidayah atau Ayyuha-l-Walad. Untuk memvisualisasikan agar lebih “cetha wela-wela,” saya bisa gambarkan dengan analogi demikian. Jika kitab-kitab seperti Tahafut al-Falasifah itu dijual di Gramedia (inilah toko buku ke mana para “cendekiawan” umumnya pergi untuk mencari bacaan; tentu ini sebelum era beli buku secara online seperti sekarang!), maka kitab-kitab seperti Bidayat al-Hidayah itu biasanya dijual di toko-toko buku sederhana yang terletak di dekat makam para wali di Jawa. Biasanya kitab seperti ini dijual bersama barang-barang lain yang akrab di mata orang awam: Yasin, kitab Tahlil, primbon Jawa, tasbih, dan gambar-gambar Walisongo (termasuk, konon, gambar-nya Sunan Kalijaga); termasuk, tentu saja, peci dengan segala ragammya, dan sarung yang bukan cap tiga huruf (kalau yang ini, biasanya dijual di toko “elit”).

Di mana letak kitab Ihya’? Kitab ini sebetulnya ditujukan untuk. Orang pada umumnya, kalangan awam, tetapi awam yang sudah mencapai kelas agak “canggih.” Dengan kata lain, Ihya’ adalah karya yang berada pada posisi “baina-baina,” antara.

Bagi saya, bukan sesuatu yang mudah untuk bergerak wira-wiri antara bahasa “cendekiawan” dan bahasa awam seperti yang dilakukan oleh al-Ghazali melalui kitab-kitabnya itu. Para cendekiawan modern, umumnya, agak enggan (atau malahan mungkin tidak mampu) menulis buku untuk orang awam. Mereka merasa, hal semacam itu mungkin akan membuat “status intelektual” mereka sedikit merosot. Yang dipandang sebagai hal keren di mata mereka adalah jika berhasil menulis di jurnal.

Ini berkebalikan dengan praktek keulamaan di masa lampau dalam sejarah Islam. Para ulama Islam di zaman dahulu, dan ini diteruskan oleh para kiai hingga saat ini, tidak kikuk dan segan-segan untuk wira-wira secara intelektual antara “langit” dan “bumi, ” antara menulis untuk “jurnal ilmiah” dan menulis untuk orang awam (seperti dilakukam oleh Kiai Soleh Darat dari Semarang, gurunya RA Kartini).

Kadang mereka menulis buku canggih untuk orang-orang khawas, elit. Di saat yang lain mereka menulis kitab-kitab tipis dan sederhana untuk murid-murid di tingkat ibtidaiyah atau dasar. Bahkan mereka menulis kitab untuk orang awam yang sama sekali tidak mengenal tradisi kecendekiawanan tingkat tinggi.

Bagi saya, ini salah satu keistimewaan dalam tradisi intelektual Islam yang layak dirawat dan dikembangkan terus hingga sekarang. Tradisi ini penting ditonjolkan kepada para “masyarakat terdidik” modern sebagai imbangan, malahan juga sekaligus “antidote” atau racun penawar terhadap “elitisme” dalam pendidikan modern.

*

Apa yang bisa kita pelajari dari model keulamaan tradisional ala al-Ghazali semacam ini?

Saya mengajak agar para sarjana Islam kita, terutama yang mengajar di UIN/IAIN dan universitas modern lain untuk melakukan “oto-kritik” atas kekurangan dalam tradisi intelektual yang berkembang di lingkungan mereka. Kekurangan itu ialah elitisme intelektual. Elitisme ini, menurut saya, berasal dari model pengetahuan modern di Barat pada umumnya yang memisahkan aspek “theoria” dari “praxis,” ilmu dari amal sehari-hari. Di Barat modern, sudah merupakan hal yang lazim ilmu dipelajari sebagai “keasyikan teoretis.” Kalaupun di-“amal”-kan, ilmu-ilmu itu biasanya ditujukan untuk melakukan “rekayasa sosial” atau “ekploitasi alam.” Meminjam bahasanya Juergen Habermas, filsuf besar terakhir dari Jerman yang masih hidup hingga sekarang, ilmu diamalkan dengan tujuan yang instrumental, bukan strategis, apalagi komunikatif.

Bagaimana cara praktis untuk “mengobati” elitisme ini? Usulan saya sederhana: meniru praktek yang dilakukan oleh para ulama di Universitas al-Azhar, Mesir, yaitu melakukan dua hal sekaligus — memberkan kuliah di kampus yang disebut dengan “muhadlarah,” dan memberikan pelajaran secara tradisional di masjid, langgar, atau tempat-tempat lain yang disebut dengan “talaqqi.” Perkawinan antara “muhadlarah” dan “talaqqi” ini, bagi saya, amat ideal.

Sebetulnya, para dosen kita, sebagian, sudah mempraktekkan hal ini. Tetapi masih dalam skala yang terbatas. Ada kesan, jika seorang dosen memberikan pengajian di majlis taklim, akan dipandang kurang keren. Padahal, mengajar semacam inilah yang akan membuat para intelektual dekat dengan orang-orang awam.

Tradisi yang dicontohkan oleh ulama Islam di masa lampau layak ditonjolkan kembali sekarang. Al-Ghazali dan para ulama pada zaman klasik Islam, tidak merasakan kekikukan apapun untuk bergerak antara “Tahafut al-Falasifah” dan “Bidayat al-Hidayah,” antara menjadi “kiai” dan “cendekiawan.” Praktek ini masih dipertahankan oleh para kiai kita di pesantren. Mereka ini bisa saja mengajarkan kitab yang canggih dan tebal seperti, misalnya, “Mughni al-Muhtaj” karya al-Khathib al-Syirbini, lalu di hari lain berceramah untuk orang-orang kampung dengan bahasa yang sederhana, dengan ger-geran ala orang-orang “ndeso.”

Bagi saya, model keulamaan yang bisa wira-wiri antara “langit” dan “bumi” inilah yang cocok dan “plek” dengan sosok kenabian Kanjeng Nabi Muhammad. Kanjeng Nabi, seperti kita tahu, setelah asyik menikmati “mi’raj” dan berdekat-dekat-munajat dengan al-Haqq, beliau kembali ke bumi, ke orang-orang awam. Inilah barangkali kenapa ulama dalam pengertian “kiai,” sebagaimana disebut dalam sebuah hadis terkenal itu, adalah “waratsat al-anbiya’,” pewaris para nabi.

Kelemahan model pengetahuan dan kecendekiawanan modern adalah elitisme: menikmati mi’raj teoritis, tetapi “gagal” kembali ke bumi, berbicara dengan bahasa “Bidayat al-Hidayah,” bahasa orang-orang awam.