Pesantren, seminggu yang lalu saya menanyakan alasan santri berpuasa Dawud. Jawaban mereka beragam, ada yang ingin lebih bisa mengontrol diri, merasakan kemudahan dalam hafalan, ikut-ikutan teman, mengefisienkan waktu, berhemat, dan ada pula yang sekadar ingin mencoba saja. Padahal, saya kira mereka akan menjawab alasan keimanan, karena kebanyakan puasa itu hubungannya vertikal kepada Sang Pencipta.

Pagi hari setelah setoran hafalan, saya menanyakan satu per satu alasan mereka berpuasa. “Mbak, ustadzah mau tanya. Tapi ini santai saja ya, jadi jangan merasa didesak atau apa pun, karena jawabanmu tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar juga.” Ia mengangguk, isyarat mengiyakan. “Sebelumnya, kamu merutinkan puasa Dawud ya, Mbak? Apa sih alasan kamu melakukannya?” Ia terkaget dan meluruskan pandangan yang sebelumnya menunduk. “Iya, ustadzah, hmm… apa ya, us? Pengen lebih sabar saja, us.”

“Terus, setelah berpuasa jadi lebih sabar?” Ia melanjutkan, “Kadang sabar, kadang juga enggak, us, tapi lebih enak saja, lebih mudah mengendalikannya.” Saya mencoba membayangkan perilakunya sehari-hari. Memang ia orangnya sabar dan tekun. Saya kembali melihatnya dan membatin, “Tapi, apakah ini dampak dari puasanya atau ia memang sudah punya karakter sabar itu?” Tidak lama saya menanyakan tentang keluarganya. “Umi dan Abi tahu kalau kamu puasa Dawud?” Ia menjawab, “Tahu, ustadzah.”

Respons umi dan abinya sangat senang, karena ia menceritakan kalau di keluarganya (umi, abi, dan kakak) sudah rutin puasa Senin-Kamis. Bahkan uminya sudah pernah mengajak untuk berpuasa Dawud, tapi belum kesampaian. Tapi sebenarnya, saya kasihan kalau melihat ia ketika berpuasa. Kelihatannya sangat lemas dan pucat sekali. Awalnya saya kira ia merutinkan puasa Dawud karena tidak enakan menolak ajakan kakak kelasnya. Selain itu, saya kira juga ia ingin tampil lebih dari teman-temannya.

Ternyata perkiraan saya salah. Wajar saja ia merutinkan puasa Dawud, karena memang dari latar belakang keluarganya mereka sudah terbiasa dengan ibadah sunah. Umi dan abinya tidak sekadar memberikan perintah, tetapi juga melaksanakannya. Sehingga, hal ini menjadi bekal keimanan dasar yang membedakan dirinya dengan santri lain yang tidak berpuasa Dawud.

Saya melanjutkan obrolan kepada santri lain yang sama-sama merutinkan puasa Dawud. Kali ini saya harus menahan diri untuk tidak terbawa perasaan. Bagaimana tidak, inilah dua orang santri yang ketika berpuasa mereka malas-malasan belajar, hafalan jarang sekali lancar, mengantuk saat pelajaran, telat berjamaah Maghrib dengan alasan buka puasa, dan sering izin kegiatan lainnya. Pokoknya saya melihat berpuasa malah memberikan dampak kurang baik kepada mereka.

Saya bertanya to the point. “Mbak, ustadzah mau tanya, apa sih alasan kamu berpuasa Dawud?” Ia menjawab, “Niatnya supaya enggak ngantuk-ngantuk terus, us, supaya lebih sabar juga.” Mendengar jawaban seperti itu, rasanya saya ingin menimpali, “Malah nambah ngantuknya, toh, Mbak? Aku malah yang harus sabar menghadapi kamu.” Tapi itu perkataan yang hanya di benak saya saja. Saya tidak mau terkesan menilai rendah perbuatan baiknya.

Dia memang berusaha melawan nafsunya untuk tidak mengantuk saat belajar dan lebih sabar dalam berbuat. Dalam pelaksanaannya, terkadang ia merasa berhasil atas tujuannya berpuasa, terkadang juga tidak. Katanya, ketika ada teman yang menyebalkan, di situlah ujiannya. Ia masih belum bisa sepenuhnya bersabar atas perilaku kurang baik dari orang lain. Sehingga responsnya marah-marah, padahal ia sadar sedang berpuasa.

Kalau temannya satu lagi tidak jauh berbeda alasannya. Perilaku sehari-harinya juga sama karena mereka teman dekat, jadi sebelas-duabelas. Model seperti ini yang membuat jengkel. Terkadang, ingin langsung bilang, “Kalau puasa Dawud membuat kalian jadi tidak disiplin dan malas-malasan, lebih baik berhenti, Mbak! Toh ini juga sunah.” Tapi rasanya saya terlalu egois kalau langsung melarang seperti itu, tanpa mengetahui dampak baik yang mereka rasakan. Tapi entahlah, saya yang kurang memahami mereka atau mereka yang kurang paham esensi berpuasa.

Selanjutnya saya mengobrol dengan santri dengan alasan berbeda. Ketika ditanya alasannya berpuasa Dawud, ia menjawab, “Awalnya saya ikut teman, us, karena teman-teman angkatan saya semuanya berpuasa. Tapi setelah berpuasa saya merasakan dampak baiknya.” “Coba sebutkan apa dampak baik yang kamu rasakan, Mbak,” jawab saya saat itu. “Saya merasa puasa sebagai pengingat diri, us.” Saya bertanya lagi, “Lah kok bisa, Mbak?”

“Iya, us, dengan berpuasa, seakan-akan saya diingatkan oleh diri sendiri, ‘kamu sedang berpuasa, lakukanlah yang lebih bermanfaat!’ Terus saya membaca buku atau tilawah Al-Qur’an.” Saya mengangguk dan berpikir, berarti yang seperti ini berpengaruh pada keimanan yang semakin meningkat. “Terus apa lagi yang kamu rasakan, Mbak?” tanya saya penasaran, karena awalnya saya kira ia hanya ikut-ikutan teman supaya mendapatkan validasi pertemanan.

“Setelah beberapa kali puasa Dawud, saya rasanya bisa menggunakan waktu dengan baik, us.” Jawaban yang membuat penasaran. Selama ini banyak santri yang menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan, sehingga membuang-buang waktu. Saya lanjut bertanya, “Maksud menggunakan waktu dengan baik bagaimana, Mbak?”

Ia menjawab, “Kalau di pondok, semua kegiatan sudah terjadwal, kan, us, termasuk makan. Dengan berpuasa, saya bisa memanfaatkan jadwal makan untuk mempersiapkan kegiatan lainnya. Ketika teman-teman makan, saya langsung ke masjid untuk mempersiapkan setoran hafalan Al-Qur’an. Memang belum terasa banget pengaruhnya, tapi setidaknya saya merasa lebih leluasa untuk mempersiapkan setoran.”

Beberapa santri ada yang mengaku dengan berpuasa Dawud mereka merasakan kemudahan dalam menghafal. Saya tanya alasan detail bentuk kemudahan seperti apa yang dirasakan. Ia menjawab, “Hafalan jadi lebih gampang melekatnya, us.” Saya membayangkan, perasaan dia berpuasa atau tidak, hafalannya begitu-begitu saja. Kok bisa-bisanya menyatakan seperti itu? Saya menepis pikiran itu dan berkata pada diri sendiri, mungkin ia grogi ketika menyetorkan hafalannya.

Katanya, “Memang tidak selalu mendapatkan kemudahan itu. Harus ada usaha, terus mengulang-ulang supaya hafal. Tapi setidaknya saya sudah membuktikannya, us.” Saya terdiam dan memikirkan, berarti dia juga sadar kalau ingin hafal tidak serta-merta mengandalkan puasa dan berdiam diri, tetapi harus ada usahanya. Berpuasa bisa membantu ia bersabar, menjadikannya tenang, sehingga menghafal menjadi lebih fokus. Inilah semacam “algoritma” yang saya tangkap dari pernyataannya.

Kali ini saya mengobrol dengan santri yang menjadikan finansial sebagai salah satu alasannya berpuasa Dawud. Ketika ditanya, “Alasan kamu berpuasa Dawud apa, Mbak?” Ia menjawab, “Dulu pernah disarankan orang tua, us. Katanya SMA nanti kalau bisa puasa Dawud.” Saya langsung paham kenapa orang tuanya menyarankan ketika SMA saja. Lalu saya kembali bertanya, “Terus kenapa dilakukan sekarang, Mbak?” Ia menjawab, “Kalau sekarang, selain diajak teman, saya juga pengin lebih hemat saja sih, us, hehe.”

“Terus sudah terasa lebih hemat?” tanya saya kembali. Ia menjawab, “Sudah lumayan terasa, jajannya berkurang, us.” Kemudian saya mengingat kembali ketika masih sekolah. Memang benar, berpuasa menjadi cara alternatif untuk berhemat. Uang dari orang tua bisa ditabung atau bisa juga untuk membeli sesuatu yang diinginkan tanpa meminta lagi. Saya mengangguk dan berkata, “Oh iya, Mbak, bagus juga itu. Tapi kalau mau jajan, ya jajan saja ya, Mbak.” Kami berdua tertawa mengakhiri obrolan.

Terakhir, saya mengobrol dengan santri yang alasannya agak lain. Bagaimana tidak, ia berpuasa sekadar uji coba saja. Langsung saya tanya, “Kamu berpuasa Dawud apa alasannya, Mbak?” Ia menjawab santai, “Pengen ngerasain puasa Dawud saja, us, gimana rasanya.” “Terus setelah berpuasa gimana rasanya?” tanya saya kembali. Ia menjawab singkat, “Biasa saja, us.”

Dalam benak saya, “Ini orang niat puasa enggak sih? Kok jawabannya begitu saja.” Karena kurang puas dengan jawabannya, saya kembali bertanya. “Sebenarnya apa yang kamu bayangkan kalau orang berpuasa Dawud, Mbak?” Jawabannya, “Saya bayangin kalau orang puasa Dawud itu biasa saja, us, karena teman-teman ada juga yang puasa Dawud tapi saya lihat biasa saja.” Saya mengangguk membenarkan jawabannya, karena kebanyakan juga seperti itu yang saya lihat.

Obrolan menjadi menarik ketika ia menutup dengan perkataannya, “Karena ketika puasa Dawud saya ngerasain sama saja, enggak ada efek luar biasa, makanya saya mau berhenti dan fokus ke Senin-Kamis dan Ayyamul Bidh.” Saya menanggapinya, “Oh iya, Mbak, itu juga sudah bagus.”

Obrolan saya dengan para santri berakhir, berbarengan juga dengan berakhirnya waktu setoran. Setelah beberapa hari saya merenung, disambi dengan kegiatan lain, saya jadi paham. Sebenarnya saya tidak memiliki kewajiban menilai baik buruknya perbuatan seseorang. Apa yang saya anggap kurang baik, bisa jadi itu gerbang perubahan baik dalam diri seseorang. Saya hanya bisa melihat yang tampak, tetapi mengabaikan apa yang mereka rasakan.

Saya sadar, kalau kita sebagai makhluk sosial punya perasaan yang harus dipahami dan rasa empati yang harus ditumbuhkan. Ternyata, berpuasa Dawud menjadi alasan emosional, finansial, dan produktivitas bagi para santri. Jika apa yang saya lihat kurang sesuai, tugas saya hanya sebatas menegur lalu menasihatinya. Dan benar, dosen saya bilang, “Tugas kita adalah memahami, bukan menghakimi.”

Komentar