“Kenapa senja begitu dirindukan? Kadang ia merah merekah bahagia, kadang ia hitam kelam berduka, tapi langit selalu menerima senja apa adanya”, demikian ungkap Jo kepada Sore dalam film Sore: Istri dari Masa Depan.

Film besutan Yandy Laurens ini punya premis cerita yang sederhana tetapi dikemas dengan penuh kompleksitas time looping. Makin menarik karena film ini mengangkat banyak isu relevan. Mulai dari krisis iklim, kesehatan, kesenian, pengasuhan keluarga, kesehatan mental hingga penerimaan diri.

Sebelum menonton film ini, dari judulnya, hal yang terlintas pertama kali di benak penulis adalah surat al-‘Ashr. Pemahaman itu makin kuat usai menonton film dengan durasi 2 jam tersebut. Karenanya tulisan ini akan coba mengulas film ini dari falsafah teologi Surat al-‘Ashr.

Surat ini diawali dengan sumpah Allah kepada manusia, wa al-‘ashr. Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar menyebutkan ada dua maknanya. Pertama, demi waktu secara umum. Masa seluruhnya ini, waktu demi waktu yang kita lalui dalam hidup, zaman demi zaman, masa demi masa, dalam bahasa Arab Ashr juga sebutannya. Kedua, waktu ‘Ashar, waktu petang hari seketika bayang-bayang badan sudah mulai lebih panjang daripada badan kita sendiri, sehingga masuklah waktu salat ‘Ashar.

Keduanya bisa dipahami secara berbarengan. Allah Swt bersumpah atas waktu secara umum, karena waktu adalah elemen penting dalam kehidupan manusia. Ia terus berputar dan tak dapat diubah. “Ada tiga hal yang tak dapat diubah, masa lalu, rasa sakit dan kematian”, kata Marko kepada Sore. Tiga hal tersebut berkaitan dengan waktu.

Pada saat yang sama, Allah pun bersumpah demi waktu ashar secara spesifik. Waktu ini sering juga disebut sore atau senja. Masa ini sering menyiratkan penyesalan bagi manusia yang tak mengisi waktu dengan baik. Sore hari bagi para pekerja adalah waktu berkeluh kesah dan menyesali apa saja yang tidak dilakukan selama satu hari. Usia senja bagi manusia sering menjadi masa nostalgia penyesalan. Ada kesehatan dan kesempatan berkumpul bersama orang terkasih yang diabaikan di masa lalu.

Spirit falsafah al-‘Ashr ini juga tampak jelas dari kehadiran Sore dalam kehidupan Jo. Sore ibarat masa lalu yang datang memberikan pelajaran kepada Jo, bahwa hidupnya di masa depan diambang kehancuran. Sosok Sore yang selalu datang menghampiri Jo setiap pagi laksana pengingat bagi kita, dalam menjalani hari demi hari perlu diperhatikan dengan teliti. Langkah apa yang kita pilih hari ini, bukan hanya berlaku untuk hari ini saja. Tapi jauh ke depan, ia akan berdampak 10-20 tahun yang akan datang. Bagi umat Islam, konsekuensinya berlanjut hingga kehidupan di akhirat kelak.

Film Sore mengajarkan kita pentingnya menjaga kesehatan dan kesempatan di masa muda. Film ini secara tersirat mengkritik pandangan “YOLO”, you only live once, kamu hanya hidup sekali, maka nikmati selagi di sini. Dengan semangat YOLO yang cenderung hedonis dan materialis, melahirkan kerusakan moral dan kesehatan yang terancam. Saat ini marak kasus kesehatan yang menimpa anak muda, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, diabetes, dll. Penyakit yang dulu dilekatkan pada orang tua, kini banyak mengidap anak remaja. Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan peningkatan kasus diabetes pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir, bahkan mencapai 700% dalam satu dekade terakhir.

Memang tepat pesan Nabi Saw bahwa ada dua hal yang banyak membuat manusia terlena, yaitu kesehatan dan waktu luang. Anak muda mempunyai dua hal tersebut: sehat dan nganggur. Akhirnya muncul kebiasaan buruk seperti merokok dan nge-vape, bergadang terus menerus, hingga mengonsumsi berbagai jenis makanan manis dan berlemak hatta yang haram: minuman keras dan narkoba. Film ini dengan tegas memperlihatkan bagaimana penyesalan itu datang belakangan. Sore, bukan hanya sebatas tokoh, tetapi menjelma menjadi manifestasi waktu yang memang sering melahirkan kedukaan.

Satu hal lagi yang menjadi poin penting dari film ini bahwa apa yang sudah berlalu memang tidak dapat diubah, tetapi hari ini dan masa depan masih bisa berubah. Itu semua kembali pada pilihan sikap manusia untuk berubah. Perubahan itu datang dari diri pribadi, bukan orang lain. Sekuat apa pun istri, orang tua, anak mau mengubah sosok yang dicintainya, tak akan berdaya jika tidak dimulai dari perubahan diri.

Meski perubahan itu berasal dari diri, bukan berarti kita tidak punya tanggung jawab sosial. Sore sudah menjalankan perannya sebagai istri. Ia menasihati suaminya untuk berubah. Wa tawashaw bil haq dan shabr. Perlu terus saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Ketika ada keluarga atau kawan yang masih mempunyai kebiasaan kurang baik, perlu diingatkan tetapi bukan dipaksakan.

Dalam konteks dunia digital hari ini, kewajiban menasihati itu dapat dilakukan secara kolektif melalui media sosial. Kesadaran terhadap hidup yang sehat sejak usia muda perlu disebarluaskan. Ketika itu dilakukan, maka kita sudah mengambil peran sebagai ‘Sore’ yang mengingatkan saudaranya. Karena pada hakikatnya, setiap dari manusia adalah ‘Sore’ yang menanti senja untuk dirayakan.

Senja memang istimewa. Kehadirannya adalah bahasa cinta dari Sang Pencipta. Dari senja kita belajar, ia bisa menyisakan luka atau menghadirkan cahaya. Senja tak pernah salah, manusialah yang sering berulah. Karenanya tunggu dan nikmatilah senja, selagi masih dapat bersua.

Komentar