Pada usia pertengahan SMA, saya telah menamatkan setidaknya 3 dari 12 jilid buku Tarbiyah Jihadiyah. Di kota santri yang kental dengan Islam tradisionalnya itu saya secara intensif mendiskusikan pemikiran-pemikiran mendiang Azzam yang menggelorakan perjuangan kemerdekaan Afghan dari cengkeraman Uni Soviet dalam kelompok kecil pengajian. Sayang, ketika itu kami tak memiliki literatur pembanding dari sudut pandang lain. Saya ketika itu hanya paham bahwa itulah jihad yang sebenarnya.

Hingga tak berselang lama, tiba-tiba tragedi WTC terjadi. Saya masih ingat, pagi itu saya menyaksikan berita sembari sarapan jelang berangkat sekolah sambil jantung saya berdegup kencang. Saya jadi teringat dengan video serial dokumenter (jika tak mau disebut propaganda) berjudul Neraka Rusia yang intensif secara berkala kami tonton itu yang saya kira hanyalah video masa lalu media “pembangkit semangat” tak berimbas begitu dahsyat seperti ini.

Belum selesai saya berpikir tentang benar tidaknya jalan pilihan saya ini, tiba-tiba tragedi bom Bali terjadi. Tak berselang lama, salah satu ustaz yang rutin saya hadiri pengajiannya dicokok oleh Densus 88 dengan tuduhan yang tak main-main, pentolan JI. Saya masih ingat bagaimana ibu menyidang saya sembari berlinangan air mata melihat jalan yang dipilih anaknya ini.

Saya paham betul kenapa ia begitu bermata sembab, karena sebagai “pernah” mualaf ia mengkhawatirkan jalinan keluarga kami yang sangat majemuk. Pada saat itu karena saking bingungnya, saya malah ikut menangis. Dengan membentak saya berkata kepadanya, “Nek aku teroris, mestine Eyang wis tak bom (jika saya teroris, semestinya Eyang sudah saya bom).” Dan kemudian kami semua terdiam.

Sejak saat itu, saya dilarang salat di masjid tetangga desa yang notabene tempat saya rutin mengaji. Mengaji pun dilarang, kecuali jika ada Yasinan di tetangga. Ruang gerak saya dibatasi, tapi untung ibu tak tahu simpanan buku-buku saya. Hingga kemudian kelulusan SMA datang, saya memilih Solo sebagai tujuan studi dan pucuk dicita ulam tiba, saya diterima di salah satu kampus negeri di kota itu. Tentu Anda paham pikiran saya ketika itu, dan saya sangat paham ibu bapak saya pun mafhum misi terselubung saya. Maka dari itulah, wanti-wanti ibu pertama yang terucap adalah, “Ojo pisan-pisan kowe dolan Ngruki (jangan sekali-kali kamu main ke Ngruki).”

Pada kenyataannya, wanti-wanti itulah yang pertama saya langgar. Hari-hari pertama saya di Solo justru adalah mencari rute menuju daerah tersebut.

Namun, di Solo suasana begitu beda. Hal pertama yang harus saya terima adalah kenyataan bahwa saya harus menjalin persahabatan dengan kawan-kawan berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin yang terlalu menjamur di kampus saya. Padahal, dalam pandangan saya ketika itu demokrasi adalah sebuah sesembahan yang setara patung-patung yang dihancurkan Ibrahim. Di sisi lain, berkuliah pada prodi yang ternyata mayoritas berisi para pemabuk pun membuat saya mengalami keterkejutan budaya.

Pada saat itu, saya merasa diri ini sudah jauh dari jamaah. Bahkan sempat terpikir jika saya mati dalam kondisi itu, saya begitu jauh dari wangi surga. Hingga pikiran polos saya berinisiatif, saya harus mencari amal baik sebagai pesangon. Dan ketika itu sebagai anak yang penuh kegamangan keyakinan, pilihan saya jatuh pada TPA di masjid dekat kos, sembari pelan-pelan menjalin jembatan penghubung saya dengan dua kelompok di atas yang sebenarnya saya benci. Dan ternyata bisa, sampai-sampai ada satu fragmen yang membuat saya mak cles, ketika salah satu kawan pengajar TPA mengirim SMS ucapan terima kasihnya dengan redaksi kurang lebih, “Terima kasih akhi telah rela ikut mengajar di TPA, meskipun jalan pemikiran kita begitu berbeda.”

Jika dipikir-pikir, pilihan sederhana inilah yang bermakna besar dalam kehidupan saya. Kawan pengajar TPA yang mengajarkan saya untuk saling menghargai perbedaan, lingkungan IM yang memaksa saya belajar memahami keragaman perspektif, bahkan kawan-kawan kuliah yang sekarang telah insyaf dari menafakuri cangkir-cangkir kebebasannya. Tak lupa juga keluarga yang sejak dini menanamkan toleransi secara nyata yang tak sembarang orang bisa merasakan ini. Berkali-kali saya selalu berkata kepada mereka, sejak dulu saya tak pernah berubah. Saya masihlah tetap bocah yang dari dulu terus mencari jalan terang di tengah belantara yang penuh jebakan dan kegamangan.

Tak lupa, prodi tempat saya kuliah pun turut andil. Karena Bapak Ibu dosen sayalah, saya yang ababil dipaksa membaca buku yang sempat dalam pikiran saya tak ada manfaatnya, yaitu aneka novel dari yang paling saru sampai paling serius. Prodi inilah yang mengenalkan saya dunia sastra dan beberapa tokoh sastra yang melunakkan hati saya dan lagi-lagi memaksa saya belajar keragaman perspektif.

Mungkin pelaku bom bunuh diri itu pun mengalami kegamangan seperti yang saya alami, sehingga ia memilih mencari mati sebagai jalan instannya, daripada membebani pikirannya. Atau mungkin, doktrin yang diterimanya terlalu kuat sehingga membuatnya lupa akan keluarga, kawan, dan lingkungan yang mendewasakannya. Namun, satu yang sangat saya kutuk dalam hal ini adalah dalang yang menggerakkannya. Bagaimana mungkin ketika hampir semua orang berdoa disampaikan umurnya hingga merasakan Ramadan, malah dia memprovokasi orang lain untuk tak berjumpa bulan tersebut.