“Selembut embun di pagi hari, tengadah tangan sepuluh jari, ucapankan salah setulus hati, mari kita bersama berbenah diri, di bulan ramadan yang suci. Marhaban ya ramadhan.

Di mana bulan mulia yang kedatangannya senantiasa membawa keberkahan bagi setiap umat muslim di dunia. Begitu banyak pahala yang diturunkan oleh Allah swt. Untuk umatnya berlomba-lomba dalam kebaikan, juga meningkatkan keimanan dan ketakwaan mereka. Bulan suci ramadan adalah bulan penuh ampun. Di mana semua pintu maaf telah dibuka dan memberi kesempatan bagi semua orang (umat muslim).

Rasa syukur tak henti-hentinya terucap karena kita masih dapat diberikan kesempatan, umur yang panjang untuk menjalankan bulan suci ramadan tahun ini. Namun, bulan suci ramadan kali ini ada yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Belum juga usai, hadirnya wabah virus korona tahun lalu yang dampaknya begitu besar bagi seluruh manusia yang ada.

Mengingat ramadan tahun lalu, para orang-orang dibatasi aktivitasnya tak terkecuali salat tarawih dan tadarus di rumah yang hanya bisa dilaksanakan di rumah masing-masing demi menjaga dan mencegah terjadinya penularan virus korona yang ada.

Tahun pun berlalu, dan kita bertemu lagi di bulan suci ramadan tahun ini, tetapi tahukah kamu, belum juga reda wabah virus korona, Kini awal ramadan disambut dengan berbagai bencana alam yang melanda negeri Indonesia. Mulai datangnya banjir bandang dan tanah longsor di NTT yang menelan banyak korban jiwa. Serta curah hujan yang sangat tinggi dan cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir di Malang dan Puncak, Bogor, serta tempat-tempat lainnya seperti: Kalimatan Selatan, Bangka Belitung, Jombang, Jawa Timur, Sulawesi Barat dan masih ada beberapa lainnya. Disusul  dengan ledakan kilang minyak pertamina di Indramayu, Jawa Barat, hingga kecelakaan laut yang menenggelamkan sebuah kapal KRL Nanggala yang mengugurkan 53 jiwa di perairan Bali.

Seakan cobaan demi cobaan menghantam penduduk bumi Indonesia, yang seharusnnya dimana mereka merayakan bulan suci ramadhan dengan suka ria, keamanan dan kenyamanan serta kebahagian haru bersama keluarga dan sanak saudara menyambut hari kemenangan, hari kebahagian seluruh umat islam, namun mereka harus menghadapinya dengan penuh suka dan duka juga air mata.

Bulan yang seharusnya dimanfaatkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, justru malah digunakan untuk hal-hal buruk dan merugikan bagi orang lain. Seperti dikutip dari kasus terbongkarnya kebohongan para tenaga kesehatan yang tak bertanggung jawab di Sumatera Utara. Mereka melakukan penipuan atau memanipulasi alat tes atigen bekas yang kemudian mereka cuci ulang hingga bersih untuk kemudian di pergunakan kembali kepada orang lain. Sungguh miris, manusia berilmu tapi tidak berakal, mungkinkah ini adalah tanda hari akhir zaman? Wallahua’alam.

Apalagi memasuki malam lailatul qodar, malam yang baik daripada seribu bulan, malam yang ditunggu-tunggu saat bulan ramadan. Semoga di malam-malam lailatul qodar ini selalu senantiasa dipergunakan bagi kita sebagai umat muslim dengan sebaik-baiknya. Serta ikhlas dan besar hati dalam menerima segala ujian dari sang pencipta, lapang dada memaafkan segala kekhilafan dan kesalahan sesama saudara.

Semoga mereka yang sesat segera tersadar dijalannya. Mari kita gunakan kesempatan ini dengan penuh kegembiraan, serta selalu memohon, berdoa meminta perlindungan Allah swt yang berkuasa atas segala dunia dan seisinya. Dan semoga kita semua dapat berjumpa lagi bulan suci ramadan di tahun-tahun yang akan datang.

Tulisan ini merupakan kerjasama anatara UKM Dinamika dengan islamsantun