Islamsantun.org. Bulan Agustus nanti, Insyaallah prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir akan menyelenggarakan Internasional Summer School tentang Islam dan Evolusi. Oleh pihak kampus, saya sendiri ditugasi untuk menjadi salah satu pemateri. Untuk mempersiapkan acara ini, saya harus belajar dong. Jalan paling murah tentu melalui internet.

Sewaktu browsing di internet inilah, saya mendapati sebuah naskah manuskrip buku biologi yang cukup langka: buku fi Ma’rifati Thaba’i il Hayawanl Barri wal Bahri karya Aristoteles. Lihat foto 1. Buku ini adalah salah satu puzle penting ilmu biologi klasik. Buku berbahasa Yunan ini diterjemahkan ke bahasa Arab oleh seorang Sarjana Kristen pada masa pemerintahan Daulah Abbasyiyah,sekitar abad ke-2 H.

Mengamati perdebatan antara agama dan evolusi dewasa ini, maka kehadiran manuskrip ini cukup penting untuk diperhatikan. Aristoteles sampai sekarang masih diyakini sebagai bapak sains biologi. Aristoteles sendiri memiliki teori evolusi yang berbeda dengan teori evolusinya Darwin. Teori Evolusi Aristoteles ini biasa disebut dengan Scala Naturae, dalam bahasa Inggris disebut dengan Great Chain of Being.

Dalam buku ini, Aristoteles menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna, paling unggul di atas makhluk-makhluk yang lain. Pada bab Sifat Organ-organ Hewan dan bagian-bagiannya, Aristoteles berkata, “Sebaiknya kami jelaskan terlebih dulu anggota tubuh manusia, karena manusiamerupakan hewan yang paling mulia dan makhluk yang paling agung……” (lihat gambar 2).

Pandangan ini mirip dengan pandangan agama yang menempatkan manusia dalam posisi lebih tinggi dibanding makhluk-makhluk lain. Dalam Islam, misalnya, terkenal ayat, “Laqad Khalaqnal Insana fi Ahsani taqwim. Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik.” Dalam kristen, Bible kurang lebih juga sama. Cukup ajaib bukan? Padahal Aristoteles ini hidup 4 Abad sebelum Nabi Isa, atau 7 Abad sebelum al-Qur’an diturunkan?

Pandangan ini pula yang dipakai kelompok kreasionis semacam Harun Yahya yang menolak teori evolusi. Bagi mereka, bukan hanya manusia yang sempurna dari awalnya, bahkan semua hewan itu juga begitu, dan tetap begitu dari dulu hingga sekarang. Dalam menolak teori evolusi, kelompok kreasionis baik dalam Islam maupun Kristen, sebenarnya memiliki argumen-argumen yang mirip-mirip.

Berangkat dari sini, saya kemudian membuka-buka al-Qur’an. Apakah pernyataan bahwa manusia itu makhluk paling baik adalah narasi tunggal dalamal-Qur’an? Tidak adakah pandangan lain? Dari sini pikiran saya melayang ke teori tafsir Tozihiko Izutsu yang menggunakan pendekatan semantik. Dalam bukunya, God and Man in The Qur’an, Izutsu menjelaskan metodologi tafsirnya. Salah satunya adalah penekanannya yang kuat atas pandangan-pandangan pra Qur’ani. Memang dalam prakti penafsirannya, Izutsu memang berhenti pada syair-syair arab pra Islam. Sumber-sumber Yunani kuna belum disentuhnya. Namun teori Izutsu ini sepertinya cukup menjanjikan untuk dipakai dalam memahami ayat-ayat tentang manusia dalam kaitannya dengan evolusi.

Dari eksplorasi ini, saya mendapati narasi bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna itu bukanlah narasi tunggal dalam al-Qur’an. Ahsani taqwim bukanlah atribut tunggal yang ditempelkan al-Qur’an kepada manusia. Artinya, al-Qur’an bukan hanya menyebut manusia sebagai makhluk paling baik dan paling sempurna. Setidaknya ada tiga narasi al-Qur’an tentang kedudukan manusia bila dihadapkan dengan makhluk-makhluk yang lain.

Pertama, manusia dinarasikan sebagai makhluk paling sempurna dan paling unggul dibanding makluk-makhluk lain. Inilah pandangan yang paling populer. Ayat yang sering dikutip adalah ayat “Ahsani taqwim” itu tadi. Juga ayat-ayat ini:

“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya?” (QS. Al-Hajj: 65).

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Jatsiyah: 13).

Kedua, manusia dinarasikan sebagai makhluk yang sejajar dengan makhluk lain. Narasi ini tampak pada ayat ini:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا طَٰٓئِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu (al-An’am: 38).

Dalam QS al-An’am: 38 ini umat manusia dianggap sama seperti hewan-hewan lain. Artinya, semua setara.

Ketiga, manusia dinarasikan sebagai makhluk yang rendah. Ada beberapa istilah yang dipakai al-Qur’an dalam hal ini. Misalnya,

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (al-Mukmin: 57).

Di al-Mukmin: 57 ini dinarasikan bahwa penciptaan manusia itu kalah hebat dibanding langit dan bumi.

Bahkan saat pertama kali Tuhan menceritakan rencananya kepada para malaikat untuk menciptakan manusia di bumi, al-Qur’an menyuguhkan narasi bahwa manusia itu makhluk yang kejam: suka menumpahkan darah. Ada juga ayat yang menarasikan kerusakan di planet bumi ini (laut mupun darat ) tidak lain adalah kelakuhan manusia. Ini tentu beda dengan makhluk mulia.

Lho, kok beda-beda? Mana yang benar? Ya semua benar. Akan terasa kontradiksi kalau dipahami secara pisah-pisah.

Bagi saya, tiga posisi manusia dia atas adalah satu kesatuan. Artinya, manusia bisa saja menjadi makhluk mulia yang membangun peradaban, tetapi bisa juga menjadi makhluk yang biasa-biasa saja, yang hadir di dunia cuma numpang tidur dan berak, dan bisa juga jadi makhluk yang merusak alam semesta.

Terus kaitannya dengan evolusi bagaimana? Jawab: ya kita gak perlu kenceng-kenceng ngotot berdiri pada titik manusia sebagai makluk yang paling baik. Apalagi sampai mengkafirkan muslim lain yang menerima kebenaran teori evolusi. Toh manusia makhluk paling sempurna itu bukan cuma pandangan al-Qur’an, tapi pandangan Aristoteles juga. Pandangan al-Qur’an jauh lebih kaya ketimbang itu.