Di tengah krisis pandemi covid-19 yang melanda dunia dan sampai hari ini belum menunjukkan tanda-tanda untuk berakhir, bangsa dan umat di lain sisi juga diterpa oleh badai krisis yang tidak kalah dahsyatnya. Krisis etika dan moral ternyata menempati posisi paling atas. Kemudian, ada krisis integritas dan kejujuran yang bermetamorfosis menjadi perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta kebudayaan gelap berupa virus dan penyakit dalam tatanan masyarakat. Sementara kekerasan seksual, pembunuhan, dan kriminalitas lainnya terlihat setiap detik, setiap menit, menjadi deadline utama dalam pemberitaan-pemberitaan oleh media massa online maupun offline.

Kemudian, ditambah dengan paradoks-paradoks industri spiritual yang bertajuk ustaz politis, motivasi psikologis serba instan yang memberikan janji sukses material, model beragama palsu yang dibingkai oleh media sosial dengan dukungan gerakan industri kapitalis dan komodifikasi agama. Tema-tema yang nampak laris-manis menjadi komoditi untuk dijual kepada golongan awam, terpelajar, sampai profesional. Fenomena yang menjadi indikator keterpurukan psikologis masyarakat ketika dihadapkan oleh perubahan yang tidak pasti, dan publik menikmati sebagai bentuk eskapisme ketidakpastian terhadap eskalasi politik, hukum, ekonomi, dan tentunya pengingkaran terhadap spiritualitas dan realitas yang selama ini diyakini.

Gejala-gejala sosial-agama ini akan terus menampakkan wujudnya selama model pendidikan dan dakwah keagamaan (baca: Islam) tidak berusaha membangun pijakan kuat sebagai landasan filosofis yang jelas dalam hubungan strategis kebudayaan masyarakat nusantara. Penyakit yang menyerang bangsa dan umat tersebut muncul juga sebagai perlawanan terhadap budaya akal sehat, kebersihan jiwa, dan kejernihan hati untuk sekadar menampilkan keakuan (baca: ego diri) yang lebih suprematif dalam ritus kehidupan sosial, bukan lagi soal kesenjangan, kelaparan, kemiskinan, dan ketidakadilan hukum, tetapi sebuah status baru yang menjadi antiklimaks atas janji-janji instanisme baik secara politik maupun ekonomi. Sehingga pada akhirnya bashirah (baca: akal sehat) menjadi rumah sunyi nan sepi yang terpinggirkan oleh kejahatan yang berubah menjadi dogma.

Apakah rentetan problem yang melanda bangsa dan ummat ini sebagai bentuk kegagalan tafsir agama atas kebudayaan menyimpang yang dipelihara? Atau bukti ketidakmampuan negara dalam menghadapi situasi dan kondisi struktural yang tidak mampu memihak kepada nasib rakyat bawah? Atau ini sebagai bentuk oposisi kultural atas kemapanan yang tidak mampu merubah nasib mereka? Lalu apa bedanya dengan kelompok teroris dan zionis (baca: Israel) yang juga gagal dalam menafsirkan teks agama? Atau memang bangsa Indonesia dan para penguasannya telah lama sakit, kritis, dan nuraninya redup, lalu menikmati romantisme kenikmatan laku penyimpangan dan kejahatannya sebagai khazanah kegelapan yang dibanggakan?

Untuk mampu menjawabnya, dibutuhkan kejujuran intelektual yang arif nan cerdas, karena di satu sisi kita menghadapi mitos “jahiliyah kultural” dan pada dimensi lainnya ada akal sehat modernitas yang diunggulkan di dunia pendidikan masih menjadikan sekularisme sebagai rujukan utama yang nampak nestapa dan memuakkan. Akal sehat yang tercerahkan sesungguhnya dengan pasti melahirkan pencerahan atas semua tafsir keagamaan, sosial, hukum, politik dan kebudayaan, dan sekaligus melakukan revitalisasi fungsi masing-masing dalam bangunan ekosistem karakter psikologis bangsa dan umat.

Tanpa disertai dengan revitalisasi sekakralan peran nilai-nilai dalam agama (baca: Islam), ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan, kreativitas manusia, dan alam, serta pencerahan yang signifikan, konflik-konflik horizontal (baca: sesama masyarakat), semi-vertikal (baca: masyarakat dan pemerintah), dan vertikal (baca: hamba dan Tuhan) akan berakhir menjadi destruktif terhadap kemanusiaan dengan sendirinya, dan bermuara menjadi perwujudan tindak kekerasan yang sangat bodoh. Kemudian, bangsa dan ummat ini akan terus-menerus berada di bawah bayang-bayang keruntuhan, lalu peradaban manusia membusuk di tong sampah sebagai bukti sejarah yang kelam.

Muhammadiyah dan NU berada di garis terdepan sebagai model Islam Berkemajuan dan Moderat, namun masih membutuhkan proses yang panjang dan melelahkan dalam membuktikan akurasi model epistemologis dalam pandangan teologisnya untuk disemaikan ke bumi Nusantara. Masyarakat Muhammadiyah baru membangun arstitek kultural modern ala istana para raja nan megah, eksotis, cantik, dan terpelajar, namun belum kokoh bagi hunian jutaan umat, terkadang juga bahkan menjadi korban spiritualisme kapitalis perkotaan yang mencoba merasionalkan kepentingan agama demi kepentingan material. Sementara, masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi mayoritas di bawah kerap menjadi korban kepalsuan spiritualitas, politik, ekonomi dan hukum, karena tradisi taklidnya yang secara sosiologis sangat paternalistik termasuk dalam merespon harapan-harapan palsu yang berbau mitologis.

Sesungguhnya ghirah (baca: semangat) kebangkitan menuju Allah SWT, sama sekali tidak mengabaikan hal-hal yang bersifat materi, bisnis, dan kemajuan peradaban bangsa dan ummat manusia. Tetapi, juga sama sekali terbebas dari simbolisasi Ketuhanan demi materialisme. Kebangkitan menuju Allah SWT, bukan hanya soal norma-norma dan aturan dalam agama yang berulang kali ditabrak oleh para politisi jahat, penegak hukum pincang, koruptor, dan penjahat kelas ikan asin lainnya. Tetapi, juga harus mampu untuk akrab dengan dunia anak-anak dan remaja bangsa dan ummat ini, yang terancam dengan pergaulan bebas, menipisnya etika, rasa malu, hormat, dan bahkan ancaman narkotika, serta keterasingan dengan kehidupan bersosial dengan hadirnya “Tuhan” baru bernama gadget.

Kalau zaman dahulu TV pernah menjadi “Tuhan” kedua, jangan-jangan peran itu memang telah digantikan oleh smartphone. Sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Imaduddin Abdulkarim, dalam bukunya yang berjudul Kuliah Tauhid (1979) yang memaparkan Tuhan (illah) sebagai sesuatu yang dipentingkan oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia rela dikuasai olehnya. Kebangkitan menuju Allah SWT, juga harus mampu menjadi spiritualitas politik dan hukum, sehingga praktek birokrasi dan pemerintahan menjadi bersih dengan penuh kesadaran jiwa. Kebangkitan menuju Allah SWT, juga harus mampu menegakkan keadilan sosial-ekonomi, kebangkitan menuju Allah SWT, juga harus mampu menjadikan para penguasa dan politisi di Senayan terbebas dari menjadikan nafsu jahat sebagai sesembahannya.

Pembersihan hati dan jiwa (baca: tazkiyatunnufus) dan penyucian hati (baca: tathirul qulub) seharusnya tidak bisa ditawar-tawar kembali oleh bangsa dan ummat ini. Sebab, keduanya mampu dijadikan prototipe silabus dakwah dan pendidikan bangsa ini. Para anak didik dan generasi penerus bangsa kita yang masih berusia 7 (tujuh) sampai sepuluh tahun pada hari ini, 20 (dua puluh) sampai 40 (empat puluh) tahun yang akan datang, mereka akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan, politisi, pengusaha, pendidik, profesional, atau bahkan menjadi rakyat biasa. Tidak boleh lagi dan semoga jangan sampai mereka menyongsong tragedi mengerikan spiritual dengan topeng dan tampilan baru, sedangkan kemurnian Tauhid dan akhlakul karimah menjadi tontonan belaka. Wallahu A’lam Bishawab…