Kira-kira dua tahun lebih sedikit yang lalu, sosok guru bangsa sekaligus tokoh Muhammadiyah, Buya Ahmad Syafii Ma’arif—atau yang biasa dipanggil Buya Syafii—meninggal dunia secara mengejutkan. Melihat kondisi kesehatannya yang tidak stabil, ditambah usia yang tak lagi muda, membuat saya menangis atas kepergiannya. Ia tidak hanya mengubah pola pikir saya untuk tetap berpegang pada prinsip kemanusiaan, tetapi juga memberikan pengaruh luar biasa terhadap keislaman di tengah arus zaman.

Saya ingat betul, mungkin sebelum virus corona melanda, saya mendengar beberapa perkataan Buya yang membuat saya takjub di televisi nasional TVOne. Kira-kira seperti ini: “Hukum harus ditegakkan lebih tegas dan jangan terus-menerus diperbudak oleh kejahatan di bangsa ini.” Dari situlah saya sangat penasaran, siapakah tokoh yang tampil di TVOne dan berani mengkritik habis-habisan kebejatan mafia kejahatan bangsa.

Setelah membaca perjalanan hidupnya, saya akhirnya menemukan tulisan kakak tingkat saya semasa kuliah yang menjajarkan Buya Syafii dengan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dan Cak Nur (Nurcholish Madjid). Ketiga tokoh ini membawa pesan bahwa kemanusiaan merupakan prinsip penting dalam keislaman. Hal inilah yang mendorong saya menulis esai yang terbit di Kalimasahwa.id berjudul “Yang Baru dari Buya Syafii Ma’arif”, tentang kisah perjalanan hidupnya yang menarik untuk dipelajari. Dari situlah rasa penasaran saya memuncak hingga akhirnya bertemu dengan karya Buya Syafii berjudul “Tuhan Menyapa Kita: Menghidupkan Hati Nurani dan Akal Sehat.”

Tulisan ini lahir dari keprihatinan Buya Syafii selama lebih dari 80 tahun hidup di Indonesia. Ia tidak hanya menginginkan optimisme dalam memperjuangkan rakyat kecil, tetapi juga memperlihatkan bahwa manusia tidak perlu takut mengkritik, asalkan disampaikan secara jujur dan santun (hlm. 5–7). Meskipun demikian, Buya beranggapan bahwa Islam di Indonesia masih memiliki sikap positif terhadap aspek modernitas. Ia menilai Islam di Indonesia berbeda dengan Islam di Arab yang masih sulit menerima demokrasi dan modernitas (hlm. 15–16).

Selain itu, Buya menjelaskan bahwa Islam tetaplah satu, tetapi dalam politik, Islam tidak pernah bersifat monolitik. Artinya, Islam memiliki kekuatan politik yang dapat menjadi bagian dari fenomena global. Hal yang sama dapat dilihat di Malaysia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan mampu menerapkan demokrasi selama beberapa dekade, berbeda dengan beberapa negara lainnya (hlm. 22).

Pandangan ini menjadi harapan Buya Syafii terhadap Islam di Indonesia agar mampu membangun bangsa yang demokratis dan moderat sesuai prinsip keislaman. Menurutnya, ide demokrasi tidak semata-mata lahir dari pemikiran Barat; justru Al-Qur’anlah yang menghargai nilai-nilai demokrasi dan relevan dijadikan sistem politik di Indonesia (hlm. 23). Oleh karena itu, Buya meletakkan demokrasi sebagai prinsip Islam yang perlu dikelola dengan baik agar nilai-nilai Islam dapat disampaikan secara bijak. Hal ini juga selaras dengan pembicaraan Buya Syafii sekitar empat tahun lalu di TVOne—yang saya lupa judul acaranya—bahwa prinsip demokrasi harus sejalan dengan prinsip agama yang mengedepankan asas kemanusiaan dan keindonesiaan.

Keindonesiaan, menurut Buya, perlu diperkuat melalui demokrasi sebagai jalan menuju kemajuan Islam dalam peradaban yang sesuai dengan perkembangan zaman. Maka, buku ini memberikan dampak luar biasa, tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Sikap kritis yang berakar pada keislaman dan kemanusiaan merupakan ciri khas Buya Syafii yang perlu diteruskan dari generasi ke generasi. Kedekatannya dengan rakyat kecil serta kesederhanaannya yang tergambar dalam buku ini merupakan wajah Islam yang menekankan kekuatan kebersamaan.

Saya mengakui bahwa buku ini terkesan umum dan cukup luas untuk dibahas, sehingga terkadang membingungkan jika dijelaskan secara singkat. Namun demikian, buku ini sangat layak dijadikan bahan refleksi dalam menumbuhkan semangat keislaman yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis di tengah perkembangan zaman yang semakin maju secara teknologi. Saya menyarankan membaca buku ini dengan hati yang bersih. Selamat membaca.

 

Tentang Buku

Penulis Buku: Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma’arif
Penerbit: IRCiSoD
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 274
ISBN: 9786237378389

Komentar