OPINI – Kemandirian terkadang menjadi tolok ukur keberhasilan. Bahkan, tidak berlebihan jika seseorang merasa sangat berhasil dan sukses manakala mereka sudah mandiri. Ironisnya, indikator kemandirian kerap direduksi menjadi pekerjaan dan/atau penghasilan. Individu yang telah bekerja dan berpenghasilan sering kali dianggap otomatis mandiri. Benarkah demikian?

Pada awalnya, individu terlahir dalam kondisi sangat bergantung. Agaknya, semua orang sepakat dengan fakta ini. Bentuk ketergantungan individu pada awal kehidupan didasarkan pada insting bawaan, yakni bertahan hidup. Setelah individu memperoleh kehidupan, tentu diimbangi dengan bertambahnya kebutuhan dan ketergantungan lainnya.

Ilustrasinya demikian: pada awalnya bayi masih minum ASI dari ibunya; ia tidak bisa menghasilkan ASI sendiri, lalu disuapi oleh orang tuanya. Menginjak usia rata-rata 2–3 tahun, individu sudah bisa makan sendiri tanpa bantuan orang tua. Bahkan, dalam beberapa kasus, individu sudah bisa memilih makanan kesukaannya. Erik Erikson mengelompokkan fase ini dalam tahapan Autonomy vs. Shame and Doubt.

Tahapan perkembangan ini merupakan dasar dan titik awal dalam mengenalkan kemandirian yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Jadi, tidak perlu menunggu hingga individu berusia 17 tahun ke atas atau menunggu mereka bekerja.

Erikson menjelaskan bahwa anak perlu merasakan bahwa dirinya memiliki kontrol atas tindakan yang dilakukan. Dalam karyanya Childhood and Society, ia menyatakan bahwa “The child must come to feel that he is a person of his own, that he can control his own actions.” Artinya, anak harus merasa dirinya mampu mengendalikan perilaku dan tindakannya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian bukan hanya soal kemampuan fisik, seperti makan atau berpakaian sendiri, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan rasa percaya diri dan keyakinan akan kemampuan diri.

Ketika anak diberi kesempatan untuk mencoba, meskipun hasilnya belum sempurna, sebenarnya orang tua sedang mengajarkan anak untuk hidup mandiri. Saat pertama kali jatuh ketika belajar berlari, bersepeda, memanjat pohon, dan aktivitas fisik lainnya, anak sedang mengumpulkan pengalaman untuk menghadapi kehidupan.

Peran orang tua adalah membantu “memberikan makna” atas pengalaman tersebut. Alih-alih membantu menginterpretasi pengalaman, sering kali orang tua justru menghindarkan anak dari pengalaman “sakit”, padahal dari rasa “sakit” itulah akan terbentuk semacam sistem imun.

Sikap terlalu melindungi, terlalu mengontrol, atau bahkan sering memarahi anak ketika melakukan kesalahan dapat menimbulkan rasa malu dan ragu pada diri anak. Erikson menyebut kondisi ini sebagai shame and doubt. Pola asuh yang ideal dalam membangun kemandirian adalah pola asuh yang seimbang, yaitu memberikan kebebasan yang terarah. Implikasi terlalu dibebaskan sama besarnya dengan terlalu dikekang.

Anak yang terlalu percaya diri dan mandiri tanpa dibekali pemahaman tentang peran orang lain akan mengalami kesulitan dalam kehidupan sosial. Ada kelakar yang sering diucapkan, “wong pinter akademik biasanya sosialnya kurang.” Oleh sebab itu, penting untuk merekonstruksi pemahaman tentang kemandirian.

Pada dasarnya, kita sudah mandiri sejak usia 3 tahun. Kemandirian itu dibentuk, bukan semata-mata capaian. Kemandirian juga merupakan sinergi antara berbagai keterampilan. Artinya, sedewasa apa pun seseorang, apabila keliru dalam membentuk kemandirian, ia akan tampak bergantung atau tidak efektif.

Misalnya, seorang pemuda yang dielu-elukan karena financial freedom pada dasarnya masih menggantungkan asetnya kepada karyawan. Begitu pula sang karyawan yang juga menggantungkan hidupnya pada pemuda tersebut.

Contoh ini mengisyaratkan bahwa puncak kemandirian bukanlah berdiri sendiri dalam segala hal, melainkan kesalingtergantungan adalah manifestasi tertinggi dari kemandirian. Sebab, orang yang benar-benar mandiri memiliki pilihan atas kemandirian yang mereka miliki.

Pilihan tersebut termasuk menerapkan keterampilan atau keahlian dalam bidang tertentu (sebagai karyawan) atau mempercayakan aset berharga berdasarkan pengetahuan dan kebijaksanaan (sebagai pengusaha).

Berkaitan dengan hal tersebut, Gus Baha mengilustrasikan dalam kajiannya kurang lebih demikian: “wong alim kui ning endi-endi panggonan tetep kanggo, kumpul gali iso, kumpul pejabat iso, kumpul pedagang iso….”

Pernyataan ini menolak anggapan bahwa “wong pinter akademik biasanya sosialnya kurang.” Justru sebaliknya, ini juga tidak serta-merta meniru pepatah “ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk.” Analogi yang lebih tepat adalah seperti bunglon: di mana pun situasi dan tempatnya, orang yang berilmu mampu menyesuaikan diri.

Hal ini mirip dengan kemandirian. Semakin seseorang mandiri, semakin bebas ia menentukan teman dan tema obrolan. Jika tidak cocok, ia tidak serta-merta menjauhi temannya, melainkan cukup menyesuaikan tema pembicaraan dengan pemahaman lawan bicaranya.

Gus Baha juga mengingatkan, “termasuk zalim, wong alim kok ngomonge abot-abot terus, jamaah e bingung, ndekné ketok ngalim dhewe….”

Jika semakin banyak orang memahami bahwa kemandirian sudah kita miliki sejak usia 3 tahun, maka dengan sendirinya toleransi dan sinergisitas kemandirian (dalam bentuk keterampilan) akan berkembang.

Dampak secara personal, seseorang akan berusaha menutupi atau mencari keterampilan yang dibutuhkan dalam hidupnya. Dengan demikian, ia akan merasakan kemandirian—mirip anak usia 3–5 tahun yang sangat senang bersepeda, meskipun tubuhnya penuh luka.*

Komentar