RESENSI – Beberapa hari lalu Mas Endy, kawan saya yang baik hati, mengirimi saya buku karya Rodrigo Adem, The Last Taymiyyan: An Edition, Translation, and Study of Ibn Qāḍī al-Jabal’s Defense of Ibn Taymiyya, terbitan De Gruyter, 2026. Buku yang cukup lama saya nantikan terbitnya. Buku ini merupakan gabungan antara kajian historis-filologis, analisis teologis-filosofis, edisi teks Arab, dan terjemahan Inggris atas risalah pembelaan Ibn Qāḍī al-Jabal terhadap Ibn Taimiyyah.
Adem tampaknya ingin menegaskan bahwa Ibn Taimiyyah tidak cukup dibaca sebagai figur anti-filsafat, anti-kalām, atau sebatas inspirator Salafi secara sederhana. Melalui pembelaan Ibn Qāḍī al-Jabal, Adem menunjukkan bahwa Ibn Taimiyyah justru bergerak dalam medan perdebatan metafisika pascaklasik yang sangat teknis, terutama dalam konteks pengaruh Ibn Sīnā dan Fakhr al-Dīn al-Rāzī. Buku ini menampilkan sisi Ibn Taimiyyah yang, menurut Adem, fully articulate in the metaphysics of post-classical Islamic philosophy, yakni seorang teolog Ḥanbalī yang mengkritik falsafah tetapi sekaligus menguasai perangkat konseptualnya.
Buku ini disusun dalam tiga lapisan utama. Pertama, pengantar historis dan filologis tentang naskah The Defense of Ibn Taymiyya serta biografi Ibn Qāḍī al-Jabal. Kedua, analisis isi terhadap risalah, terutama polemik tentang tuduhan Avicennism terhadap Ibn Taimiyyah. Ketiga, edisi Arab dan terjemahan Inggris dari teks Risālah fī al-Difā‘ ‘an Ibn Taimiyyah. Struktur isi buku memuat pengantar, biografi Ibn Qāḍī al-Jabal, posisi Ibn Taimiyyah sebagai theological outcast, kontroversi al-Ikhmīmī, analisis tematik atas risalah, lalu teks Arab dan terjemahannya.
Adem membuka buku ini dengan pujian dan rasa terima kasihnya kepada Muḥammad Yusrī Salāmah, intelektual Mesir, pakar manuskrip, dan pengkaji Ibn Taimiyyah yang awalnya bekerja bersama Adem dalam proyek ini. Dari penjelasan Adem tersebut, saya semakin memahami betapa “kerja senyap” para filolog sangat berat dan membutuhkan kesabaran serta kemampuan yang luar biasa.
Bagian ini penting karena memberi konteks personal-intelektual; bahwa penelitian ini lahir dari pergulatan filologis yang panjang, bukan dari pembacaan sekunder semata. Adem menyebut bahwa Salāmah memiliki keahlian dalam manuskrip, historiografi Mamlūk, ḥadīṡ, kalām, dan metafisika. Pengalaman intelektual bersama Salāmah memperkuat keyakinan Adem bahwa kontribusi Ibn Taimiyyah dalam sejarah pemikiran Islam masih sering disalahpahami.
Kisah Naskah: Dari al-Ṣaḥā’if al-Taimiyyah al-Sab‘ ke al-Risālah fī al-Difā‘ ‘an Ibn Taimiyyah
Adem kemudian menjelaskan asal-usul naskah risalah pembelaan Ibn Qāḍī al-Jabal. Ia menemukan fragmen awal dalam koleksi ‘Umariyyah di Dār al-Kutub al-Ẓāhiriyyah, Damaskus. Fragmen itu dalam katalog disebut sebagai risalah pembelaan mazhab Ibn Taimiyyah, bahkan sempat secara spekulatif dinisbatkan kepada Ibn al-Qayyim. Namun, setelah diperiksa, teks itu ternyata anonim, rusak cukup parah, dan diberi judul informal al-Ṣaḥā’if al-Taimiyyah al-Sab‘.
Kemudian, Adem menemukan naskah kedua dalam koleksi Taymūr di Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, Kairo. Naskah kedua ini lebih panjang, berisi 21 folio, walaupun tetap tidak lengkap. Naskah inilah yang memberi informasi penting bahwa pengarangnya adalah Ibn Qāḍī al-Jabal. Adem kemudian membandingkan dua naskah tersebut dan menunjukkan bahwa naskah Taymūr tampaknya bergantung pada naskah atau tradisi yang sama dengan fragmen Ẓāhiriyyah. Dengan demikian, buku ini memiliki kontribusi filologis yang jelas. Adem dengan telaten mengidentifikasi, menyusun, dan menerbitkan untuk pertama kalinya teks penting dari tradisi Taymiyyan abad ke-14.
Ibn Qāḍī al-Jabal: The Last Taymiyyan?
Tokoh utama buku ini adalah Ibn Qāḍī al-Jabal (1294–1370). Ia berasal dari keluarga besar al-Qudāmah, komunitas Ḥanbalī al-Ṣāliḥiyyah di Damaskus, yang memiliki akar kuat dalam tradisi fikih Ḥanbalī, ḥadīṡ, pendidikan, dan jabatan kehakiman Mamlūk.
Adem menjulukinya The Last Taymiyyan bukan karena ia murid terakhir Ibn Taimiyyah dalam arti kronologis, tetapi karena ia tampaknya merupakan murid teologis terakhir yang masih hidup kala itu dan mampu membela ajaran metafisika-kalām Ibn Taimiyyah pada level teknis tertinggi.
Adem menekankan bahwa Ibn Qāḍī al-Jabal bukan pengikut awam atau sekadar pengagum-pembela fanatik Ibn Taimiyyah. Ia membaca karya-karya serius bersama Ibn Taimiyyah: al-Ibānah karya al-Asy‘arī, Faiṣal al-Tafriqah karya al-Ghazālī, karya-karya al-Juwaynī dan al-Bāqillānī, serta yang paling penting, al-Muḥaṣṣal karya al-Rāzī. Fakta bahwa ia membaca al-Muḥaṣṣal bersama Ibn Taimiyyah sangat penting karena kitab itu merupakan pintu masuk utama menuju sintesis kalām-falsafah pascaklasik.
Dalam Taymiyyan Circle (jaringan murid Ibn Taimiyyah), Ibn Qāḍī al-Jabal ditempatkan sejajar dengan Ibn al-Qayyim sebagai figur yang memiliki kemampuan khusus dalam al-manāhij al-‘aqliyyah (metode intelektual). Ia termasuk orang yang dianggap mampu memahami maksud ungkapan-ungkapan “tinggi” Ibn Taimiyyah dan menjaga warisan tertulisnya setelah sang guru wafat.
Salah satu kontribusi utama dalam buku The Last Taymiyyan ini adalah rekonstruksi Adem atas kontroversi teologis setelah wafatnya Ibn Taimiyyah. Polemiknya bukan hanya soal fikih ibadah atau politik, tetapi juga metafisika: apakah Ibn Taimiyyah menerima kekekalan dunia seperti para filsuf?
Kritik terhadap Ibn Taimiyyah muncul dari tokoh-tokoh Syāfi‘ī-Asy‘arī seperti Kamāl al-Dīn Ibn al-Zamlakānī, Taqī al-Dīn al-Subkī, dan kemudian Bahā’ al-Dīn al-Ikhmīmī. Mereka menuduh Ibn Taimiyyah memiliki posisi yang mengarah pada kekekalan alam karena ia menerima kemungkinan ḥawādiṡ lā awwala lahā (rangkaian peristiwa tercipta yang tidak memiliki permulaan pertama) dan konsep qidam naw‘ al-ḥawādiṡ (kekekalan jenis dari hal-hal yang bermula), bukan kekekalan individu tertentu.
Bagi para pengkritiknya, terutama al-Ikhmīmī, posisi ini berbahaya karena dekat dengan posisi Ibn Sīnā. Jika Ibn Sīnā dikafirkan oleh al-Ghazālī karena menerima kekekalan alam, maka Ibn Taimiyyah, menurut logika al-Ikhmīmī, juga terkena konsekuensi yang serupa. Inilah yang disebut Adem sebagai post-mortem Avicennism controversy; tuduhan bahwa Ibn Taimiyyah secara tidak jujur menyembunyikan “kedekatannya” dengan metafisika Ibn Sīnā.
Al-Ikhmīmī dan al-Munqiż min al-Zalal
Lawan seteru Ibn Qāḍī al-Jabal dalam risalah ini adalah Bahā’ al-Dīn al-Ikhmīmī, seorang teolog Asy‘arī dan murid al-Subkī. Ia menulis al-Munqiż min al-Zalal fī al-‘Ilm wa al-‘Amal (penyelamat dari kesalahan dalam ilmu dan amal). Judulnya mengingatkan pada al-Munqiż min al-Ḍalāl karya al-Ghazālī, tetapi konteksnya berbeda.
Dalam al-Munqiż, al-Ikhmīmī mengutip dan menyerang posisi Ibn Taimiyyah tentang kekekalan tindakan Tuhan. Ia menuduh bahwa pandangan Ibn Taimiyyah tentang qidam al-fi‘l (eternity of agency) membuatnya jatuh ke dalam posisi yang serupa dengan Ibn Sīnā. Setelah para pengikut Ibn Taimiyyah bereaksi, al-Ikhmīmī menulis Radd (bantahan) yang meminta mereka kembali dari afirmasi kekekalan tindakan.
Yang menarik, polemik ini memiliki lapisan intertekstual yang rumit. Al-Ikhmīmī mengutip bagian dari Minhāj al-Sunnah karya Ibn Taimiyyah, sementara bagian itu sendiri merupakan ringkasan dan komentar Ibn Taimiyyah atas al-Mabāḥiṡ al-Masyriqiyyah karya Fakhr al-Dīn al-Rāzī. Jadi, teks Ibn Qāḍī al-Jabal bukan hanya bantahan terhadap al-Ikhmīmī, tetapi juga semacam “dobel-komentar” atas al-Rāzī melalui Ibn Taimiyyah dalam perdebatan Asy‘arī-Taymiyyan. Adem menekankan bahwa al-Mabāḥiṡ al-Masyriqiyyah menjadi medan perang bagi perdebatan tentang arah teologi Islam.
Al-Difā‘ dan Pembelaan atas Posisi Metafisika Ibn Taimiyyah
Risalah Ibn Qāḍī al-Jabal ini memiliki tiga bagian besar. Pertama, bagian pembuka yang menjelaskan alasan penulisan risalah. Ia tidak menyebut al-Ikhmīmī secara eksplisit, tetapi menyebutnya sebagai “penulis yang kacau” dalam masalah uṣūl. Ibn Qāḍī al-Jabal menilai al-Ikhmīmī telah melanggar adab ilmiah karena merendahkan Ibn Taimiyyah dan menyiratkan kekafirannya.
Kedua, sembilan muqaddimāt atau prinsip pengantar. Prinsip-prinsip ini menjelaskan tema-tema teknis: makna alam, perbedaan antara alam yang bermula dan alam yang kekal, posisi agama-agama tentang penciptaan, argumen gerak-diam, argumen taṭbīq atau pemetaan infinitas, perbedaan pandangan Aristoteles dan para pemikir agama, problem efek temporal dari sebab kekal, serta hubungan posisi Ibn Taimiyyah dengan Aḥmad ibn Ḥanbal tentang kalam Allah dan tindakan Allah yang tidak terbatas. Adem menyatakan bahwa sembilan prinsip ini dipakai Ibn Qāḍī al-Jabal untuk menempatkan isu penciptaan kekal dalam percakapan antara kosmologi Aristotelian, kalām, dan metafisika Islam.
Ketiga, komentar langsung atas al-Munqiż karya al-Ikhmīmī. Di sini Ibn Qāḍī al-Jabal membela Ibn Taimiyyah pada dua level sekaligus: level metafisika dan level etika-takfir. Pada level metafisika, ia membela bahwa Ibn Taimiyyah tidak mengatakan ada entitas konkret tertentu yang kekal bersama Allah.
Yang ia afirmasi adalah kemungkinan kekal dari tindakan Tuhan dan rangkaian makhluk yang masing-masing bermula, tanpa harus ada satu makhluk tertentu yang qadīm. Ini berbeda dengan Ibn Sīnā yang menerima kekekalan akal aktif dan benda-benda langit tertentu. Perbedaan ini sangat penting. Menurut Ibn Qāḍī al-Jabal, al-Ikhmīmī gagal membedakan antara kekekalan individu konkret dan kekekalan spesies atau kemungkinan konseptual.
Pada level epistemik, Ibn Qāḍī al-Jabal menggunakan kaidah penting: lāzim al-qawl laysa bi-qawl (konsekuensi logis dari suatu pendapat tidak otomatis menjadi pendapat yang benar-benar dianut seseorang). Ini penting sekali untuk isu takfir. Menurutnya, al-Ikhmīmī terlalu cepat menjadikan konsekuensi yang ia pahami dari pendapat Ibn Taimiyyah sebagai keyakinan aktual Ibn Taimiyyah. Padahal, seseorang bisa saja tidak menerima konsekuensi yang ditarik lawannya.
Antara Ibn Taimiyyah dan Ibn Sīnā
Inti pembelaan Ibn Qāḍī al-Jabal adalah membedakan Ibn Taimiyyah dari Ibn Sīnā secara presisi. Menurut al-Ikhmīmī, Ibn Taimiyyah dan Ibn Sīnā sama-sama menerima sesuatu yang kekal selain Allah. Maka, jika Ibn Sīnā dihukumi kafir karena itu, Ibn Taimiyyah juga terkena konsekuensi yang sama. Ibn Qāḍī al-Jabal menolak logika ini.
Bagi Ibn Qāḍī al-Jabal, Ibn Sīnā menerima keberadaan entitas kekal konkret, seperti akal aktif dan struktur kosmos tertentu. Sementara Ibn Taimiyyah tidak menerima makhluk tertentu yang kekal bersama Allah. Yang ia terima adalah bahwa Allah senantiasa mampu bertindak, berkehendak, berbicara, dan mencipta.
Rangkaian ciptaan bisa tidak memiliki awal dari sisi jenis/rangkaian, tetapi setiap individu ciptaan tetap bermula. Adem merumuskan perbedaan ini dengan baik: kekekalan “abstraksi” dari “makhluk asal (originated being)” tidak berarti ada referen eksternal yang kekal; yang kekal hanyalah konseptualisasi kemungkinan, sedangkan individu-individunya tetap bermula.
Dengan kata lain, Ibn Taimiyyah bukan Avicennian dalam arti menerima kosmos kekal yang niscaya memancar dari Tuhan. Ia tetap mempertahankan Allah sebagai fā‘il mukhtār, agen yang memilih, berkehendak, dan mencipta. Namun, ia juga menolak model Asy‘arī tertentu yang menurutnya gagal menjelaskan bagaimana tindakan temporal muncul dari Tuhan yang kekal tanpa jatuh ke problem preponderation without preponderator (keunggulan tanpa pihak yang mengunggulkan).
Buku The Last Taymiyyan berhasil membongkar simplifikasi terhadap Ibn Taimiyyah. Selama ini Ibn Taimiyyah sering dibaca dalam dua sikap ekstrem: oleh pengagumnya sebagai anti-filsafat murni dan pembela skripturalisme; oleh pengkritiknya sebagai literalis yang miskin perangkat filosofis. Adem menunjukkan bahwa dua gambaran itu sama-sama tidak bijaksana.
Melalui Ibn Qāḍī al-Jabal, terlihat bahwa Taymiyyan Circle justru sangat menguasai kalām, falsafah, logika, metafisika Rāzian, dan diskursus Avicennian. Ibn Qāḍī al-Jabal membaca al-Asy‘arī, al-Ghazālī, al-Juwaynī, al-Bāqillānī, dan al-Rāzī bersama Ibn Taimiyyah. Ini meruntuhkan stigma bahwa Ibn Taimiyyah hanya bergerak dalam horizon tekstualis yang sempit.
Hal lain yang juga penting untuk dicatat: Adem tidak hanya menafsirkan gagasan, tetapi menghadirkan teks baru berupa edisi Arab dan terjemahan Inggris risalah Ibn Qāḍī al-Jabal. Ini penting karena kontroversi Avicennism pasca wafatnya Ibn Taimiyyah selama ini relatif tersembunyi dan tidak tampak jelas dalam buku-buku biografis standar.
Buku ini juga memperlihatkan bagaimana satu polemik teologis tidak bisa dibaca hanya dari satu teks. Ia harus dibaca melalui jaringan: Ibn Sīnā, al-Ghazālī, al-Rāzī, Ibn Taimiyyah, al-Zamlakānī, al-Subkī, al-Ikhmīmī, Ibn Qāḍī al-Jabal, dan Ibn al-Qayyim. Di sini, menurut bacaan sederhana saya, Adem berhasil menunjukkan bahwa Taymiyyan Studies harus bergerak dari kutipan doktrinal menuju ekologi diskursif—wacana yang saling berkait-kelindan dalam membentuk sistem pemikiran.
Ketelitian filologis Adem patut diacungi jempol. Ia tidak puas dengan menyebut Ibn Taimiyyah sebagai anti-filsafat. Ia kemudian memperlihatkan bahwa Ibn Taimiyyah mengkritik Ibn Sīnā dengan menguasai pemikiran Ibn Sīnā. Bahkan, Ibn Taimiyyah memakai al-Rāzī sebagai medan pembacaan kritis terhadap problem penciptaan, kemungkinan, kausalitas, dan infinitas.
Pembacaan Adem terhadap Ibn Qāḍī al-Jabal sebagai saksi internal menjadi bukti penting. Ibn Qāḍī al-Jabal bukan orang luar yang menafsirkan Ibn Taimiyyah dari luar Taymiyyan Circle; ia adalah murid yang mengaku belajar langsung, bahkan menyebut pengalaman belajar di rumah Ibn Taimiyyah di Madrasah al-Qaṣṣā‘īn pada 722 H/1322 M, ketika ia menyerahkan syair lebih dari 80 bait tentang tema penciptaan. Ini membuat risalah tersebut sangat berharga: bukan hanya bantahan teoretis, tetapi juga memori pedagogis dari majelis Ibn Taimiyyah.
Meski demikian, menurut bacaan terbatas saya, buku ini sangat padat dan teknis. Pembaca yang tidak akrab dengan tema-tema kalām seperti qidam naw‘ al-ḥawādiṡ, ḥawādiṡ lā awwala lahā, taṭbīq, tasalsul, imkān, ḥudūṡ ẓātī, ḥudūṡ zamānī, dan perdebatan kalām-falsafah pasca-Rāzī pasti akan kebingungan dan sulit mencerna. Buku ini bukan pengantar pemikiran Ibn Taimiyyah, tetapi buku untuk pembaca advance dalam Taymiyyan Studies.
Selanjutnya, karena teks al-Difā‘ yang ditaḥqīq memang fragmentaris, kesimpulan tertentu harus dibaca dengan hati-hati. Naskahnya tidak lengkap, tidak memiliki akhir utuh, dan tidak memiliki kolofon final. Adem sadar akan hal ini, tetapi pembaca tetap harus membedakan antara bukti tekstual yang kuat dan rekonstruksi historis yang bersifat probabilistik.
Istilah Avicennism sendiri berguna tetapi juga berisiko. Berguna karena menunjukkan bahwa Ibn Taimiyyah memang berada dalam konteks pasca-Ibn Sīnā. Namun, berisiko jika dipahami seolah Ibn Taimiyyah terpengaruh Ibn Sīnā secara positif dalam arti sederhana. Lebih tepatnya, Ibn Taimiyyah adalah kritikus internal terhadap medan perdebatan Avicennian-Rāzian, bukan pengikut Avicennian. Ia menggunakan perangkat lawan untuk membongkar lawan, sekaligus membangun alternatif metafisika sendiri.
Bagi para pembaca dan pengkaji Taymiyyan Studies, buku ini penting untuk mengubah cara membaca Ibn Taimiyyah.
Pertama, Ibn Taimiyyah harus dibaca sebagai pemikir pascaklasik, bukan sekadar revivalis tekstualis an sich. Ia hidup dalam dunia ketika kalām telah menyerap falsafah, terutama melalui al-Rāzī. Maka, kritik Ibn Taimiyyah terhadap kalām dan falsafah bukan kritik dari luar, tetapi kritik dari dalam medan diskursif yang ia pahami dengan baik.
Kedua, konsep penciptaan menurut Ibn Taimiyyah harus dibaca lebih cermat. Ia menolak kekekalan alam dalam model Aristotelian-Avicennian, tetapi ia juga menolak pembatasan bahwa Allah “mulai” bertindak setelah sebelumnya tidak bertindak. Baginya, kesempurnaan Allah justru menuntut bahwa Allah senantiasa mampu bertindak, berbicara, mencipta, dan berkehendak. Maka, persoalannya bukan “apakah alam qadīm?”, tetapi bagaimana memahami tindakan Allah yang kekal tanpa menjadikan makhluk tertentu qadīm.
Ketiga, buku ini penting untuk kajian takfir. Perdebatan al-Ikhmīmī dan Ibn Qāḍī al-Jabal menunjukkan bahaya menjadikan lāzim al-qawl sebagai dasar vonis teologis. Ibn Qāḍī al-Jabal menegaskan bahwa konsekuensi logis yang ditarik oleh lawan tidak otomatis menjadi keyakinan aktual seseorang. Ini sangat dekat dengan prinsip kehati-hatian Ibn Taimiyyah dalam membedakan antara kesalahan doktrin, konsekuensi pendapat, dan vonis atas individu tertentu.
Adem berhasil menunjukkan bahwa salah satu kontroversi paling penting dalam penerimaan awal Ibn Taimiyyah bukan hanya soal tajsīm, ziarah kubur, talak, atau politik, tetapi soal metafisika penciptaan: apakah Allah dapat senantiasa mencipta tanpa menjadikan dunia qadīm?
Jawaban Ibn Qāḍī al-Jabal, sebagaimana dibaca Adem, adalah bahwa Allah senantiasa mungkin bertindak dan mencipta, tetapi ini tidak berarti ada makhluk konkret yang qadīm bersama Allah. Inilah titik pembeda antara Ibn Taimiyyah dan Ibn Sīnā.
Secara akademik, buku ini layak ditempatkan bersama karya-karya penting Jon Hoover, Frank Griffel, Livnat Holtzman, Caterina Bori, dan Yossef Rapoport dalam studi kontemporer tentang Ibn Taimiyyah dan circle-nya. Sekali lagi, The Last Taymiyyan memperlihatkan bahwa Ibn Taimiyyah bukan hanya pemikir sederhana. Ia tidak sekadar menolak filsafat, tetapi mengkritik metafisika pascaklasik yang bekerja dari dalam medan kalām-falsafah, dan Ibn Qāḍī al-Jabal adalah salah satu saksi terbaik untuk memahami sisi rumit itu.
Wallāh A‘lam bi al-Ṣawāb.
