OPINI – Pada tahun 2022, aku lulus Sekolah Menengah Pertama di Kota Bersinar. Saat itu, Bapak menghampiriku dengan langkah tegapnya. Dengan nada pelan tapi tegas, dia berkata, “Mondok ya, Nduk!”

Aku terkejut. Senyum dan keceriaan yang tadinya merekah mendadak sirna. Aku sadar, itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah perintah. Aku terdiam beberapa menit dan berpikir, “Apakah ini saatnya?”

Tapi aku belum siap. Aku masih ingin sekolah formal, ingin seperti teman-teman yang diterima di sekolah favorit. Lalu, bagaimana dengan mimpi-mimpiku?

Aku tersadar saat Bapak menepuk pundakku dengan lembut dan bertanya, “Mau kan, Nduk?”

Dengan berat hati, aku mengangguk. Kenapa aku mau? Hanya ada satu alasan: aku tidak mau membuat orang tua kecewa.

Seminggu setelah hari kelulusan, aku dan Ibu sedang bersantai di ruang tamu. Dari arah kamar, terdengar pintu terbuka. Bapak berjalan mengahampiri kami sambil menggenggam ponselnya, lalu duduk di sebelahku.

“Siap-siap ya, Nduk. Klambine diberesi, sesuk tak anter neng pondok. Barang-barangmu wes tak tumbasne, gari diangkat neng mobil,” ujar Bapak. Aku hanya sanggup menjawab singkat, “Nggeh.”

Malam itu, aku terus bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah benar ini jalan yang harus kuambil? Bagaimana kalau nanti aku berhenti di tengah jalan? Sanggupkah aku menjalaninya?

“Ah, sudahlah. Jalani saja dulu.”

Dini hari itu aku tak bisa memejamkan mata. Kupandangi setiap sudut kamar untuk mengenang semua memori yang tertinggal. Suara azan Subuh berkumandang pukul 04.25. Aku bergegas mengambil air wudu, lalu melaksanakan salat Subuh berjemaah bersama Bapak dan Ibu di ruang tengah.

Tak terasa sore pun tiba. Setelah seharian berkemas, saatnya aku berangkat ke tempat yang entah kapan aku bisa pulang lagi ke rumah. Sedih? Sangat. Aku harus merelakan impian masa kecilku demi menuruti kemauan orang tua.

Roda mobil membawa kami melintasi jarak hingga tibalah kami di Kota Solo—kota yang dikenal dengan budaya dan kulinernya yang bersejarah. Begitu memasuki gerbang pondok, detak jantungku bergemuruh jauh lebih kencang dari biasanya. Bapak mulai menurunkan semua barang dari bagasi.

Tiba waktunya berpamitan dengan Bapak, Ibu, Kakek, dan Nenek. Kupeluk mereka satu per satu. Saat memeluk Bapak dan Ibu, aku berbisik,

“Doakan ya, Pak, Bu. Doakan agar anakmu ini menjadi apa yang kalian harapkan dan bisa membuat kalian bangga. Sering-sering jenguk ke sini ya. Putri kecilmu ini pasti selalu kangen suara Bapak dan Ibu.”

Air mataku tumpah tak terbendung. Di satu sisi, aku merindukan hangatnya pelukan masa kecil yang dulu bisa kudapatkan setiap hari. Tak perlu ditanya apakah mereka sedih—raut wajah mereka sudah menyiratkan segalanya.

Hari mulai gelap saat mereka berpamitan. Kuantar langkah mereka sampai mobil itu melaju dan menghilang dari pandangan. Dengan langkah berat, aku masuk ke kamar pesantren untuk merapikan barang.

Hari pertama, kedua, ketiga, hingga 1.095 hari berikutnya kujalani dengan pelbagai rintangan. Layaknya roller coaster yang naik-turun dan jalanan gunung yang berkelok, alhamdulillah semua berhasil kulewati meski harus kempas-kempis.

Setelah dipikir-pikir kembali, bersyukur dulu aku menuruti nasihat orang tua. Jika tidak, jadi apa aku sekarang? Hidup ini memang tidak mudah, tetapi aku memilih untuk menerima tantangan itu dan bertahan menembus badai.

Tuhan, terima kasih telah menuntunku hingga titik ini. Untuk Bapak dan Ibu, terima kasih atas segala dukungan dan doa yang tiada henti. Aku selalu ingat kata-kata kalian:

“Nduk, Bapak Ibu udu wong nduwe, mulano awakmu tak pondokke supoyo pinter. Bapak Ibu mbesuk gaisoh wenehi opo-opo selain kepinteran. Sing bakal nulungi awakmu sesuk yo kepinteranmu.”

Kata-kata pendorong itulah yang terus kupegang. Terima kasih, Pak, Bu. Aku sayang kalian selamanya.

 

*Hasil seminar pelatihan kepenulisan opini LPM Arjuna bersama Islamsantun.org