RESENSI – Dalam histori pendidikan, khususnya pendidikan Islam di Indonesia, pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang telah tumbuh dan berkembang sejak lama. KH. Imam Zarkasyi menyebut pondok pesantren sebagai indigenous pure national, yaitu pendidikan nasional yang sejati. Salah satu pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia adalah Pondok Modern Darussalam Gontor.
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) didirikan pada 20 September 1926 oleh tiga tokoh yang dikenal sebagai Trimurti, yaitu KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fannanie, dan KH. Imam Zarkasyi. Pada September 2026 ini, PMDG genap berusia 100 tahun dengan perayaan 100 Tahun Gontor. Seratus tahun bukanlah masa yang singkat. Momentum ini menjadi pengingat kembali akan perjalanan dan perjuangan pendidikan Gontor selama satu abad.
Namun, perjalanan seratus tahun Gontor tidak cukup jika hanya dibaca dari usia lembaganya atau banyaknya santri maupun alumni. Lebih mendasar dari hal itu, perjalanan tersebut perlu dibaca melalui perjuangan para pendiri, para kiai, serta nilai dan prinsip pendidikan yang diwariskan kepada para santri. Sebab, keberhasilan pendidikan semestinya tidak cukup jika hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari kualitas pengetahuan, karakter, dan kontribusi yang mereka bawa setelah kembali ke masyarakat.
Buku Risalah Syajarah Thayyibah: Sehimpun Esai Nilai & Falsafah Pendidikan Gontor karya Alvin Qodri Lazuardy hadir sebagai salah satu upaya untuk merekam dan membicarakan nilai serta falsafah yang menopang pendidikan Gontor. Buku ini menghimpun sejumlah tulisan dan pengalaman pribadi penulis yang diseleksi dan dikembangkan dengan landasan-landasan yang kokoh untuk membicarakan sebagian falsafah dan kehidupan pendidikan Gontor, mulai dari akar teologis dan filosofis, manajemen pesantren, falsafah kegiatan pondok, kehidupan santri, hingga pendidikan dan kepemimpinan.
Di awal pembahasan, penulis menempatkan pendidikan bukan sekadar sebagai proses transfer pengetahuan. Pendidikan juga merupakan ikhtiar untuk mewariskan nilai dan membentuk karakter guna menyiapkan generasi penerus. Atas dasar inilah PMDG memandang pendidikan sebagai proses pembentukan Insan Kamil, yaitu manusia yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kualitas kepribadian dan kemampuan untuk menjalankan ilmu tersebut dalam kehidupan. Dengan demikian, pesantren bukan hanya melahirkan insan yang berilmu, tetapi juga insan yang memiliki kemampuan kognitif, afektif, serta psikomotorik secara seimbang dengan landasan prinsip dan nilai syariat Islam.
Gagasan itu menarik sehingga dapat membawa kita pada pertanyaan penting: “Untuk apa sebenarnya seorang santri dididik? Apakah pendidikan cukup ketika santri telah memahami pelajaran, memperoleh nilai yang baik, atau berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi? Ataukah ada tanggung jawab lain yang lebih besar setelah proses pendidikan itu selesai?”
Pertanyaan tersebut menemukan relevansinya ketika kita membaca salah satu esai dalam buku ini, yaitu “Santri: Pemangku Amanat Mundziru al-Qawm.” Dari sekian banyak esai yang disajikan, tulisan ini menarik untuk mendapat perhatian lebih karena membawa pembaca pada pembicaraan tentang orientasi pendidikan santri, yaitu bukan hanya bagaimana seorang santri memperoleh ilmu, tetapi bagaimana ilmu tersebut kelak dipertanggungjawabkan di tengah masyarakat.
Di sinilah gagasan Mundziru al-Qawm menjadi menarik. Santri tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi seseorang, tetapi juga untuk berbuat sesuatu. Ia dituntut memiliki ilmu sekaligus kesiapan untuk hadir di tengah masyarakat. Sebagaimana dikutip dari penulis dalam buku ini, “Menjadi mundziru-l-qawm berarti siap berjuang. Ulama dalam perspektif Gontor bukanlah figur menara gading yang jauh dari realitas sosial. Mereka adalah ulama yang turun ke tengah umat, memahami problem masyarakat, dan menghadirkan solusi dengan ilmu dan akhlak.”
Selain itu, gagasan tersebut juga dapat dibaca melalui empat motto pendidikan Gontor yang dibahas dalam buku ini, yaitu Berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas, dan Berpikiran Bebas. Keempatnya tidak hanya berbicara tentang apa yang harus dimiliki seorang santri, tetapi juga tentang bagaimana seorang santri membentuk dirinya agar memiliki kesiapan untuk menghadapi kehidupan setelah keluar dari pondok.
Pada titik ini, Mundziru al-Qawm menjadi relevan dengan persoalan pendidikan hari ini. Pendidikan tidak cukup jika hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menghafal, memahami, atau mendapatkan nilai akademik yang baik. Pendidikan juga perlu menjawab pertanyaan tentang apa yang dilakukan seseorang dengan ilmu yang diperolehnya.
Pada akhirnya, buku Risalah Syajarah Thayyibah dapat dibaca sebagai ikhtiar untuk merekam dan menjelaskan sebagian falsafah yang menopang perjalanan pendidikan tersebut. Sementara itu, esai “Santri: Pemangku Amanat Mundzirul Qaum” mengajak pembaca melihat bahwa di balik proses pendidikan terdapat tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar memperoleh pengetahuan.
Wal Akhir, santri bukan sekadar orang yang pernah belajar di pesantren. Ia adalah manusia yang setelah memperoleh pendidikan dituntut untuk kembali kepada masyarakat dengan membawa ilmu, nilai, dan tanggung jawab. Jika Gontor selama seratus tahun diibaratkan sebagai pohon yang terus tumbuh, maka santri adalah salah satu buah yang kelak jatuh, tumbuh, dan menanam kembali nilai-nilai yang diperolehnya di tempat lain yang ia pijaki.
Judul: Risalah Syajarah Thayyibah: Sehimpun Esai Nilai & Falsafah Pendidikan Gontor
Penulis: Alvin Qodri Lazuardy
Penerbit: Alfuwisdom Publishing
Tahun: 2026
Cetakan: Pertama
Halaman: 120 halaman
