OPINI – Beberapa tahun terakhir ini saya cukup sering membaca komik-komik Islam. Dari bacaan itu muncul pertanyaan: mengapa komik Islam hari ini banyak mengangkat tema pahlawan muslim?

Kecenderungan itu setidaknya bisa kita lihat ketika kita datang ke Gramedia dan menyambangi rak yang khusus memajang komik-komik Islam. Nama-nama pahlawan Islam seperti Muhammad Al-Fatih, Shalahudin Al-Ayubi, Khalid bin Walid dan nama-nama lain mudah kita dapatkan di toko buku. Beberapa sampulnya juga khas, menampilkan pahlawan berkuda dan di antaranya mengangkat pedang atau busur panah.

Saya juga bertanya-tanya, saat anak-anak membeli komik, atau orang tua membelikan komik itu untuk anaknya, imajinasi apa yang ada di benak mereka? Apa harapan yang menyertai ketika komik-komik itu nanti dibaca? Apakah tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam komik diharapkan jadi teladan? Apakah komik Islam itu hendak dijadikan kompas moral?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan saya pada obrolan saya dengan Bambang Wahyudi, ketua Ikatan Komikus Solo (Ikilo). Bambang mengatakan komik Islam dibeli, terutama oleh orang tua, dalam rangka mendidik anaknya.

Komik Islam terus diproduksi karena dianggap punya potensi yang tak kecil. Faktanya, kisah-kisah yang bersumber dari agama amat melimpah untuk digali. Mulai dari kisah para Nabi hingga tokoh agama atau ulama lokal di masing-masing daerah. Sesuatu yang “berat” bisa dibuat jadi “ringan” lewat komik.

Apa yang disampaikan Bambang itu selaras dengan temuan Julien Ehrenkonig yang meneliti komik Islam di Indonesia dengan disertasi berjudul Illustrating Islam: Comics as Dakwah and the Negotiation of Muslim Identity in Indonesia. Ia mencermati 12 komik cetak dan 205 komik digital dari 2018-2022.

Disertasinya mengatakan bahwa komik Islam merupakan media tempat para pembuatnya menyampaikan ajaran agama sekaligus menawarkan gambaran tentang identitas Muslim yang dianggap baik, sesuai dengan pandangan keagamaan dan lingkungan mereka. Artinya, gambaran tersebut dapat berbeda antara satu komikus dengan komikus lainnya.

Komik sebagai Pendidikan Keagamaan

Temuan itu dapat dimaknai bahwa komik Islam cenderung didesain menjadi komik dakwah. Sehingga, aktivitas membeli komik Islam hari ini tergolong aktivitas pendidikan keagamaan, tidak semata menghadirkan hiburan semata.

Komik cetak dihadirkan  tidak hanya sebagai pengalihan dari kecanduan gawai, namun boleh jadi juga berbalut “muatan ideologis”. Sebuah pemandangan yang cukup berbeda dengan apa yang Marcel Boneff lihat ketika ia menulis disertasi tentang komik Indonesia (1972). Pada masa itu, menurut Bonneff, komik jadi “barang terlarang” dan dibaca sembunyi-sembunyi. Sedangkan kini, komik (Islam) ramai-ramai dibeli untuk menjadi bagian dari piranti didaktik.

Perihal pahlawan Islam dan tema perang yang mendominasi komik Indonesia, kerap kali membuat saya masygul. Warna Islam Indonesia yang beragam seolah menjadi seragam dalam rak komik. Untungnya, beberapa penerbit mulai menghadirkan tokoh-tokoh Islam Indonesia seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan dan tokoh-tokoh lain.

Keberagaman ini penting agar anak-anak melihat kepahlawanan dalam Islam tidak sekadar perkara memenangkan perang. Benar bahwa itu bagian dari sejarah Islam yang perlu dipelajari, namun Islam terlalu sederhana jika direpresentasikan hanya dalam komik pahlawan yang gemilang dalam peperangan.

Barangkali, kekhawatiran saya terlalu berlebih dan saya terlalu cepat dalam menyimpulkan. Namun, sekali lagi, saya menyakini bahwa warisan sejarah Islam mencakup perjalanan para ulama, ilmuwan, pendidik, dan pemikir. Jika anak-anak lebih sering diperkenalkan pada tokoh yang memenangkan peperangan, bagaimana mereka mengenal bentuk kepahlawanan yang lahir dari perjuangan melalui ilmu pengetahuan dan pendidikan?

Pun begitu, kiranya perlu ditelusur: mengapa tema pahlawan ini sedemikian diminati? Apakah karena saat ini kita sedang krisis panutan? Atau diciptakan untuk mengimbangi “pahlawan-pahlawan Barat” yang dianggap tidak selaras dengan nilai-nilai keislaman?

Saya kemudian bertemu dengan artikel Ansusa Putra tentang komik Muhammad al-Fatih. Putra  mengaitkan pengenalan pahlawan Islam dengan kebutuhan menyediakan keteladanan bagi generasi muda. Ia menyinggung kecenderungan anak muda mengidolakan tokoh Barat sebagai salah satu alasan perlunya memperkenalkan pahlawan Muslim.

Sementara itu, Najib Kailani memandang komik Islam sebagai bentuk dakwah yang merespons kondisi zaman sekaligus gerakan budaya dan moral. Komik, beserta budaya pop lainnya seperti novel, musik dan film, dioptimalkan untuk berdakwah guna mendorong kesalehan dan integritas moral di kalangan anak muda Muslim di Indonesia. Kailani menyebutnya sebagai budaya pop Islam.

Akankah komik Islam di Indonesia kelak identik dengan pahlawan muslim?

Upaya-upaya untuk menghadirkan komik Islam di luar tema pahlawan sebenarnya sudah dilakukan. Hanya saja, mungkin, gaungnya tidak begitu didengar. Sebut saja komik Kampung Sukaraya hasil kerjasasama Kemenag dan ISI Solo, yang membincang toleransi, yang secara gambar dan cerita layak mendapat banyak pembaca.

Atau, komik yang merupakan adaptasi dari film Jihad Selfie karya Noor Huda Ismail. Atau di ranah media sosial kita bisa menengok komik-komik di akun Instagram islami.co dan NU Online yang cenderung kritis dan jenaka.

Tema-tema dalam komik Islam perlu terus diperluas, agar generasi muda muslim dapat belajar dari beragam tokoh dengan pelbagai kontribusinya. Mereka bisa belajar apa pun: keberanian para tokoh, kemauan untuk mencipta dan berinovasi, serta semangat berpikir kritis.

Kelak, ketika kembali menyambangi rak komik Islam di toko buku, saya barangkali masih akan menjumpai sampul bergambar pahlawan berkuda dengan pedang di tangan. Saya berharap, di rak yang sama, semakin banyak komik tentang orang-orang yang memperjuangkan gagasannya melalui ilmu pengetahuan, keberanian berpikir, dan kesediaan hidup bersama dalam perbedaan.