Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُجْتَبَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقَى وَالْوَفَا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِه عَلِيْمٌ ﴿٩٢﴾

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa bukan hanya terwujud di atas sajadah, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan tanah, air, udara, dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW. Beliau merupakan teladan kita semua, teladan dalam ilmu dan amal, teladan dalam bermasyarakat, bergaul dengan sesamanya, dan memperlakukan segenap makhluk Allah dengan sebaik-baik perlakuan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketika Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 92 ini turun, Abu Thalhah al-Anshari RA, mewakafkan Bairuha’. Abu Thalhah adalah pemilik kebun kurma terbanyak di Madinah, dan Bairuha’ adalah kebun yang paling ia cintai. Rasulullah SAW sering meminum airnya yang segar, di kebun yang berlokasi di depan masjid Nabawi itu. Menanggapi wakaf Abu Thahlah tersebut, Rasulullah bersabda, “Bagus sekali, itu harta yang menguntungkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadits di atas, kita ditunjukkan bahwa sedekah besar pertama dalam Islam ternyata adalah wakaf kebun yang hijau.

Jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah

Amal ibadah wakaf tergolong sedekah jariyah, amal yang pahalanya terus mengalir. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya:

“Apabila anak Adam (manusia) meninggal, terputuslah amal ibadahnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah,

Dalam sejarah Islam, sejak masa awal, ibadah wakaf sudah ditujukan untuk kepentingan keagamaan dan kepentingan kemashlahatan umum. Nabi Muhammad SAW menjadi wakif atas tanah untuk pembangunan Masjid Quba’.  Nabi juga menjadi nazhir untuk tanah wakaf produktif. Sahabat Mukhairiq pernah berwasiat agar tujuh kebun kurma miliknya diserahkan kepada Nabi SAW.

Lalu Nabi mengambil ketujuh kebun itu dan mengelola hasilnya untuk kepentingan fakir miskin. Demikian pula Umar bin Khattab RA. Ia memiliki kebun terbaiknya di Khaibar dan berniat mewakafkannya. Rasulullah SAW memberi anjuran, yang artinya: “Tahanlah pokoknya dan alirkanlah manfaatnya.” (HR. an-Nasa’i dan Ibnu Majah, dari Ibnu Umar)

Dalam perkembangannya, tatkala Umar RA menjadi khalifah ia membuat ketentuan bahwa hasil tanaman/buah dari kebun wakaf itu untuk fakir miskin, kerabat, memerdekakan budak, ibnu sabil, dan menjamu tamu, bahkan untuk nazhir. Umar RA berkata:

لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ، وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ

“Tidak berdosa bagi orang yang mengelolanya untuk makan darinya secara wajar dan memberi makan (orang lain), tanpa menimbun harta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Artinya, nazhir dapat memperoleh imbalan yang patut. Tatkala ia mengelolanya dengan terampil dan amanah. Pengelolaan yang profesional itu tujuannya adalah agar hasil dari wakaf terus mengalir. Ini sesuai perumpamaan Allah tentang pahala sedekah laksana sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada setiap tangkai muncul seratus biji (QS. al-Baqarah: 261).

Dalam memproduktifkan wakaf, Nazir harus profesional dan akuntabel, serta betul-betul bertujuan kemaslahatan umat.

Jamaah sholat Jumat rahimakumullah,

Hutan semakin gundul, pepohonan berkurang, mata air mengering, banjir dan longsor datang silih berganti. Sawah menyusut karena alih fungsi, dan petani gurem bertambah.

Di sisi lain, umat Islam memiliki ratusan ribu lokasi tanah wakaf, ribuan hektar. Namun, sebagian besar wakaf itu untuk 3-M: masjid, madrasah, dan makam. Semua itu mulia tentu saja, tetapi masih sedikit wakaf yang dikelola produktif untuk menjawab masalah kemiskinan, masalah pangan, dan memulihkan alam yang rusak.

Jamaah sholat Jumat rahimakumullah,

Kita perlu menggalakkan wakaf produktif dan wakaf hijau. Landasan fikih mengenai wakaf produktif telah jelas sebagaimana hadits Rasulullah SAW di atas, merespon pengalaman sahabat Abu Thalhah dan Umar bin Khattab tersebut.

Mengenai wakaf hijau, mari kita tengok beberapa riwayat berikut. Dalam riwayat al-Bazzar dan al-Baihaqi dari sahabat Anas RA, disebutkan tentang tujuh amal yang pahalanya terus mengalir di alam kubur. Tiga di antaranya berkenaan dengan menyediakan fungsi umum akan sumberdaya alam, yakni: mengalirkan sungai, menggali sumur, dan menanam pohon. Ini dapat kita sebut adalah amal ekologis. Diteladankan pula oleh sahabat Utsman bin ‘Affan RA. Tatkala Madinah mengalami kesulitan air, Utsman RA membeli Sumur Rumah atas anjuran Nabi dan ia mewakafkannya untuk kepentingan umat (diriwayatkan at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).

Bahkan, Nabi Muhammad SAW memperluas cakupan amal sedekah, tatkala amal itu memiliki kemanfaatan bukan hanya pada manusia namun pada multi-spesies. Perhatikanlah hadits ini:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu hasilnya dimakan burung, manusia, atau ternak, melainkan itu merupakan amal sedekah baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, berbagai bentuk wakaf penghijauan seperti hutan wakaf, kebun wakaf, sawah wakaf, mewakafkan tanah untuk sumber air atau sumur, betapa itu dimuliakan oleh Rasulullah SAW. Kemanfaatannya bukan hanya untuk memakmurkan manusia, untuk hewan-hewan dan tumbuhan, sekaligus merawat bumi tempat kita bersujud.

Jamaah sholat Jumat rahimakumullah,

Lantas, bagaimana tinjauan wakaf produktif dan wakaf hijau dari sisi hukum nasional? Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf telah sangat jelas mendorong amal ibadah ini:

  • Wakaf dapat untuk selamanya (muabbad) atau jangka waktu tertentu (muwaqqat), guna ibadah dan/atau kesejahteraan umum (diatur dalam Pasal 1 angka 1);
  • Kemudian, wakaf berfungsi mewujudkan manfaat ekonomis untuk ibadah dan kesejahteraan umum, termasuk kemajuan ekonomi umat (diatur dalam Pasal 5 dan 22);
  • Harta wakaf mencakup tanah, bangunan, tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah, serta uang. (diatur dalam Pasal 16 dan 28). Maka, pohon dapat diwakafkan, dan wakaf uang dapat membiayai perawatan bibit, embung, atau irigasi.

 

Oleh karena itu, jamaah sholat Jumat rahimakumullah, ketika Anda memiliki niat untuk berwakaf, maka berwakaflah dalam bentuk wakaf produktif atau wakaf hijau. Saat ikrar wakaf, nyatakanlah bahwa peruntukannya adalah untuk kepentingan wakaf produktif dan wakaf hijau. Wakaf untuk hutan, untuk sawah, untuk sumur, untuk perlindungan mata air, dan seterusnya; wakaf untuk kesejahteraan ekonomi umat, untuk hunian fakir-miskin, untuk tempat ibadah atau pendidikan, semua mendapat tempat dalam ajaran Islam. Betapa luas dimensi amal ibadah wakaf itu.

Selain itu, ikrar wakaf dan sertipikat tanah wakaf perlu didaftarkan, agar niat baik wakif kelak di kemudian hari tidak menjadi objek sengketa; dan nazhir dapat mengelolanya dengan aman demi kemaslahatan umat.

Jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah,

Seperti yang diteladankan sahabat Abu Thalhah, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan radliallahu ‘anhum, semoga kita mampu menafkahkan harta yang kita cintai di jalan Allah SWT melalui amal wakaf. Mulai dari yang kecil, seperti wakaf pohon, atau wakaf uang yang dihimpun kolektif untuk pembuatan sumur. Amal ibadah ini pahalanya tumbuh dan mengalir, manfaatnya dapat dirasakan oleh manusia, hewan, dan bumi hingga generasi mendatang.

Jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita bangun kesadaran bahwa keimanan bukan hanya diwujudkan di masjid atau di atas sajadah kita. Iman yang aktif adalah iman yang menjadi gerakan dan perubahan guna memperbaiki kehidupan sosial dan keindahan alam raya ini. Solidaritas antar manusia dan alam perlu dijaga bersama-sama.

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ.

Khutbah Kedua

هَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. وقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا…

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْحَافِظِينَ لِأَرْضِكَ، الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُفْسِدِينَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُركُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

 فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ