KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, pembebas umat manusia dari belenggu jahiliyah.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Al-Qur’an Surat Al-Balad yang ayatnya dibacakan di awal khutbah ini dibuka dengan sumpah Allah atas sebuah negeri:

لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ

yaitu Kota Makkah, tempat Rasulullah SAW dan para pengikutnya mengalami penindasan ketika keimanan dan ketaatan baru ditegakkan di sana.

Banyak orang yang memusuhi Nabi dan para pengikutnya. Para pemuka dan orang kaya mengeluarkan banyak harta untuk mengusir Nabi. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Balad, ada seorang musuh yang membanggakan diri dengan mengatakan:

يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا

“Dia berkata: ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak.’” (QS. Al-Balad: 6)

Dalam sebuah tafsir, orang itu diketahui bernama Abul Asyiddin, seorang yang congkak dan kafir.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Terhadap dinamika yang terjadi di Makkah itu, Allah SWT telah menunjukkan dua jalan yang bisa dipilih: jalan kebajikan dan jalan kejahatan. Jalan kebajikan nan terjal disebut al-‘Aqabah. Namun, apa al-‘Aqabah itu? Allah menjelaskan secara rinci:

Pertama, fakku raqabah, melepaskan belenggu leher. Artinya, membebaskan manusia dari perbudakan. Islam adalah yang pertama merintis pembebasan budak, dengan berbagai macam cara secara bertahap. Kafarat pembunuhan tidak sengaja melalui pembebasan budak. Begitu pula mengingkari sumpah dan melakukan zhihar harus ditebus dengan membebaskan budak. Budak juga menjadi golongan penerima zakat, wa fir-riqab (QS. At-Taubah: 60), termasuk juga melanggar nazar. Keberadaan budak dipedulikan dalam kacamata hukum Islam. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُسْلِمَةً أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهَا عُضْوًا مِنْ أَعْضَائِهِ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa memerdekakan seorang budak muslim, Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari api neraka sebagai balasan setiap anggota tubuh budak itu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Pembebasan budak menempati posisi ibadah yang tinggi. Perubahan struktur sosial dapat terjadi melalui perubahan paradigma yang diperkenalkan oleh agenda pembebasan Islam.

Kedua, ith’amun fi yaumin dzi masghabah, memberi makan pada hari kelaparan, di masa paceklik ketika pangan langka dan harganya mahal. Inilah perjuangan menegakkan kedaulatan pangan, agar tidak ada yang kelaparan di suatu negeri. Termasuk di sini adalah kebijakan agar sumber pangan rakyat tetap terjaga: hutan, rawa, pohon-pohon sagu, sungai, ladang bergulir, sawah, yang menghasilkan sumber pangan.

Ketiga, kepedulian itu ditujukan kepada yatiman dza maqrabah, anak yatim yang masih kerabat; dan miskinan dza matrabah, orang miskin yang “berlumur debu”. Sahabat Ibnu ‘Abbas RA menafsirkan mereka sebagai orang yang terlempar di jalanan, tidak memiliki rumah, dan tidak ada yang melindunginya dari debu jalanan. Betapa ironis: mereka hidup dan tidur di atas tanah, tetapi tidak memiliki sejengkal pun tanah. Dalam bahasa kita hari ini, merekalah kaum tunakisma dan tunawisma. Peduli kepada mereka adalah suatu jalan yang mulia meski terjal, al-‘Aqabah.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Mengenai perbudakan, Khalifah Umar bin Khattab RA pernah menegur gubernurnya di Mesir, ‘Amr bin al-‘Ash, karena putranya memukul seorang rakyat Qibthi. Umar berkata:

مَتَى اسْتَعْبَدْتُمُ النَّاسَ وَقَدْ وَلَدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ أَحْرَارًا؟

“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?” (Dikisahkan dalam Futuh Mishr karya Ibnu ‘Abdi Hakam).

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Para khalifah dan sahabat mulia, termasuk Sayyidah Khadijah, banyak melakukan pembebasan budak. Prinsip abolisionis sudah diperkenalkan Islam meskipun dilakukan secara bertahap pada abad ke-7. Mereka yang terlanjur menjadi budak dimerdekakan secara bertahap, dan mereka yang merdeka dilarang diperbudak sehingga tercegah adanya perbudakan baru.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Para pendiri bangsa Indonesia merumuskan Pasal 33 UUD 1945 bukan tanpa sebab. Pada masa kolonial, sumber-sumber agraria dikuasai perusahaan perkebunan Eropa dan kerajaan. Rakyat menjadi buruh dan kuli, bahkan harus ngindung dan ndolson menumpang di tanah orang untuk mendirikan gubuk. Penghisapan bangsa asing dan bangsa sendiri berlangsung secara mendalam. Pada gilirannya terjadi “penghancuran manusia Indonesia”.

Manusia Indonesia dihancurkan sejak lama dengan cara dirampas tanah mereka, kemampuan memberi makan mulut mereka, dilarangnya mereka berorganisasi dan menciptakan ruang-ruang yang merdeka, dan pada akhirnya ketidaktahuan mereka atas masalah yang menjerat mereka sendiri.

Hari ini perbudakan dapat hadir dalam wujud baru: petani yang terjerat utang ijon dan rentenir hingga sawahnya lepas, buruh tani yang tidak pernah punya kesempatan memiliki tanah garapan, pekerja yang ditipu dan dijerat di kapal-kapal ikan atau di negeri orang, dan keluarga yang tergusur dari tanah tempat mereka hidup turun-temurun. Maka, Al-Qur’an sudah mengingatkan kita: fakku raqabah. Hancurkan belenggu besi perbudakan, putuslah jerat-jerat eksploitasi. Ini perintah Allah SWT.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Di Sumba, perbudakan dalam pengertian harfiahnya masih terjadi. Penguasa-penguasa tanah luas yang alim rentan melakukan perbudakan. Di Langkat, pengusaha perkebunan sawit yang sekaligus pejabat tinggi mengerangkeng para buruh pekerjanya. Hampir sepuluh tahun hal itu berlangsung terhadap ratusan buruh, dengan kedok rehabilitasi narkoba. Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) masih menjadi masalah besar di Indonesia. Negaranya merdeka, warganya masih mengalami penindasan.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita perhatikan bagian akhir rangkaian ayat Surat Al-Balad tadi:

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ

“Mereka itulah golongan kanan.” (QS. Al-Balad: 17–18)

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Mereka, para “pejuang al-‘Aqabah”, pada masa kini bisa menjadi teladan: para aktivis, para peneliti, ilmuwan, atau pakar yang menunjukkan fakta-fakta ketidakadilan; ataupun juga para birokrat dan pemimpin reformis. Kita perlu memastikan bahwa kesemuanya sedang memperjuangkan perbaikan kondisi rakyat (umat).

Jalan al-‘Aqabah harus ditempuh bersama-sama (kolaboratif), dengan kesabaran yang panjang, dengan kasih sayang, dan dengan ketangguhan iman. Mereka yang menempuhnya, oleh Allah SWT disebut sebagai ashabul maimanah: “golongan kanan” yang mendapat ridha dan limpahan karunia dari Allah SWT.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Perjuangan al-‘Aqabah adalah wujud dari kepedulian, bukan kebencian. Peduli yang lahir dari rasa takut kepada Allah. Jika saja kezaliman dibiarkan, ia akan berdampak luas dan direproduksi di berbagai tempat. Sesuai sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ

“Sesungguhnya apabila manusia melihat kezaliman lalu mereka tidak mengambil tindakan, maka dikhawatirkan Allah akan meluaskan dosa atas pengabaian itu.” Hadits ini menegaskan bahwa diam atau “ignoransi” adalah sebuah kekeliruan besar.

Mari kita bangun kesadaran bahwa keimanan bukan hanya diwujudkan di masjid atau di atas sajadah kita. Iman yang aktif adalah iman yang bergerak dan mengubah kehidupan sosial dan alam menjadi lebih baik.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan hatinya. Dan itu selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Demikian khutbah tentang spirit al-‘Aqabah: aktivisme sebagai jalan terjal nan mulia. Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan, kesabaran, dan keistiqamahan untuk menempuh jalan kebajikan, serta menjauhkan kita dari sikap diam terhadap kezaliman. Amin ya rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, serta menjaga ketaatan kepada-Nya dalam keadaan lapang maupun sempit. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا وَأَوْلَادِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.