“Seringkali kita merasa ‘tiba-tiba’ sudah tua, sudah selesai pekerjaan, selesai masa jabatan. Atau kita juga bisa merasa lama sekali, tidak selesai-selesai pekerjaan. Cepat atau lama sangat bergantung suasana hati. Jika suatu pekerjaan dilakukan dengan penuh suka cita, penuh dengan kecintaan, maka terasa cepat, sebaliknya jika dilakukan penuh dengan beban, penuh kebencian, penuh keterpaksaan, akan terasa lama. Pun juga dalam ibadah. Beribadah karena beban atau dengan penuh kegembiraan tentu berbeda. Puasa jika dilakukan dengan beban akan terasa lama, tapi jika dilakukan dengan penuh kegembiraan terasa cepat. Tak terasa sudah maghrib, sudah berakhir bulan puasanya. Selamat mengakhiri puasa Ramadhan 1442 H. Tabassam li dunyaka, fa al-dunya tubassimu laka (tersenyumlah pada duniamu, maka dunia tersenyum padamu). Wallahu A’lam.”(Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Poin utama renungan ke-30 Pak Rektor sepanjang Ramadhan 1442 H ini, menurut saya, adalah tentang kekuatan senyum dalam menghadapi dan menjalani kehidupan. Cepat atau lambat adalah ukuran waktu, mulai dari detik, menit, lalu jam. Satu jam sama dengan enam puluh menit, satu menit sama dengan enam puluh detik. Selalu seperti itu kapan dan di mana pun, dan berlaku atas siapa pun. Jarak pun seperti itu. Mulai dari millimeter, centimeter, meter sampai kilometer. Satu meter sama dengan seratus centimeter, satu kilometer adalah seribu meter. Selalu seperti itu kapan dan di mana pun, dan berlaku atas siapa pun.

Jarak dari kota A ke kota B, misalnya, adalah sekian kilometer. Dari dulu hingga sekarang ya sekian kilometer itu. Yang membedakan durasi tempuh dari kota A ke kota B tersebut antara satu orang dengan lainnya tentu saja antara lain moda transportasi yang digunakan, atau jika menggunakan moda yang sama maka yang membedakannya adalah kecepatan yang dipacu. Tapi tetap saja kecepatan yang berbeda tidak sama sekali mengubah jarak yang ada. Pak Rektor dalam renungannya kali ini dengan teliti menunjukkan perbedaan cepat atau lamanya seseorang dalam menjalani sesuatu tidak pada ukuran waktu baku berupa putaran jarum dalam arloji atau pegerakan angka-angka dalam stopwatch, melainkan pada perasaan atau suasana hati yang bersangkutan. Gambarannya: Dua mahasiswa sama-sama sedang mengikuti perkuliahan 2 SKS untuk sebuah mata kuliah bersama seorang dosen. Keduanya memulai kuliah pukul 07.00 hingga pukul 08.40. Keduanya menghabiskan durasi waktu yang sama, yakni 100 menit di tempat yang sama; ruang kuliah.

Akan tetapi, sering terjadi, mahasiswa A merasa perkuliahan 100 menit yang dihabiskannya seperti sepuluh menit saja, sedang mahasiswa B merasa 100 menit yang dijalaninya bagaikan tiga jam lebih. Seperti telah dikatakan, yang membuat perbedaan antara keduanya itu adalah suasana hati. Ini kuncinya: “Jika suatu pekerjaan dilakukan dengan penuh suka cita, penuh dengan kecintaan, maka terasa cepat, sebaliknya jika dilakukan penuh dengan beban, penuh kebencian, penuh keterpaksaan, akan terasa lama.” Pak Rektor menambahkan: “Pun juga dalam ibadah. Beribadah karena beban atau dengan penuh kegembiraan tentu berbeda. Puasa jika dilakukan dengan beban akan terasa lama, tapi jika dilakukan dengan penuh kegembiraan terasa cepat. Tak terasa sudah maghrib, sudah berakhir bulan puasanya.”

Seperti saya singgung di awal, poin utama yang ditekankan renungan Pak Rektor kali ini adalah pentingnya menjalani segala sesuatu dengan riang gembira, suka cita, hati senang dan jiwa lapang. Semua itu disimpulkan Pak Rektor di ujung renungan dengan pepatah Arab: “Tersenyumlah pada duniamu, maka dunia tersenyum padamu.” Demikian, senyum adalah perlambang yang mengabarkan pada siapa saja bahwa kita sedang berada dalam suasana riang gembira, suka cita, senang hati, dan lapang jiwa. Senyum memiliki kekuatan “dahsyat”. Senyum melapangkan ruang-ruang fisik yang terlihat sempit. Senyum memudahkan persoalan-persoalan yang terlihat pelik. Senyum meringankan beban yang terasa berat. Senyum mendekatkan jalan keluar yang terlihat jauh. Senyum melenturkan relasi-relasi antar sesama yang terasa kaku. Senyum membuat Ramadhan terlalu cepat berlalu! Senyum membuat puasa karunia yang meringankan, bukan beban yang memberatkan.

Tapi, bagaimana pun secara penanggalan Ramadhan tak beda dengan bulan-bulan lainnya, berawal dari tanggal 1 dan berakhir di tanggal 30. Ia datang tanpa harus kita undang dan pergi tanpa harus permisi. Puasa di dalamnya datang dan pergi membersamai Ramadhan. Semoga kita dipertemukan-Nya dengan Ramadhan mendatang. “Selamat mengakhiri puasa Ramadhan 1442 H,” kata Pak Rektor untuk segenap warga IAIN Tulungagung secara khusus dan untuk segenap umat Muslim secara umum. Saya menambahkan, “Jangan lupa senyum. Kata Kanjeng Nabi, senyum kita ke saudara kita dinilai ibadah. Senyumlah, agar dunia tersenyum pada kita.”