“Iman adalah perbuatan. Keyakinan dan ucapan hanyalah versi tidak utuh dari perbuatan. Jika iman adalah keyakinan, maka iblis bisa terkategori sebagai makhluk beriman, karena ia meyakini wujud Tuhan, bahkan pernah bertemu dengan-Nya. Jika iman adalah ucapan, maka “makelar-makelar” agama juga bisa terkategori sebagai kelompok paling beriman. Perbuatanlah yang menentukan seseorang bisa dikatakan beriman atau tidak. Tidak peduli seseorang menghafal al-Qur’an, tapi bila perbuatannya tidak mencerminkan isi al-Qur’an, maka sesungguhnya dia bukan orang beriman” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Hubungan antara keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal-perbuatan; manakah di antara ketiganya yang merupakan faktor paling determinan dalam menentukan keimanan seseorang, merupakan tema klasik yang diperdebatkan para ulama ahli kalam (teologi). Di sini bukan tempatnya untuk mengupas seperti apa sengitnya perdebatan di antara mereka. Masing-masing berangkat dari bangunan argumen yang diyakininya kuat, masing-masing memiliki tujuan memuliakan makna dan nilai-nilai iman, dan semoga masing-masing mendapat pahala atas penalaran dan ijtihadnya.

Saya sendiri secara umum mengatakan bahwa iman itu seumpama cinta. Memang demikian adanya sejauh menyangkut Allah dan Nabi-Nya; mengimani Allah adalah mencintai-Nya, mengimani Rasulullah adalah mencintai beliau. Cinta kita pada-Nya, cinta kita pada Rasul-Nya, menuntut tiga penunjang yang semestinya berjalan seiring-sepadan satu sama lainnya. Di pangkal ada hati yang meyakini, di tengah ada lisan yang mengungkapkan keyakinan hati, lalu di tingkat aksi ada amal-perbuatan yang mewujudkan keyakinan jadi lelaku dan mengejawantahkan ucapan jadi tindakan.

Tanpa terperangkap polemik sengit khas Mutakallimin klasik seputar iman, saya mengamini kata-kata Pak Rektor bahwa “iman adalah perbuatan”. Setidaknya, yang paling menentukan dalam menakar kadar, kapasitas, dan kualitas iman seorang Mukmin adalah perbuatannya.

Keyakinan ada di kedalaman hati. Tapi dalamnya laut dapat diukur, sedang isi hati siapa tahu. Ini sama-sekali tidak boleh diartikan bahwa keyakinan hati tidak penting. Ia penting, tentu saja. Hanya saja ia masih perlu implementasi dan penguatan.

Di lapis kedua, pengakuan lisan datang mengungkap apa yang terpatri dalam hati. Sekokoh apa keyakinan hati, biasanya tercermin pada seberapa fasih lisan menyatakan. Sehebat apa keyakinan hati, biasanya terlihat pada seberapa lancar lidah mengutarakan.

Secara umum “rumusan”-nya seperti ini: Hati menentukan lisan, lisan menggambarkan hati. Seberapa penting pernyataan lisan dibanding perbuatan? Ya tetap penting. Setidaknya dalam interaksi keseharian antar sesama; bagaimana saya tahu Anda menyukai saya kalau rasa suka itu Anda ikat hanya dalam hati sedang tak sepatah pun kata terucap dari lisan Anda menyatakan suka pada saya?!

Keyakinan di hati sudah terpatri. Pengakuan di lisan sudah terungkapkan. Tapi iman, dengan begitu, belum dapat dikatakan utuh. Penentu keutuhan iman ada pada amal-perbuatan. Seperti kata WS Rendara dalam salah-satu puisinya yang menghentak: “Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Dalam hal ini, “perjuangan” sepadan maknanya dengan “amal-perbuatan”.

Dalam al-Qur`an, amal saleh selalu mengiringi iman. Ini menujukkan dengan cukup jelas bahwa iman itu bersifat aktif-progresif; tidak boleh berhenti di ranah wacana melainkan harus merambah dan menyeluruhi segenap anggota badan memeragakan amal perbuatan nyata.

Sejumlah hadis lebih nyata lagi mengaitkan iman kepada Allah dan Hari Akhir dengan berbagai amal kebajikan, mulai dari berkata yang baik atau diam jika tak mampu berkata baik, memuliakan tetangga, tidak menyakiti atau mengganggu tetangga, memuliakan tamu, dan banyak lainnya. Pun dengan Islam. Beberapa hadis mengaitkannya dengan memberi makan pada yang lapar, menebarkan salam (kedamaian), menjaga lisan dan tangan dari menyakiti sesama, menyambung silaturrahmi, dan banyak lagi lainnya.

Akhirnya, seperti apa pun kualitas iman kita, seberapa pun kuantitas amal-perbuatan kita, rasanya tak seorang pun dari kita ingin seperti iblis yang hanya percaya akan wujud Tuhan tapi kelakuannya sepenuhnya menyalahi perintah Tuhan. Pun kita semua berlindung kepada-Nya dari menyerupai “makelar-makelar” agama yang hanya pintar mengajak tapi tak pandai melakoni, hanya sibuk menata kata tapi abai dari berbuat nyata.

Semoga pula al-Qur`an yang kita muliakan kelak menjadi saksi yang meringankan kita bahwa kita telah berupaya sedemikian rupa untuk mengamalkan isi-kandungannya, bukan menjadi saksi yang memberatkan kita karena al-Qur`an hanya sampai di kerongkongan kita dan tidak pernah menghiasi perilaku kita.