Islamsantun.org. Seorang teman baru saja mendapatkan uang dari pihak lain yang memang tidak pernah terduga sebelumnya, lalu ia menganggap semua yang baru saja dialaminya itu sebagai “rezeki anak saleh” Satu ungkapan yang rasanya sekelas dengan “jumatan biar ganteng” dalam hal candanya.

Sebab, Allah Subhanahu Wata’ala dalam memberi rezeki kepada makhluknya di dunia tidak pandang bulu, baik yang saleh atau yang tidak saleh sama-sama diberi rezeki karena Ia menyandang gelar ar-Rahman, atau Yang Maha Pengasih di Dunia. Sebab itu, jangan heran jika ada orang atheis tetap bisa makan dan minum, sejahtera semua keperluan, dan hidupnya bahagia. Berbeda dengan ar-Rahim-Nya yang merupakan sifat kasih sayang Allah Swt di dunia dan di akhirat sekaligus, kepada para hamba yang taat dan tidak durhaka.

Dalam pandangan ekonomis Ibnu Khaldun, rezeki berbeda dengan pemasukan (ad-dakhlu). Pemasukan hanya bisa diperoleh dengan satu cara, yaitu dengan bekerja. Pekerjaaan terbagi kepada dua jenis. Pertama ashlan, yang merupakan pekerjaan di bidang eksploitasi sumber daya alam. Kedua, ghairu ashlin atau kewiraswastaan. Menurut Ibnu Khaldun, pemasukan murni persoalan uang, benda atau nilai yang masuk setelah bekerja, sedangkan rezeki harus memiliki kriteria tertentu, seperti bagaimana harus bermanfaat dan mendatangkan kebaikan setelah dibelanjakan (al-infaq).

Syaikh Mutawally as-Sya’rawi membagi rezeki menjadi empat tingkatan. Partama, level rezeki yang paling rendah, yaitu harta benda (adna darajatirrizqi) Kedua, rezeki yang tinggi derajatnya, yaitu kesehatan fisik dan mental (a’la daratirrizqi) Ketiga, rezeki yang paling utama, yaitu berupa baiknya kualitas anak keturunan (afdhalurrizqi) Keempat, derajat rezeki yang paling tinggi dan sempurna, yaitu berupa rida Allah Subhanahu Wata’ala Tuhan Semesta Alam (tamamurrizqi).

Manusia sekarang adalah manusia yang semakin uangi hartawi, atau manusia yang mengukur segala sesuatu hanya dengan uang dan harta benda. Karena itu, apa yang mereka cari pertama-tama adalah rezeki berupa uang dan harta benda. Tidak mengherankan hari ini, banyak manusia yang memiliki uang tapi sedikit memiliki kesehatan fisik dan mental, banyak uang banyak anak tapi satu pun tidak punya anak saleh, banyak uang tapi entah dapat atau tidak rida Allah Subhanahu Wata’ala karena prosedur mendapatkannya yang kontroversial, karena memang yang paling diburu manusia hari ini adalah uang dan harta benda, tuhan dan agama baru yang paling banyak disembah dan dianut oleh manusia.

Dalam konteks keislaman terutama di Indonesia hari ini juga semakin berkembang kepada tradisi materialisme. Bagaimana masyarakat Muslim perkotaan benar-benar dilanda oleh wabah individualisme dan materialisme yang serius, kemudian di tengah-tengah meraka muncul para ustaz sedekah yang materialistik dan matematik. Pesakitan yang bersedekah akan sembuh dari penyakitnya lantaran sedekah. Orang yang bersedekah dengan nominal tertentu akan dibalas kontan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dengan nominal yang sudah dikalikan. Sepertinya, satu satunya jalan untuk mengingatkan orang kota akan pentingnya berbagi memang harus dengan pendekatan fisika dan matematika.

Model efek sedekah yang fisik dan matematik itu tidak seluruhnya benar, karena Islam agama dunia akhirat, agamanya ruh dan jasad. Allah Tuhan seluruh alam, bukan Tuhan sebagian alam. Sedekah memang bisa menolak sial (daf’ul bala’) yang bisa ada dimana saja, tidak hanya di alam fisika tetapi juga di alam metafisika seperti buruknya kualitas pikiran dan hati. Allah Subhanahu Wata’ala jarang main fisik di dunia, mainnya kelak setelah manusia mati. Hari-hari di akhirat memang disebut dengan hari pembalasan (yaumul jaza’).

Kalau kita memang harus memburu rezeki dari atas terlebih dahulu, tidak dari bawah, maka rida Allah Subhanahu Wata’ala yang harus menjadi prioritas terlebih dahulu (ridha rabbil ‘aalamin), disusul kemudian rezeki baiknya anak keturunan kita (shalahul abna’) yang harus paling serius kita usahakan sebab rusaknya manusia hari ini dan zamannya. Baiknya kualitas anak keturunan tidak bisa dilepaskan dari persoalan biologis dan sifat organisme, atau genetika. Baiknya kualitas anak keturunan berhubungan dengan baiknya kualitas bapaknya.

صَلاَحٌ اْلاَبْناَءِ مُتَعَلِّقٌ بِصَلاَحِ ألاَباَءْ

Artinya: Baiknya anak keturunan tergantung baiknya bapaknya.

Jadi, kita yang ingin punya anak saleh-salehah, salehkan dulu diri kita sendiri baru kemudian berbicara tentang kesalehan keturunan. Selain persoalan genetika, lingkungan sosial rasanya sangat penting perananya dalam hubungannya dengan baik tidaknya keturunan kita. Bagaimana orang saleh berkata;

مَنْ لَمْ يُعَلَّم أَهْلَهُ وَأَوْلاَدَهُ اَلْحَقَّ قَدْ يأَتِى مَنْ يُعَلِّمُهُمُ اْلباَطِلَ

Artinya: Seseorang yang tidak mengajari keluarga dan anak-anaknya tentang kebenaran, akan datang seseorang yang mengajari mereka kebatilan.

Untuk memperoleh anak-anak yang baik, tidak hanya cukup mengandalkan persiapan dan usaha yang baik, tetapi juga harus banyak berharap dibukakan pintu kebaikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala (fath minallah) sebab anak-anak kita adalah manusia yang dianugerai pikiran yang memungkinkan diberi petunjuk. Anak-anak adalah pemberian dari Allah Subhanahu Wata’ala yang kalau ingin mereka disebut rezeki dari Allah maka harus benar-benar dipikirkan serius tentang kemanfaatan mereka, seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun, yang disebut rezeki adalah yang bermanfaat dan mendatangkan manfaat, yang tidak bermanfaat dan mendatangkan manfaat disebut pemasukan yang diperoleh setelah bekerja. Jadi ungkapan yang benar rasanya adalah; anak saleh rezeki, bukan rezeki anak saleh.